Perjalanan Menuju Keabadian

Perjalanan Menuju Keabadian
Tragedi Pembantaian


__ADS_3

"Sial!" pekik Bai Chauzen. Dengan keadaannya saat ini, sang jenderal masih mampu menggerakkan tubuhnya. Menggenggam tombak dan menyerang dengan kecepatan yang sudah menurun.


"Hahahaha! Baguslah anak-anakku! Bunuh semua yang ada di tempat ini! Kita bunuh semua keluarga jenderal Bai!" Sambil terbang menggunakan sayap buatan, Duan Jia Xu kembali memberikan serangan terhadap Bai Chauzen yang sudah tidak berdaya.


"Kami menikmati pesta ini, Patriak!" sahut seorang pendekar yang tengah membantai beberapa penjaga yang berada di sisi kiri.


"Kita berpesta dengan bermandikan darah, xixixi! Kita balaskan dendam saudara seperguruan kita!" Seorang pendekar wanita menggunakan sebuah senjata panjang dengan pengait di ujungnya.


Dengan kemampuan qinggong digabungkan dengan sayap buatan, membuat serangan dari sekte Huo Xie sulit dihadapi. Lebih banyak prajurit dan pelayan pada akhirnya mengalami kematian. Setelah terkena senjata yang diolesi racun, mereka pun mati mengenaskan. Hanya butuh waktu beberapa saat sampai racun bekerja ke otak. Menyebar melalui pembuluh darah, menjadikan tubuh korban berwarna hitam.


"Di dunia ini, tidak ada yang bisa mengalahkan kami. Karena sudah puluhan tahun berlalu, pendekar yang bisa menggemparkan dunia persilatan sudah tidak ada kabarnya." Duan Jia Xu melihat lawannya terjatuh. Kembali ia melihat Bai Yuwen yang belum sepenuhnya jatuh. Ia pun heran dengan keadaan pemuda itu.


Karena penasaran, wanita itu pun mendekat ke arah Bai Yuwen. Bagaimana mungkin seorang anak yang masih remaja tidak mempan dengan racunnya? Padahal itu bisa membunuh orang biasa. Meskipun orang dewasa yang kemampuan bertarungnya hebat pun tidak akan bisa bertahan selama itu.


"Kau cukup beruntung, anak muda. Tapi sebentar lagi nyawamu akan kubuat melayang. Tidak ada yang bisa menahan racunku selama ini. Meskipun hanya racun yang berkualitas paling rendah sekalipun."


Duan Jia Xu terbang kembali. Kali ini ia membiarkan Bai Yuwen karena berpikir nyawanya akan segera melayang. Ia berhenti di atas atap dan melihat tiga wanita yang ketakutan. Ketiganya merupakan orang yang paling disayangi oleh Bai Yuwen dan Bai Chauzen.

__ADS_1


"Keluarga jenderal Bai selanjutnya? Hemm, tiga wanita ini akan mati segera." Duan Jia Xu melepaskan jarum beracun ke arah ketiga wanita yang ketakutan itu. Memberikan senyuman kemenangan setelah membantai keluarga jenderal yang disukai semua orang.


Selir Xiao dan Li Yihua terkena jarum beracun itu. Namun nasib baik masih bersama Bai Rouyao. Gadis itu menghindari jarum beracun dengan cepat. Walau bukan sengaja menghindar, ia hanya melompat ke depan karena melihat pergerakan di atap.


"Sialan! Gadis busuk itu bisa menghindari seranganku. Tapi cukup cantik juga gadis itu. Andaikan tubuhnya bisa digunakan, aku akan kembali muda dan cantik lagi, hehehe." Duan Jia Xu merusak atap dan terbang mengejar gadis yang dimaksud.


"Ibu, Bibi! Kalian kenapa? Ahh ... apa yang kamu lakukan pada ibu dan bibiku?" Bai Rouyao ketakutan karena wajah wanita yang mengejarnya begitu buruk. Ia juga melihat dengan mata kepalanya sendiri, kedua wanita yang bersamanya telah menghitam dan sudah tidak bernyawa.


