
Menyadari kehadiran Nina, Novi tersenyum ke arah Nina. Nina membalas senyum dari Novi lalu menghampiri Gio. Mata Nina tak lepas dari Iki dan Novi. Ingin sekali dia mencabik cabik wajah Rifki saat ini juga namun dia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. Dia harus bisa terlihat baik-baik saja. Dia harus menguasai dirinya agar Rifki tidak tahu bila dia cemburu. Andai dia dan Rifki masih berstatus sahabat, maka Nina tidak akan sungkan melabrak Novi.
"Suru tidur di luar," bisik Gio.
Nina mengernyit–dia menatap Gio yang menampilkan senyum seraya merapikan meja dapur. "Maksud kamu apa?" tanya Nina. Lalu terdiam. "Jangan bilang Gio tahu kalau aku dan Iki___" batin Nina, menggelengkan kepala dengan cepat. "Apa yang kamu ketahui?" Nina mendekati Gio.
Tertawa, Gio enggan menjawab. Melihat Gio tak menjawab, Nina semakin kesal. "Gio ... jawab dung .., jangan buat aku penisirin," cemberut sejenak, kemudian menarik senyum. "Cepat beritahu aku! Kalau nggak!" ancamnya memelototi Gio.
"Gio ..." rengek Nina.
Gio tersenyum dan melupakan Nina. Pasalnya ada pengunjung yang tak lain adalah pelajar. Dilihat dari seragam yang dikenakannya, sepertinya dia anak SMK Kelautan. Nyatanya, Gio mengenal anak kelautan itu.
"Bro, nugget satu dan es teh satu. Kalau bisa, biarkan wanita itu yang menyiapkannya untukku," kata anak kelautan itu namanya Bima. Dia tersenyum pada Nina yang sementara memperhatikan Iki dan Novi.
Gio menghampiri Nina. "Nugget dan es teh, Nina, Sayang. Nanti aja baru labrak, Iki, oke!" Menampilkan senyum, Gio dengan sengaja membuat Nina kesal.
Nina menyiapkan nugget lalu menyiapkan es teh. Selesai, Gio mengantar pesanan Bima. "Bro, silahkan. Mau dihubungkan?" tanya Gio pada Bima.
__ADS_1
"Iya, apa kodenya?" tanya Bima.
"Apa kodenya" jawab Gio, tak lupa mengulum senyum.
Bima terlihat mengambil napas berat. "Iya, Gio ..., apa sandinya Gio Sayang ...." geram Bima.
"Sandinya itu, apa kodenya, nggak pake spasi ya," jelas Gio.
Terkekeh, Bima mulai konek. Pria itu segera menghubungkan wifi dengan ponselnya. Kemudian menikmati nugget dan es teh buatan Nina. "Gio, sini bentar," panggil Bima.
Gio segera menghampiri. "Ada apa, Bima?" tanya Gio setelah duduk di depan Bima.
"Aku nggak berani kirim tanpa seizinnya, Bro. Soalnya dia itu Harimau. Nanti aku tanya orangnya dulu," jelas Gio.
"Oke, Bro. Sana lanjut kerja," ucap Bika kebetulan ada empat pengunjung yang baru datang.
Melihat banyak pelanggan, Iki yang tadinya menemani Novi segera membantu Nina menyiapkan pesanan pelanggan. "Nanti malam baru aku jelaskan," ucap Iki dekat Nina.
__ADS_1
"Nggak perlu!" ketus Nina pelan.
Membawa pesanan pelanggan, Nina melewati Gio yang tertawa kecil. Dengan hati-hati, dia meletakkan beberapa menu di atas meja. Memberi tahu kode WiFi kemudian kembali ke tempat awal. Berdiri di samping Gio, Nina mengabaikan kehadiran Iki.
"Nina, sana kamu istirahat. Nanti malam baru kamu jaga," ujar Iki.
Tanpa menjawab iya atau ya, Nina menarik langkah ke lantai dua. Dia merebahkan diri di atas spring bed dua badan. Mengingat kembali Novi dan Iki, emosi Nina kembali membuncah. Dia ingin mengumpat namun pintu tiba-tiba terbuka, menoleh pada pintu, dia mendapati Rifki.
"Kamu kenapa?" tanya Iki menghampiri Nina namun Nina berpindah tempat.
"Nina, jangan kek anak kecil. Coba katakan padaku, kamu kenapa? Kenapa kamu menghindari ku? Apa karena Novi?" menatap Nina penuh tanya, Iki mendekat.
"Stop!" seru Nina menunjuk Iki. "Jangan mendekat, aku nggak suka sama kamu!" desisnya lalu keluar dari kamar. Turun ke lantai satu, sudah tidak ada Novi di sana. Entah wanita itu sudah pulang atau kemana, Nina pun tak tahu dan tak ingin tahu.
"Dia sudah pulang. Tapi sebelum dia pulang, dia titip ini padaku. Katanya buat Iki," Gio menyerahkan satu amplop untuk Nina.
"Apa isinya ini?" tanya Nina penasaran.
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu," jawab Gio menaikkan bahu.