
Tampak sedih wajah sasaki. Berhari-hari wajahnya masih tetap terlihat sedih. Dia masih belum mau cerita tentang apa yang terjadi di rumahnya saat dia di panggil ayahnya ke ruang kerja. Setiap di tanya Rian, jawabnya cuma enggak apa-apa. Seperti ada suatu masalah. Entah itu masalah kerja, kuliah, atau hubungannya dengan Hina. Pulang kerja Sasaki di ajak Rian jalan-jalan. Agar Sasaki mau menceritakan masalahnya. Di jalan arah mereka mau sampai, Sasaki di chat kakak nya. Isi chat nya dia mau ketemu sama Sasaki. Dia menyuruh kakaknya untuk pergi ke cafe yang dekat dengan tujuannya sama Rian mau healing. Shuzume lalu berangkat ke tempat yang di tunjukan Sasaki. Sudah beberapa hari ini Shuzume masuk kerja meskipun jalannya di bantu sama tongkat. Sampai cafe, Shuzume langsung mencari meja Sasaki sama Rian. Melihat kakaknya ada di depan pintu, Sasaki langsung memanggilnya.
"Kak, aku disini? panggil Sasaki
" Lama ya nunggunya? ujar Shuzume
" Ada perlu apa mencari ku? tanya Sasaki
" Ini tentang masalah yang di rumah kamu sama Ayah'' jawab Shuzume
" Memang ada apa lagi, masih bahas nilai kuliah ku yang berantakan sama keputusan untuk menikah secepatnya" jelas Sasaki kesal
" Mending kamu urusin kuliah dulu, pacaran dulu. jangan mikirin nikah. Biar perusahaan ini bisa di teruskan ke kamu" ucap Shuzume
Rian di sana hanya diam saja karena ini masalah keluarga. Sebenarnya dia mau kasih solusi ke Sasaki. Tetapi dia takut menyinggung perasaan Sasaki. Apa lagi saat ini dia sepertinya masih kesal dengan teguran ayah nya. Tiba-tiba Sasaki berdiri dan pergi meninggalkan kakaknya juga Rian. Rian membiarkan Sasaki pergi. Karena mungkin Sasaki butuh waktu sendiri.
"kamu enggak pulang Shuzume?" tanya Rian
" Iya ini mau pulang" jawab Shuzume
" mau ku antar, sekalian pulang bareng karena kita searah" ajak Rian
Mereka berdua akhirnya pulang bersama dengan naik taksi. Sebenarnya Rian lebih suka naik bus dari pada taksi. Karena kaki Shuzume masih sakit, terpaksa dia naik taksi. Di jalan mereka ngobrol.
"Memang ayah mu melarang Sasaki buat menikah muda itu kenapa ya? bukannya kedua orang tua sudah setuju." tanya Rian
" Sebenarnya ayah ku mau Sasaki itu lebih giat belajar lagi. Agar nanti bisa memimpin perusahaan." jawab Shuzume
" Bukannya itu akan di wariskan ke anak yang lebih tua?" tanya Rian
"Yang benar di serahkan ke anak cowok" jawab Shuzume
"Oh begitu, Ya nanti aku bujuk Sasaki buat lebih giat belajar lagi" ucap Rian
" Makasih ya, kamu disini enggak pernah keluar sama pacar kamu? " tanya Shuzume
" Aku enggak punya pacar di Jepang, fokus cari uang sama sekolah saja, hahahahaha" jawab Rian sambil tertawa
__ADS_1
" Berarti pacar kamu ada di Indonesia?" tanya Shuzume yang penasaran dengan percintaan Rian.
" Dulu pernah waktu masih sekolah. Setahun sebelum ke Jepang, aku sudah enggak punya pacar dan belum mau pacaran." jawab Rian
" Padahal kamu lumayan ganteng loh, ups" Shuzume keceplosan dan dia pun malu
" Ganteng darimana nya, bisa saja kamu tuh" jawab Rian sambel senyum
Lama ngobrol, enggak kerasa mereka sampai di depan rumah Shuzume. Rian membantu Shuzume turun dari taksi. Sebelum pulang, Shuzume mengajak Rian untuk mampir ke rumah. Tetapi Rian menolak dengan alasan ada tugas dari kampus yang belum di kerjakan.
"Rian, aku minta nomer ponsel kamu boleh" tanya Shuzume
" maaf, aku enggak punya ponsel. hehehe" jawab Rian
" terus kalau kamu menghubungi keluarga kamu di Indonesia gimana?" tanya Shuzume lagi
" Di Indonesia Aku sudah enggak punya siapa-siapa lagi. Cuma ada Om, tante dan anak perempuan nya yang sebaya dengan ku" jawab Rian
" Terus kalau aku menghubungimu gimana jika ada perlu?" ucap Shuzume
" Ya sudah kalau begitu, aku masuk duluan ya" ujar Shuzume
" Saya juga mau pamit, selamat malam" jawab Rian sambil. berpamitan.
