
Reina tidak mengira, ternyata banyak yang kenal Rin. Meski sudah duduk di pojok, masih banyak yang menyapa Rin. Reina baru tau kalau dulunya mereka teman kerja dan kuliah Rin di Tokyo. Padahal reina mengira Rin dari dulu di Kyoto. Reina juga baru tau kalau Rin pindah warga negara. Dia bukan asli orang Jepang. Tetapi gaya dan tampilan nya seperti orang Jepang. Mungkin karena dia sudah lama disini. Orang-orang yang menyapa Rin banyak yang bilang kalau Rin sudah lama menghilang dan baru muncul sekarang. Reina mencari alasan kenapa Rin meninggalkan tokyo dan tidak ada yang tau.
"Hai Pak Rin, bagaimana kabarnya" Datang sakura sekretaris Shuzu menyapa Rin
"Susah juga bersembunyi, kalau kalian masih mengenali ku. Kabar ku baik" jawab Rin
"Hahahaha, yang berubah cuma rambut mu aja pak lebih panjang sekarang. Yang di sebelah itu siapa pak" tanya sakura
"Dia" lagi-lagi belum sempat ngomong, Reina memperkenalkan dirinya sendiri sebagai pacar Rin
"Aku Reina, pacarnya Rin. Salam kenal" jawab Reina
"Aku sakura, dulu teman kerjanya pak Rin dan sekretaris bu Shuzu" jawab Sakura
"Ternyata Rin dulu kerja sama kak Shuzu" tanya Reina
"Iya, dia asisten pribadi bu Shuzu yang setia. Memangnya pak Rin nggak pernah cerita" jawab Sakura
"Nggak, dia cuma diam aja sama masa lalunya" ucap Reina
"Mungkin dia sudah nggak mau mengenang masa lalu nya" jawab Sakura
"Kenapa memang masa lalunya" tanya Reina
"Sudah-sudah, jangan di terusin lagi. Aib ku ke bongkar semua nanti" Rin mengedipkan mata ke Sakura agar berhenti berbicara masa lalu nya ke Reina
"Ya sudah pak, saya pergi dulu ya. Selamat menikmati pesta" Sakura pamit dari meja Rin
Reina mulai penasaran dengan masa lalu Rin. Pertama dia tidak perduli sama masa lalu Rin. Makin kesini sepertinya ada cerita yang menarik dengan Rin dan Tokyo.
***
Kedua mempelai sudah memasuki ruangan pesta. Para tamu memberi ucapan selamat terhadap kedua mempelai. Acara di mulai dengan ramah tamah antara keluarga dan tamu. Anggota keluarga bergantian memberikan pesan ke mempelai.
Tatapan mata Shuzu tertuju ke satu meja. Dia melihat Rin di meja pojokan. Timbul pertanyaan di dirinya. Kira-kira siapa yang mengundangnya ke sini. Tetapi di sebelah Rin terlihat ada Reina, juniornya waktu kuliah. Mungkin kah mereka berdua bersama datang ke sini. Shuzu sudah tidak berfokus pada acara. Dia terus menatap ke arah Rin, meskipun Rin tidak menyadarinya. Sasaki melihat kakaknya terus menatap ke satu arah. Di ikuti arah mata Shuzu dan ternyata benar dugaan Sasaki. Kakaknya sedang memandang Rin yang dari tadi menunduk tanpa melihat sekelilingnya. Sasaki menghalangi tatapan mata Shuzu dan memberi isyarat untuk Shuzu dengan menggelengkan kepala. Air mata Shuzu tiba-tiba menetes. Sasaki menghampiri kakaknya dan memeluk kakaknya. Para tamu mengira tangisan Shuzu karena bahagia telah menikah. Tetapi itu semua karena Shuzu masih tidak bisa melupakan masa lalunya.
"Sudah kak, kamu juga harus kasihan sama Rin. Dia sudah di hina sama Ayah. Kamu harus bisa merelakan nya. Dia juga sudah memiliki pendamping sekarang" bisik Sasaki untuk kakaknya
Shuzu terdiam saat mendengar kalau Rin sudah memiliki pendamping. Apakah Reina yang di sebelahnya itu adalah pendamping Rin sekarang.
__ADS_1
"Apa wanita yang di sebelahnya itu pacar Rin" tanya Shuzu
"Iya, wanita itu yang bilang sendiri kalau dia pacar Rin" jawab Sasaki
Shuzu menyuruh Sasaki untuk turun. Tatapan mata Shuzu berubah saat tau kalau Rin sudah memiliki pasangan dan pasangannya adalah juniornya sendiri. Tetapi dari gelagat Rin, Shuzu merasa mereka bukan sepasang kekasih. Karena Shuzu tau bagaimana Rin memperlakukan pasangannya.
***
Acara pun usai, para tamu sebagian sudah pulang. Dan sebagian lagi masih mengobrol dengan Teman-temannya. Rin yang dari tadi menunggu acara cepat selesai pun terlihat terburu-buru mengajak Reina keluar. Tetapi Reina menyeret Rin untuk berpamitan ke pengantinnya. Mau tidak mau Rin harus mengikuti Reina. Karena kasihan jika dia harus berpamitan sendiri. Dengan terpaksa Rin ikut berpamitan. Tidak lupa Reina dengan perasaan bangga bersalaman dengan pengantin dan memperkenalkan Rin sebagai pacarnya. Taro kaget melihat Rin, karena laporan dari anak buahnya, Rin sudah tertusuk dan terkapar di jalan. Rin yang tidak tau kalau Taro dalang dari penusukan dirinya. Dia bersalaman dengan Taro seperti tidak apa-apa. Bersalaman dengan Shuzu pun dia terlihat biasa saja. Yang membuat kaget Taro lagi adalah, Reina yang memperkenalkan Rin sebagai pacarnya. Nggak biasanya Reina memacari orang biasa. Pasti ada sesuatu yang di rencanakan Reina. Begitulah pemikiran dari Taro.
