
Bertahun-tahun telah berlalu semenjak insiden terjadinya pembunuhan masal yang dilakukan oleh Kun Jiasen. Seluruh dunia seakan telah melupakan nama besar dari pendekar pencabut nyawa itu. Seluruh penjuru negeri pun mulai hidup tenang dengan tidak munculnya sang pendekar, dengan nama yang melekat di hati masyarakat sebagai pendekar paling kejam di dunia.
Berkat seruling kematian yang dimiliki oleh Kun Jiasen, semua orang seakan tidak akan melupakan kejadian demi kejadian yang telah dilakukannya. Pemburuan pendekar sepuh itu pun sudah dianggap selesai. Di kekaisaran Han pun tidak ada lagi ancaman itu.
Jauh dari pinggiran kota Guanping, yang berada di provinsi Han Timur, di Kekaisaran Han, seorang anak telah mendengar berita itu. Dia seorang anak berumur tujuh tahun yang bernama Bai Yuwen. Yuwen merupakan seorang anak dari jendral Bai Chauzhen. Saat ini ia sudah sangat malas melihat seorang pendongeng. Ia tidak ingin mendengar dongeng-dongeng yang sudah hampir setiap minggu didengarnya.
"Yuwen, ke mana kamu? Hei, Yuwen! Kakak sudah mencarimu ke berbagai tempat!" Bai Rouyao, seorang wanita yang merupakan kakak dari Bai Yuwen. Dia terlihat sangat anggun dengan kain hanfu yang ia kenakan.
"Uhh, kenapa kak Rou selalu mencariku terus? Aku mau jalan-jalan sebentar. Lagipula tidak ada yang istimewa, belajar di sekolah kerajaan. Lagian di sana tidak ada yang menyenangkan." Bai Yuwen sangat ahli dalam hal bersembunyi. Ia selalu bersembunyi dengan baik dari semua orang.
Kecuali seorang wanita yang sudah hafal betul, di mana keberadaan adik lelakinya itu berada. Bai Rouyao adalah seorang kakak dari Bai Yuwen. Wanita itu bisa menciun bau adiknya dari arah jauh. Di mana ada keramaian, pasti Bai Yuwen berada. Namun anak itu pasti akan tertangkap juga oleh Bai Rouyao.
"Hei, Baiii ... Yuweeennn ... di mana kamu? Kakak tahu ... kamu ada di mana sekarang," lirih Bai Rouyao sambil mengapit bibirnya dengan kedua tangannya. Ia sudah bisa mencium bau adiknya yang sedang makan ayam pegar bakar.
Bai Yuwen tidak bisa melakukan apapun di saat dirinya sedang makan ayam pegar bakar. Namun ia melihat sebuah cincin berwarna biru safir. Ia tertarik dengan warna itu dan segera mengambilnya. Di saat itu juga Bai Rouyao sudah semakin dekat dengannya. Saat Bai Rouyao sudah sangat dekat, Bai Yuwen memakai cincinnya.
__ADS_1
'Aku ingin pergi ke tempat yang sangat tenang, ke tempat yang tidak bisa ditemukan oleh kakakku yang galak ini, di sana bisa melakukan apapun dengan bebas,' batin Bai Yuwen dengan menggosokkan cincinnya sambil memejamkan matanya.
Saat Bai Rouyao membuka tumpukan peti kayu, ia tidak menemukan apapun. Wanita itu mendesis kesal karena ternyata tidak menemukan adiknya yang nakal itu. Namun memang di sana ada potongan ayam pegar bakar. Membuatnya menahan kekesalan lalu meninggalkan tempat itu, untuk mencari keberadaan adiknya.
"Dasar adik sialan! Sudah berkali-kali disuruh belajar, malah tidak mau, huuhhh ... punya adik seperti itu, cocoknya bukan dididik di istana. Mungkin harus dicarikan perguruan silat yang kejam. Awas saja kalau kamu ketemu, Bai Yuwen!" geram Bai Rouyao sambil mengepalkan kedua tangannya.
