
Sebenarnya Bai Yuwen sangat marah pada Hua Fei, karena ucapannya yang arogan. Namun dirinya juga yang salah, setelah melihat gadis itu, malah bersembunyi di semak-semak. Sementara di semak-semak, tidak tahu ada apa saja. Bisa saja ada hewan pengerat atau hewan terbang dan hewan merayap. Apalagi saat ini Bai Yuwen berada di hutan yang belum pernah dilihat.
"Hei, apakah kamu hantu?" tanya Bai Yuwen pada gadis itu. Pasalnya ia merasa berada di hutan yang sangat asing. Tidak seperti berada di kota Guangping yang panas. Di tempatnya saat ini, terasa sejuk dan segar. Meskipun ini pertama kalinya digigit oleh lebah.
"Hahaha ... hantu? Apa kamu pikir aku hantu? Kamu lucu sekali ... aku Hua Fei. Aku biasa main di hutan ini dan bukan hantu seperti yang kamu katakan. Dan sebaliknya, kamu yang hantu! Kamu mengagetkanku saja, hehh."
Hua Fei tidak bisa marah karena merasa kasihan pada Bai Yuwen. Ia menunggu anak lelaki itu keluar dari dalam air.
Bai Yuwen pun keluar dari sungai dengan pakaian yang sudah basah. Badannya yang habis disengat lebah pun menjadi bentol-bentol. Membuat gatal dan nyeri di sekujur tubuhnya. Bocah lelaki itu mendekat ke arah Hua Fei dan saat itu, ia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.
"Wah, cantiknya ...." Tanpa sadar, Bai Yuwen bergumam. Ia terpesona karena kecantikan Hua Fei. Seketika rasa sakitnya pun hilang dengan sendirinya, menatap lama-lama wajah gadis itu.
"Ayo ikuti aku ke rumah. Mungkin ayah bisa mengobati bentol-bentol di badanmu! Asal kau tahu, ayahku paling hebat dalam memberi pengobatan, tahu?" Hua Fei hanya menatap sekilas ke arah Bai Yuwen. Setelah melihat pemuda itu keluar dari air, ia mengajaknya ke rumah.
Hutan yang dihuni oleh beberapa spesies burung warna-warni dan juga berbagai hewan kecil maupun besar. Ada berbagai serangga dan hewan yang sangat langka dan jarang ditemui di tempat lain. Masih berada di wilayah kekaisaran Han, tepatnya di desa Zhuzan. Yang ada sebuah bukit bambu yang sangat lebat. Sepanjang kaki melangkah, Bai Yuwen melihat banyak pohon bambu dengan berbagai jenis. Walaupun tidak semua bambu, ada juga pohon lain seperti umumnya.
"Kita sudah berada di mana? Oh, kenapa di sini banyak pohon bambunya? Apakah tidak gatal kamu tinggal di sini?" tanya Bai Yuwen, penasaran dengan tempat yang dituju dan ditunjukan oleh gadis di depannya.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari gadis yang ditanyainya. Namun gadis itu menunjuk ke arah sebuah pondok yang berada di atas. Pondok itu terbuat dari bambu dan berada di atas pohon persik. Pohon persik itu memiliki batang yang besar dan daunnya yang rimbun, membuat pondok itu terhalangi sebagian.
"Hei, kamu belum memberitahukan namamu. Apakah kamu punya nama? Dan bagaimana bisa kamu datang ke sini? Kami hanya tinggal berdua saja dengan ayahku. Ayahku ada di dalam rumah itu," tunjuk Hua Fei ke arah pondok bambu di atas pohon persik tersebut.
"Namaku Bai Yuwen. Terima kasih karena telah menolongku. Aku juga tidak tahu mengapa aku sampai di sini. Mungkin karena cincin ini. Ini cincin yang aku temukan di atas tumpukan peti buah." Bai Yuwen berkata dengan sejujurnya. Memang benar, yang ia ucapkan kalau cincin itu adalah sebuah cincin yang ia temukan di tempat persembunyiannya.