Malam semakin larut, Sasaki belum pulang. Rian mencoba tuk menghubunginya lewat telpon asrama. Tetapi tidak ada tanggapan. Dia tidak tidur sebelum Sasaki pulang. Takutnya ada apa-apa sama Sasaki. Jam menunjukan pukul 01.00. Akhirnya Sasaki pulang. Tetapi dia pulang sambil mabuk. Rian membantunya buat melepas sepatu dan menidurkannya di kasur. Dalam hati Rian merasa kasihan dengan Sasaki. Mau bagaimana pun Rian tidak bisa ikut campur urusan keluarga mereka. Rian pun tidur.
Esoknya Rian tidak sengaja bertemu Hina dan Keiko di jalan. Rian pun menyapa mereka.
" Hai, apa kabar?" sapa Rian
" Hai juga, Sasaki mana?" tanya Hina
" waduh, yang di cari yang enggak ada. enggak cari aku saja hahahaha" jawab Rian sambil bercanda
" Aku cariin dia karena beberapa hari ini aku enggak bisa hubungin dia" ucap Hina
Ternyata Sasaki tidak menceritakan semua masalahnya ke Hina. Rian mengira kemarin malam Sasaki habis keluar sama Hina.
__ADS_1
" Dia ada di asrama, kamu ke sana saja" ucap Rian
" Ya sudah aku habis ini ke asrama kalian" jawab Hina
Hina dan Keiko pun meneruskan perjalanan mereka. Di tengah jalan, Hina berpisah dengan Keiko. Hina pergi ke asrama Sasaki. Sedangkan Keiko pergi ke tempat dia kerja part time. Tempat kerja Keiko cukup dekat dengan taman. Keiko melihat ada Rian di taman dekat tempat kerjanya. Padahal di situ tempat bermain anak-anak. Rian bermain dengan anak anak kecil. Ternyata Rian suka sama anak-anak. Keiko tidak menyangka seorang cowok seperti Rian suka bermain sama anak-anak. Rian mengajak anak-anak tadi untuk beli es krim di cafe tempat Keiko bekerja.
"Loh, Keiko kerja disini rupanya?" Rian kaget melihat Keiko
"Iya aku kerja di sini part time sama Hina" jawab Keiko
"Bukannya kalian di cafe dekat kampus" tanya Rian
"Sudah pindah udah beberapa minggu ini." jawab Keiko
"Hina nya mana, kok enggak kelihatan?" tanya Rian
"Dia ke asrama nya Sasaki. jadi dia izin sekarang?" jawab Keiko
"Oh begitu, aku pesan es krim lima ya. Buat anak-anak ini" ucap Rian
"Di tunggu ya" jawab Keiko
Rian duduk sama anak-anak tadi sambil menunggu es krim nya jadi. Keiko mencuri curi pandang ke Rian. Masih penasaran sama Rian yang bisa baik sama anak-anak kecil. Biasanya cowok seumuran dia paling suka sama kumpul-kumpul dengan temannya.
"Ini es krim nya sudah jadi, silahkan di nikmati" ucap Keiko
"Bilang makasih sama kak Keiko ya anak-anak" ujar Rian ke anak-anak tadi
"makasih kak Keiko atas es krim nya" ucap anak-anak
"Ya sudah ayo kakak antar ke orang tua kalian" ajak Rian ke anak-anak tadi
"Aku pergi dulu ya Keiko" Pamit Rian
" Iya hati-hati" jawab Keiko
Jam kerja Keiko sudah selesai. Waktunya dia pulang. Dia bersiap-siap dulu sebelum pulang. Setelah selesai membersihkan cafe baru dia pulang. Keiko pulang sendiri karena Hina izin tidak masuk kerja. Jalanan pada malam hari terlihat sepi. Keiko menunggu bus di halte dekat cafe nya. Masih ada jadwal bus terakhir yang Keiko tunggu. Tetapi bus itu tak kunjung datang juga. Dia mencoba mencari taksi, tetapi masih belum dapat juga. Keiko menelpon ibu nya kalau pulang terlambat karena belum dapat bus. Keiko merasa takut sendirian malam-malam di jalanan yang sepi. Di sebrang jalan ada minimarket yang buka 24 jam. Keiko pergi ke sana untuk membeli air minum. Saat menyebrang Keiko tidak melihat ada mobil berkecepatan tinggi. Dia kaget dengan suara klakson itu sampai dia hanya terdiam di tengah jalan. Mobil itu tidak bisa menghindari Keiko yang ada tengah-tengah jalan. Keiko menutup matanya pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada nya. Saat menutup mata, Keiko merasa ada yang menariknya ke belakang dan memeluknya. Tubuhnya gemetar dengan perasaan takutnya. Dia tidak berani membuka matanya. Dengan perlahan Keiko membuka matanya dan melihat ke atas. Dia di tolong seorang pria yang badannya lebih tinggi dari nya. Keiko pun kaget melihat pria yang menolongnya ternyata Rian.
__ADS_1