Sasaki yang menunggu Rin dan Reina untuk makan malam, memanggil mereka berdua setelah berpamitan dengan pengantin. Di ajaknya Reina dan Rin makan di restoran terdekat.
"Ayo Rin, kita makan malam dulu sebelum kalian pulang" Ajak Sasaki
"Kamu kasih tau alamatnya, aku ambil mobil dulu" jawab Rin
"Masih nyetir sendiri" tanya Sasaki
"Kamu tau sendiri aku nggak pernah mau memakai sopir" jawab Rin
"Ok, aku share lokasinya, kamu nyusul ya" ucap Sasaki
Rin menyuruh Reina menunggu di pintu depan. Sedangkan dia mengambil mobil. Reina yang berdiri sendiri di depan pintu depan. Di dekati oleh seorang pria yang tidak dia kenal.
"Sendirian aja, lagi nunggu siapa" tanya pria itu
"Nunggu pacar ku" jawab Reina
"Masa kamu dah punya pacar, bohong ya. ikut aku aja" paksa Pria itu
Enggak begitu lama Rin datang dengan mobilnya. Dia turun dan menggandeng Reina untuk masuk mobil. Pria tadi menarik Reina.
"Hei, kamu siapa gandeng-gandeng cewek orang" kata pria itu
Karena tau dari tadi Reina di goda dan di paksa pria ini, tinju Rin pun melayang ke muka pria tersebut.
"Dia pacar aku, jangan ngaku-ngaku jadi pacarnya. Kalau nggak percaya kamu tanya dia" keributan pun terjadi antara Rin dan pria yang tak di kenal
Para tamu undangan yang masih berada di situ pun melihat kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi. Teman-teman dari pria tersebut langsung berkumpul untuk membantu temannya. Rin yang sendirian, mengahajar beberapa dari mereka, meski sempat juga Rin terkena pukulan. Tak tinggal diam, Reina memanggil security untuk menyelamatkan Rin. Akhirnya pria tadi di amankan oleh security dan juga teman-temannya. Rin di ajak Reina untuk di obati. Reina mengambil kotak obat di mobil dan mengobati bibir Rin yang terluka.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apakan" tanya Reina
"Kayak gitu sudah biasa, pukulan mereka kayak cewek" jawab Rin
"Perut kamu juga tadi kena pukul, aku lihat dulu ya. Kali aja bekas jahitan mu kenapa-kenapa" ucap Reina khawatir
Shuzu dan Taro pergi ke depan, karena dia mendengar kalau ada perkelahian. Sampai di sana, Shuzu melihat Rin yang sedang di obati oleh Reina. Reina terlihat tampak khawatir dengan keadaan Rin. Dalam benak Shuzu, apakah mereka benar-benar berpacaran. Taro yang tidak mengetahui asal mulai permasalahannya bertanya ke orang yang ada di sana.
"Apa penyebab perkelahian ini" tanya Taro ke seseorang
"Pria yang lagi di obatin itu tadi ngelihat pacarnya di goda pria lain. Terus di hajar sama dia. Tiba-tiba teman pria yang godain itu datang dan membantu menghajar pacar cewek itu. Tetapi semua di hajar balik sama pacar tuh cewek. Sekarang mereka di pos security" jawab seseorang
***
Selesai di obati, Rin mengajak Reina masuk ke mobil dan menuju ke restoran yang sudah di pesan sama Sasaki. Sampai restoran Sasaki melihat Rin seperti habis bertengkar.
"Kamu kenapa Rin" tanya Sasaki
"Tadi dia mukulin orang yang godain aku waktu nunggu dia ngambil mobil, terus dia di keroyok sama teman orang itu" jawab Reina
"Terus gimana sekarang, apa nggak ke rumah sakit dulu" tanya Sasaki khawatir
"Kayak kamu nggak tau aku siapa aja" jawab Rin
"Jangan gitu Rin, lihat pacarmu sampai khawatir" Sasaki melihat raut wajah Reina yang begitu mengkhawatirkan Rin
"Hahahahaha, masak dia khawatir sama aku" Rin masih tidak percaya kalau Reina memang mengkhawatirkan dia
Karena kesal, Reina mencubit perut Rin. Padahal dia sudah sangat khawatir sama Rin, malah Rin nya tidak percaya.
"Dasar bodoh" Reina pun ngambek
"Masa kamu khawatirkan aku" Rin bertanya karena masih tidak percaya
"Kamu itu masih nggak pernah peka sama cewek ya Rin" ucap Hina
"Udah Reina, jangan ngambek. Sudah dari dulu sifat Rin seperti itu. Tidak peka kalau lagi di perhatikan. Apa lagi sama cewek" ucap Hina membujuk Reina agar tidak ngambek
"Emang iya ya aku kayak begitu" jawab Rin bingung sendiri dengan sifatnya
__ADS_1
"Emang kamu nggak pernah berubah Rin, hahahahaha" Sasaki pun tertawa melihat kelakuan temannya ini. Acara makan malam mereka pun di warnai dengan menceritakan kegiatan selama ini selama tidak bertemu.