Perjalanan Menuju Keabadian

Perjalanan Menuju Keabadian
Ancaman Kultivator


__ADS_3

Wajar saja kalau Bai Chauzen marah pada anaknya. Memang Bai Yuwen membuat masalah karena pergi tanpa ada kabar. Hingga malam menjelang, membuat Bai Rouyao pun menangis karena merasa bersalah setelah kehilangan adiknya. Walaupun itu kesalahan dari Bai Yuwen sendiri.


Takut karena kemarahan sang ayah, Bai Yuwen hanya mampu menundukan pandangannya. "Maafkan aku, Ayah. Aku ... aku–"


"Cukup!" potong Bai Chauzen lirih. Ia sadar selama ini ia berlaku keras padanya. "Maafkan ayah yang selama ini keras padamu. Tapi ayah hanya ingin kamu menjadi anak yang disiplin dan meneruskan warisan keluarga. Kamu adalah satu-satunya anak lelaki di keluarga ini. Jadi, kau yang akan meneruskan jabatanku sebagai seorang jenderal, suatu hari nanti."


Bai Chauzen sangat bangga karena merupakan salah satu jenderal yang memimpin ribuan prajurit. Karena jabatan itu juga tidak mudah untuk didapatkan. Setidaknya harus memiliki kontribusi besar untuk mencapai tahap itu. Sampai kehilangan banyak hal dari masa kecilnya. Harus benar-benar berlatih militer dan bela diri. Meskipun pernah mendengar tentang orang yang memiliki kekuatan lain di luaran sana. Seperti beberapa sekte yang mempelajari kultivasi dengan berbagai cara. Ada banyak kultivator di dunia yang memiliki kekuatan lebih dari manusia biasa.


"Bai Yuwen! Kaukah itu? Di mana anakku, Bai Yuwen?" Seorang wanita setengah baya datang dengan terburu-buru karena mendengar kalau anaknya sudah pulang. Wanita bernama Li Yihua, seorang yang berasal dari bermarga Li dan menikah dengan marga Bai.


Li Yihua sangat menanti kepulangan sang anak yang pergi sejak kemarin siang tapi semalam tidak pulang. Ia mendengar pernyataan dari Bai Rouyao tidak merasa puas. Karena tidak mungkin karena Bai Rouyao, membuat Bai Yuwen pergi dari rumah. Ia tahu kedekatan kedua anaknya seperti apa. Malahan sering sekali saling mengejek namun masih wajar sebagai kakak dan adik.


Bukan hanya Li Yihua yang tergopoh-gopoh mendatangi anaknya, sebagai seorang kakak yang merasa bersalah pun berlari dengan kain hanfu lebar yang membuatnya semakin sulit. Ia ingin melihat adik yang ia sayangi. Walaupun seringkali bertengkar kecil, ia hanya bisa bermain dengan adiknya.


Di depan pintu masuk kediaman Jendral Bai, semua anggota keluarga berkumpul untuk melihat kepulangan Bai Yuwen. Karena usia yang masih terbilang sangat muda, membuat semua orang khawatir ketika meninggalkan rumah walaupun hanya satu hari.

__ADS_1


"Kamu ke mana saja, Nak? Ibu sampai khawatir denganmu. Juga kakakmu yang terus-terusan menangis karena merasa bersalah gitu," timpal Li Yihua dan langsung memeluk putranya dengan erat.


"Ibu ... aku hanya pergi sebentar saja. Lagian tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku bisa pulang ke rumah kembali, bukan?" balas Bai Yuwen yang memeluk ibunya. Ia melirik ke arah kakak perempuanya yang terlihat bekas menangis.


Bai Rouyao terlihat matanya yang sembab dan tidak bisa dipungkiri, telah menangis sepanjang malam karena tidak berhasil membawa adiknya pulang bersama. Saat itu mereka sedang jalan-jalan tapi sifat sang adik yang selalu kabur-kaburan, membuat sang kakak kerepotan.


"Hei, apa yang terjadi denganmu?" tanya Bai Yuwen pada kakaknya. Ia melepaskan pelukannya dari sang ibu dan memilih menatap wajah kakak perempuannya. "Ah, bagaimana mungkin kakak peduli dengan adikmu yang meninggalkan rumah, kan? Lagian hanya pergi sebentar saja, masa jadi cengeng gitu, sih?"