Tidak disangka, cincin yang ia temukan merupakan cincin teleportasi. Yang memungkinkan seseorang untuk pergi ke tempat jauh dengan hitungan detik. Itu membuat Bai Yuwen berada di sebuah tempat yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Ia berada di sebuah hutan yang terdapat banyak bunga dan pohon besar. Namun di saat yang sama, ia mendengar suara anak perempuan sedang tertawa. Membuat Bai Yuwen penasaran dan mencari sumber suara.
"Apakah aku berada di dunia lain, sekarang? Ah, mengapa aku tidak tahu, ini seperti cincin teleportasi, seperti yang dikatakan oleh paman. Benda ini sangat langka di dunia ini. Apakah ini beneran cincin teleportasi?" Bai Yuwen melihat cincin biru safir itu dengan seksama.
"Hahahaha! Ayo Bai-bai, tangkap aku, tangkap aku, hahahaha! Rasakan ini, rasakan ini, hahaha!" tawa gadis itu memanggil burung warna-warni itu dengan sebutan Bai-bai. Ia menciptakan air itu ke arah burung yang terbang di sekitarnya.
'Bai-bai? Apakah dia tahu, aku di sini? Tapi panggilanku kan Yuwen, dan namaku adalah Bai Yuwen. Duh, ini gadis, kenapa bisa tahu aku di sini? Apa dia memanggil burung itu dengan panggilan Bai-bai?' batin Bai Yuwen bingung.
Karena tidak ingin membuat gadis itu kaget, Bai Yuwen hanya melihat dengan hati-hati. Jangan sampai menimbulkan suara sedikitpun. Walau begitu, rupanya ada segerombolan lebah datang padanya dan membuat panik. Karena panik itulah, Bai Yuwen sampai melompat dan berlari ke sungai. Ia tidak sengaja melihat gadis itu sampai kaget karena melihatnya.
__ADS_1
"Aaahhh! Siapa kamu!" jerit gadis yang bernama Hua Fei. Gadis kecil itu segera menjauh dari lelaki yang tiba-tiba muncul di hadapannya. "Tolong! Tolong!" teriaknya dengan keras. Ia segera keluar dari sungai untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.
Sementara burung warna-warni itu memanggil rekan-rekannya untuk berkumpul dan menutupi tubuh Hua Fei yang tidak mengenakan apapun. Ada beberapa burung yang mengambilkan pakaian Hua Fei dan membawanya padanya.
Karena panik itu, membuat Bai Yuwen melompat ke sungai dan sudah tidak terhitung lagi, berapa banyak lebah yang telah menyengatnya. Walaupun ia sudah ada di air, lebah-lebah yang merasa terganggu itu masih memutari di atas Bai Yuwen yang di dalam air.
"Aaakhh! Lebah sialan! Pergi dari sini! Sakit!" teriak Bai Yuwen sambil menahan sakitnya. Ia lalu menyipratkan air itu pada lebah-lebah itu. Namun tetap saja, ia kembali terkena sengatan lain dan membuatnya kewalahan.
"Bai-bai, tolong usir lebah-lebah itu! Kasihan dia, mungkin lebah itu sudah menyengatnya," perintah Hua Fei pada burung kesayangannya yang bernama Bai-bai.
Burung yang memiliki beberapa warna itu pun mengusir lebah-lebah yang telah mengeroyok Bai Yuwen. Karena lebah sejatinya takut pada burung karena bisa dimakan, membuat mereka pergi setelah memberikan pelajaran bagi Bai Yuwen.
Hua Fei sudah memakai pakaiannya dan merasa lega. Tapi ia tidak tahu, mengapa ada anak laki-laki yang tiba-tiba datang dan membuatnya kaget. Gadis itu melihat anak lelaki itu kesakitan di sekujur tubuhnya. Karena tidak tega, Hua Fei menawarkan bantuan pada anak lelaki itu. Meskipun ia masih kesal dengan anak lelaki yang tiba-tiba muncul itu.
"Hei kamu! Keluar dari sungai! Biar kuobati lukamu!" teriak Hua Fei dengan ekspresi marahnya. Ia menunggu Bai Yuwen keluar dari dalam air sungai.
__ADS_1
***