Entah siapa pemilik dari cincin biru safir yang berada di jari Bai Yuwen. Setelah mendapatkannya, ia malah terjebak di tempat yang tidak diketahui. Namun di tempatnya sekarang, tidak ada yang selalu memarahinya, Bai Rouyao. Wanita yang selalu cerewet dan selalu memarahi Bai Yuwen hampir setiap hari.
"Hahaha! Ku kira namamu Bai-bai. Hei, kenapa namamu hampir sama dengan Bai-bai? Apakah kamu tidak asal mengarang nama, hah?" celetuk Hua Fei, tidak percaya begitu saja. "Lihatlah, Bai-bai, dia memiliki nama yang sama denganmu."
"Kamu jangan bawa Bai-bai pulang ke rumahmu, loh. Dia satu-satunya temanku di sini. Sejak dibawa ayah ke sini, aku tidak punya teman lagi." Hua Fei tidak tahu apa yang di pikiran Bai Yuwen. Namun ia juga tahu, kalau anak lelaki itu ingin burung yang terbang memutarinya itu.
"Tidak ... aku tidak akan membawanya pulang. Eh, kenapa kamu tahu apa yang aku pikirkan?" Setelah mendengar perkataan gadis itu, membuat Bai Yuwen terlonjak kaget.
Ia berhenti menangkap burung yang memiliki nama depan sama sepertinya. Padahal nama Bai itu adalah nama dari keluarganya. Sehingga ada nama burung yang sama seperti nama keluarganya, membuat keinginan untuk memilikinya lebih besar.
"A-Fei, siapa yang kamu bawa itu? Kenapa ada anak yang bisa masuk ke sini? Ini adalah area terlarang, tidak semua orang bisa masuk ke sini." Seorang pria dengan rambut berwarna putih dari atas. Ia berada di teras yang berada pondok.
__ADS_1
"Tidak tahu, Ayah. Dia tiba-tiba saja datang di sungai. Dia kena sengatan lebah di tepi sungai dan kecebur ke sungai. Apakah ayah bisa menolongnya?"
Hua Cheng adalah seorang pria yang tinggal di pondok bambu yang berada di atas pohon persik. Merupakan seorang pendekar dunia persilatan yang telah meninggalkan dunia persilatan. Ia saat ini hanya tinggal berdua dengan anaknya yang masih berusia tujuh tahun. Sama dengan usia Bai Yuwen yang datang tiba-tiba itu.
"Kalian masuklah! Ajak Bai-bai juga ke dalam. Ini sudah hampir malam, jangan main-main di luar!" Hua Cheng membalikan badannya lalu masuk ke dalam pondok.
Pikiran pria itu pun tertuju pada anak muda di hadapannya. Ia sudah tidak melihat orang lain selain anaknya selama ini. Yang ada hanya beberapa hewan yang datang ke rumah. Kadang mereka juga mengacau dan tidak jarang, bermain dengan anaknya.
"Hei, apakah kamu dengar? Ayah sudah menyuruh kita masuk. Ayo kita masuk ke dalam, Bai Yuwen!"
Karena ayahnya juga tidak melarang, membawa orang lain yang membutuhkan pertolongan pun bisa dilakukan. Walaupun dari dalam hati merasa marah dengan Bai Yuwen yang diduga mengintipnya mandi. Meskipun masih anak-anak, Hua Fei sudah berpikir lebih dewasa.
"Wah ... ini rumahnya sangat bagus. Kenapa di sini tidak ada orang lain? Di mana ibumu, A-Fei?" tanya Bai Yuwen. Melihat wajah Hua Fei yang terlihat lebih muda, membuatnya memanggil adik pada gadis itu.
"Ibu? Tidak tahu ada di mana. Mungkin dia sudah berada di alam nirwana, tinggal bersama dengan para dewi. Haha! Kamu tanya apa? Orang dia kan sudah menjadi seorang dewi. Saat aku besar nanti, aku pasti akan melihatnya lagi."
***
__ADS_1