Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
19.Idola sekolah dan aku di kantin


__ADS_3

setelah pelajaran usai aku dan temanku meninggalkan kelas menuju dimana letak kantin tempat biasa kami membeli sarapan.


- Di Kantin


AKU berpaling dan mendapati Enggar berdiri di sampingku. Sekujur badannya berkeringat dalam balutan seragam olahraga. Dia juga memegangi botol di tanganku.


“Sori, gue duluan yang ambil ini,” kataku.


“Nggak bisa. Gue duluan yang megang.”


“Gue mau beli yang ini,” ujarku berusaha tetap bersikap tenang.


“Gue juga mau beli ini. Lo pilih rasa lain aja. Masih banyak tuh.” Enggar mengedarkan pandang ke arah susunan botol di depan kami.


“Kenapa bukan lo aja yang beli rasa lain?” balasku mengangkat alis.


“Karna gue sukanya yang jambu,” sahut Enggar menggertakkan gigi.


“Ini juga favorit gue. Lo nggak bisa ya ngalah sama cewek?”suami macam apa ini kenapa tak bisa mengalah sedikit saja🤔batinya


“Lo aja yang ngalah. Ini masalah selera, nggak ada hubungannya soal cewek atau cowok,” kata Enggar keras kepala.


“Nyolot amat sih lo!” seruku mulai jengkel.


Enggar mendelik. “Lo duluan yang mulai nyolot!”


“Mau ngajak ribut lo?” tantangku berkacak pinggang. Oke, aku sadar sikapku ini memang kekanakan.


“Lo pikir gue takut karna lo cewek?” Sudut bibir Enggar sedikit terangkat untuk mengejekku.


“Dan lo pikir gue nggak berani karna gue cewek?”


Ibarat dalam cerita komik, sekarang ini kami seakan-akan sedang memancarkan sengatan listrik dari mata masing-masing.


Aku memanfaatkan itu untuk menyambar botol teh rasa jambu. Tetapi, ternyata enggar menebak tindakanku. Dia mencekal tanganku dan menahannya di udara. Sial, padahal sedikit lagi aku berhasil meraihnya.


“Lo mau ngapain, hah?”

__ADS_1


“Lepasin tangan gue.”


“Nggak bakal gue biarin lo ambil minuman gue,istri nakalku,” kata Enggar bernada mengancam,pelan ditelinga najwa


“Apa? Minuman lo? Gue duluan yang mau beli itu sebelum lo dateng,” balasku tak mau kalah.


“Buktinya gue duluan yang megang.”


“Gue yang duluan.”


“Gue dulu!”


“Gue!”


Enggar sudah membuka mulut. Tetapi, ada suara lain yang menyelanya.


“nggar.” Richard mendekati kami dan melepas pegangan Enggar di tanganku. “Nggak perlu berantem karna minuman kan? Lo nggak malu adu mulut sama junior? Cewek lagi.”


“Lo nggak usah ikut campur,rich. Ogah gue ngalah sama cewek macam dia!” Enggar menunjuk hidungku dengan tatapan galak.


“Apa maksud lo cewek macam gue? Lagian kebetulan gue juga males ngalah sama lo,suami tak punya hati!” sahutku tak kalah garang.pelan


“Cewek macem lo ya kayak lo. Beringas. Nggak jauh beda sama macan. Pantesnya lo tuh tinggal di ragunan, bukannya sekolahan.”


Oke, dia keterlaluan. Aku disamakan dengan seekor macan? Saat ini darah di seluruh badanku terasa sudah mengalir naik ke ubun-ubun. “Dasar mulut beo. Nyinyir kayak ibu-ibu lagi gosip,” balasku.


Enggar menatapku dengan wajah syok sesaat. Kemudian rasanya aku bisa melihat ada percikan api muncul di matanya. “Lo....”


Aku merasa ucapannya belum mencapai titik. Tetapi, entah mengapa dia tidak menyelesaikannya.


“Apa? Lo belum pernah lihat macan ngamuk?”


“Ooh, gue takut....” cibir Enggar bernada mengejek, bukannya takut. Benar-benar membuat rasa kesal memenuhi kepalaku. Kemudian ekspresi angkuh muncul di wajahnya sambil mengangkat botol. “Jelasnya, gue yang dapet ini.”


Aku tertawa. “Ambil aja. Gue nggak suka yang rasa anggur.”


