
Sementara berbincang bincang, ponsel Iki berdering, Iki segera menekan icon hijau dan tak lupa speaker. "Halo, Gio." sapa Iki.
"Iya, Iki. Maaf, aku menganggu waktu kamu malam-malam. Aku menghubungimu karena ingin memberi saran. Bagaimana jika aku membuka warkop. Uangnya aku transfer langsung ke kamu, siapa tahu kamu butuh uang untuk beli obat dan segala macamnya."
Iki menatap orang tuanya. Mama Riana mengangguk setuju. Begitu juga dengan Papa Simon. "Iya, Gio. Aku percayakan semuanya padamu. Nanti aku transfer uang untuk kamu belanja bahan-bahan yang habis."
"Nggak perlu, nanti aku gunakan uang di tabunganku dulu. Kembali dari Makassar baru kamu ganti," ujar Gio.
.
.
Di saat keluarga sudah terlelap, Iki masih terjaga menatap Nina. Berat rasanya untuk pulang, tapi dia juga harus sekolah dan melanjutkan usaha mereka. Iki tidak mau menjadi beban orang tuanya. Terlebih menjadi beban orang tua Nina.
__ADS_1
Berulang kali menguap, akhirnya ia ikut terlelap. Pagi menyapa, Iki bangun saat dokter datang memeriksa kondisi Nina. Nina yang dijadwalkan akan menjalankan operasi dua hari mendatang, terpaksa di tunda lantaran dokter masih di luar kota. Sementara Iki sudah harus pulang ke Bacan.
"Ma__" sedikit bergetar, Iki memanggil sang Mama. Dia tidak mau pulang, tapi bagaimana dengan sekolahnya. "A_aku___" menitikkan air mata. "Boleh aku tetap di sini?" lirihnya.
"Iki, kamu harus kembali. Kamu harus sekolah, Sayang. Kamu jangan takut, kan ada Mama dan Papa yang jaga aku di sini. Ya__ kamu pulang ya." Tersenyum, Nina yang penglihatannya kembali buram, tak bisa menatap wajah Iki dengan jelas.
Menangis, Iki memeluk Nina di hadapan keluarganya. "Kamu harus janji, kamu akan melewati semuanya. Kamu harus lawan penyakitmu," ujar Iki.
Sebelum ke Bandara, Iki mengeluarkan kartu ATM nya lalu menyerahkannya pada Mama Sarah. "Mama, di dalam sini ada 90 juta lebih. Jika uang ini kurang, aku mohon pada Mama untuk cukupi. Aku akan menggantinya setelah aku punya uang nanti."
"Tapi, Ma_"
"Nggak ada tapi tapian, sekarang kamu pamit pada Nina. Mama dan Papa tunggu di luar," ujar Mama Sarah lalu menarik Papa Nawan keluar dari sana. Mama Riana juga ikut keluar, sengaja memberi ruang pada Nina dan Iki.
__ADS_1
Iki mendekati Nina, meraih tangan wanita itu lalu menciumnya. Menangis, Iki menangis tersedu sedu. "Nina, aku ingin di sini–tapi Mama nyuruh aku pulang." Mengadu, Iki terlihat seperti anak kecil di mata Nina hingga Nina menertawainya.
"Aku serius, Nina. Aku ingin di sini bersamamu. Tolong bujuk Mama."
"Iki, bukan hanya Mama yang ingin kamu pulang, akupun ingin kamu pulang. Aku titip Sukini ya, jaga adikku dengan baik. Ingat, saat kamu sampai di sana nanti kamu jangan dekat-dekat Novi, aku cemburu." ujar Nina dengan Jujur.
Iki mengangguk. Memeluk erat Nina, dan tak lupa menciumnya. Dibalas ciuman di tangan oleh Nina.
"Sampai jumpa istriku," lirih Iki.
"Sampai jumpa suamiku," balas Nina tersenyum.
"Tuhan, lindungi suamiku. Semoga dia tiba dengan selamat di tempat tujuan," batin Nina berdoa.
__ADS_1
Walau berat meninggalkan istrinya yang sakit, Iki tetap keluar dari ruangan Nina. Menangis di depan pintu, hatinya masih menolak untuk pulang.