"Bodoh! Kamu adik yang sangat bodoh! Bai Yuwen bodoh!" tegas Bai Ruyao sambil menghambur ke pelukan sang adik. Rasanya senang karena bisa melihat adiknya kembali. Ia mengakui selama ini ia sangat menyayangi dan adik lebih dari apapun. Tapi rasa egonya yang membuat mereka saling bertengkar. Walaupun pertengkaran mereka masih dalam batas wajar sebagai seorang kakak terhadap adiknya.


"Jendral! Jendral! Jendral! Gawat! Ada serangan!" teriak seorang dari luar. Ia adalah seorang prajurit jaga yang datang untuk melaporkan sesuatu.


Mendengar prajurit yang berteriak-teriak untuk melaporkan, membuat Bai Chauzen bersiap. Ini adalah situasi yang tidak diinginkan siapapun di dunia. Setelah anaknya yang hilang dan belum sempat menanyakannya, malah ada serangan tiba-tiba. Hari ini sudah dipastikan akan ada pertarungan mendadak.


"Tenang ... tenang dulu! Perintahkan semua pasukan untuk bersiap-siap! Pasti ini ulah pemberontak yang kurang ajar! Kita harus beri mereka pelajaran! Kita tunjukan siapa jenderal yang memimpin dan menjaga kabupaten Guangping ini! Tidak mungkin akan ada yang bisa kabur dari pasukan kita!"

__ADS_1


"Tapi Tuan, mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa kita atasi! Mereka adalah para kultivator hebat yang membunuh rakyat!" Pria itu langsung menunduk di hadapan sang jendral. Karena ia merasa tidak mungkin menghadapi para kultivator itu.


"Kurang ajar! Tapi kita tetap bisa mengalahkan mereka! Kita tidak perlu memiliki kekuatan seperti mereka! Kultivator atau iblis sekalipun, tidak menjadi masalah untuk kita! Kita memiliki teknologi yang tidak kalah dengan mereka!"


Kepercayaan diri Bai Chauzen sangat tinggi. Meskipun kalah dalam bidang tenaga dalam dan sejenisnya, ia masih bisa mengalahkan para pemberontak itu. Segera saja ia memanggil penjaga untuk mengambil senjatanya. Setelah mengambil senjata, ia segera pergi meninggalkan kediaman.


Sebagai seorang petugas kekaisaran yang menjaga di kawasan Han Timur Laut, khususnya kota Guangping, membuatnya harus bersiaga melindungi warga. Dengan membawa puluhan pasukan, ia menunggangi kuda untuk bertempur.


Seorang pendekar dengan tingkat kultivasi rendah dan sedang, tengah membuat kekacauan. Mereka berasal dari sebuah sekte yang mana mempelajari ilmu hitam. Dengan meningkatkan energi qi semakin tinggi. Mereka berniat menantang pemerintahan kepemimpinan kaisar Han saat ini. Juga untuk mencari lawan yang sepadan dengan mereka. Sehingga orang-orang dari satu sekte itu ingin menjajal yang katanya di kota Guangping, terdapat jendral yang ditakuti oleh musuh-musuhnya.


"Di mana jenderal kalian, hah? Yang katanya paling hebat di kota Guangping ini? Mana? Mana orangnya? Kami tantang dia untuk menemuiku saat ini juga!" tantang seorang pendekar baru itu. Ambisinya semakin menjadi dan merasa senang karena bisa memporak-porandakan rumah-rumah yang ditemuinya bersama rekan-rekan lain.


"Hahaha! Palingan dia kabur duluan disaat rakyatnya menderita seperti ini, huahahaha!" tawa senang seorang pendekar pria yang bisa menerbangkan pedang ke arah musuhnya. Ia tengah mengancam seseorang dengan pedang yang melayang di depan seorang warga.


"Hei, pendekar aliran hitam dari mana kalian? Beraninya mengganggu kota ini! Para sampah seperti kalian, hanya mengotori kota Guangping yang indah ini!" kecam Bai Chauzen dengan lantang. "Prajurit! Siapkan anak panah!" perintahnya kepada para prajurit yang siap tempur.

__ADS_1


Bahkan pengalaman bertarung Bai Chauzen lebih panjang daripada para pendekar yang berniat menantang itu. Ia ingin memberi pelajaran pada mereka yang merasa paling hebat, hanya dengan kemampuan bertarung. Walau memakai energi qi sekalipun, tidak ada rasa takut karena sudah ratusan kultivator telah ditumbangkan hanya dengan strategi militernya.


***


__ADS_2