Enggar memeriksa label botol di tangannya dan membelalak. Detik berikutnya dia melotot padaku. Aku balas memelototinya. Alhasil, selama beberapa waktu kami saling melempar pandangan sengit. Kemudian, seakan-akan ada yang memberi komando, kami sama-sama berpaling untuk memperebutkan minuman yang ternyata sudah tidak ada di tempatnya semula.

__ADS_1


Aku menoleh pada Enggar yang juga sibuk mencari. Saat pandangan kami bertemu, lagi-lagi kami saling melempar tatapan galak.


“Nasi soto kamu hampir dingin lho, Naj,” ujar Mbak Asri yang kembali lagi setelah meracik pesanan orang lain. “Teh rasa jambunya udah ada yang beli. Kalian pilih rasa lain aja.”


“Siapa yang beli?” tanyaku dan Enggar pada waktu yang sama. Kami saling melotot sesaat, lalu sama-sama menoleh ke arah yang ditunjuk Mbak Asri menggunakan dagunya.


Aku hanya bisa menelan ludah melihat cowok berseragam setelan olahraga lain meneguk teh rasa jambu favoritku hingga habis dan membuang botolnya ke keranjang sampah.


Aku memutar badan. Rasanya ingin sekali menendang tulang kering cowok di depanku.


“Ini gara-gara lo!” bentakku dan Enggar berbarengan. Sama-sama sebal.


Kuembuskan napas panjang untuk meredam denyutan di pelipisku. Lantas meraih air mineral ukuran paling kecil terdekat, yang ternyata dilakukan juga oleh Enggar. Hanya saja kali ini kami mengambil botol berbeda. Tanpa aba-aba, kami saling memalingkan muka. Tanganku yang bebas mengulurkan uang pada Mbak Asri, kemudian meraih mangkuk nasi soto dan beranjak pergi. Melupakan bungkusan kerupuk udang yang tadi sempat kupilih.


viola menyongsongku menuju bangku panjang yang masih kosong,entah mengapa cewek yg selalu mengejar cinta kakel disekolah ini menjadi baik meski sedikit,atau hanya Ngin mengambil hati seorang Enggar, Sementara itu, sudut mataku melihat Enggar dan Richard, Kevin, Rocky pergi meninggalkan kantin diikuti cewek-cewek penggemar mereka.


“Lo apa-apaan sih berantem sama Kak Enggar? Dilihatin banyak orang, tau. Jangan kaget kalau ntar penggemarnya musuhin lo,” celutuk viola duduk di seberangku.


“Termasuk lo?”


viola cengengesan. “Gue sih malah seneng kalau lo nggak ada rasa sama Kak Enggar.”


Alisku sedikit naik. Tidak bisa memahami maksud perkataan viola.


“Yah, karna lo sepertinya nggak bakalan jatuh cinta sama Kak Enggar. Dengan gitu kan kita nggak perlu jadi saingan, kan?” Senyum viola makin melebar seakan-akan baru saja menang lotre liburan ke Eropa gratis. “Eh, tapi kalo ntar gue bisa pacaran sama Kak Enggar, kalian jangan cekcok terus ya? Mesti akur.”


Aku mendengus.


“Anehnya, meski lagi marah, Kak Enggar tetep aja kelihatan ganteng. Asli, kenapa sih ada cowok sekeren dia di dunia ini? Gue ngerasa lagi ada di negeri dongeng. Bikin gue galau banget,” kata viola seakan baru saja bertemu pangeran berkuda putih, bukannya cowok yang bicara kasar pada sahabatnya. Untungnya dia tidak lantas bernyanyi seperti tokoh utma dalam film-film Disney.


“Bentar ya, gue mau pesen bakso dulu,” lanjutnya seraya bangkit mendekati meja saji.


Mulutku menganga. viola memang hebat dalam hal membuatku tidak bisa berkata-kata. Aku sungguh tak habis pikir bagaimana bisa dia—dan ratusan cewek di sekolah ini—tergila-gila pada Enggar, cowok kasar yang tidak mau mengalah pada cewek, keras kepala, dan galaknya minta ampun itu. Memangnya penampilan fisik menjadi satu-satunya hal yang dipertimbangkan dalam urusan jatuh cinta? Kurasa tidak. Seganteng apapun cowok itu, aku tidak bisa membayangkan diriku mampu menjalin hubungan dengan orang yang akan mengajakku bertengkar hanya karena sebotol minuman.


Ah, tetapi mungkin saja pemikiran semacam itu memang berlaku untuk viola dan rekan-rekan penggemarnya.


Selanjutnya.......

__ADS_1


__ADS_2