"Hei, Gadis cantik ... tenang saja di sana. Aku akan membawamu bersamaku. Ku pastikan tubuhmu ini tidak akan mati begitu saja. Lihatlah tubuh cantik dan wajahmu yang sangat menawan. Mungkin bisa menjadi wadahku agar awet muda. Aku hanya butuh tubuh dan wajahmu untuk menukar nyawamu saja."


"Kakak ... jangan ...." Pandangan Bai Yuwen mulai kabur dan nyawanya sudah diujung tanduk. Namun ia masih bisa berusaha bangkit lagi. Sementara ia melihat mayat di mana-mana.


"Hei, masih belum mati juga kamu, Anak muda? Sayangnya kau bagian dari keluarga jenderal Bai. Maka kau harus mati, bersama dengan dua wanita yang mati mengenaskan di dalam." Duan Jia Xu menatap sinis ke arah Bai Yuwen. Ia sangat senang setelah melihat keluarga Bai tidak berdaya.


"Ku-kurang ajar kau!" Sementara Bai Chauzen yang sudah terkapar dengan darah mengalir di sekujur tubuhnya, masih bisa merangkak untuk mendekati wanita yang membawa anak perempuannya. Ia sudah keracunan cukup parah dan darahnya pun sudah menghitam. Namun ia belum mau mati begitu saja. Setidaknya harus bisa menyelamatkan kedua anaknya.


"Hihihihi! Jenderal Bai ... sekarang anak gadismu akan menjadi ragaku. Aku akan menggunakan tubuh ini untuk menjadi wadah jiwaku. Dengan ritual khusus, aku bisa menjadi muda kembali, seperti seorang gadis muda."

__ADS_1


"Ti-dak a-kan ku biarkan ... kau wanita ter-ku-tuk ...." Bai Chauzen mencoba meraih sang anak dengan tangannya. Apalah daya, tubuhnya tidak bisa digerakkan kembali. Bahkan kaki dan tangannya sudah sangat lemas. Ia hanya bisa melihat dengan nanar keadaan keluarganya.


'Ayah ... Yuwen ... tolong aku. Aku tidak bisa bergerak. Aku tidak mau mati di sini. Kenapa keluarga kita seperti ini? Aku tidak mau mati ... maafkan aku yang tidak bisa berbuat apapun. Aku juga tidak bisa bergerak.' Bai Rouyao hanya bisa membatin dan melihat keadaan dua lelaki yang menjadi ayah dan adiknya.


"Hemm, berarti benar, kamu ini anaknya jenderal Bai? Memang benar, anak seorang jenderal di Kekaisaran Han ini, yang paling cantik adalah anak dari jenderal Bai. Rumor itu memang benar adanya, bukan hanya sekedar rumor belaka."


Duan Jia Xu melihat ke sekeliling, banyak mayat berserakan. Ia sudah membunuh semua penghuni di rumah besar itu. Apalagi bersama dengan anak-anak didiknya yang sudah menyebar dan sudah membunuh seluruh penghuninya.


"Patriak! Kita sudah membunuh semuanya! Kita bisa membakar tempat ini sekarang juga!" Seorang pria dengan sayap buatan menghampiri sang Duan Jia Xu. Bersama dengan para pendekar yang di belakang, ia sudah menyiapkan pembakaran.


"Bagus, bagus! Kalian semua bisa membakar tempat ini. Sekarang tidak ada lagi yang berani berbuat macam-macam dengan sekte Huo Xie kita! Sekte kita akan menjadi sekte terhebat di dunia! Ayo kita biarkan dua orang ini dan kubawa gadis ini sebagai wadah jiwaku yang baru."


"Tidak! Nona muda! Jangan kau bawa dia!" Seorang pelayan yang sadar dari pingsannya datang dengan membawa pisau. Awalnya ia hanya pingsan sebelum terkena racun dari mereka. Karena tidak sadarkan diri, sampai tidak ada yang tahu jika ia masih hidup. Ia berlari untuk menusuk Duan Jia Xu dari belakang.


Bukannya berhasil menusuk wanita itu, yang kena tusukan adalah Bai Rouyao. Itu karena Duan Jia Xu bisa menghindar dengan reflek cepat. Namun ia juga harus kehilangan Bai Rouyao sebagai wadah jiwanya yang baru. Karena terlalu kesal, segera ia membunuh pelayan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2