Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 31


__ADS_3

Jam sekolah telah usai, Rifki dan Nina pulang ke warkop. Begitu juga dengan Gio. Gio sudah tahu hubungan Nina dan Iki. Begitu juga dengan Nina dan Iki, mereka sudah tahu bahwasanya rahasia mereka telah diketahui oleh Gio.


"Jaga rahasia kami,"


Itulah permintaan Iki saat Gio bertanya tentang hubungannya dengan Nina. Mengiyakan, Gio berjanji akan menjaga rahasia sahabatnya itu. Dan berhubung pemasukan dalam sebulan mencapai 60 juta, gaji Gio dinaikan–dari ratusan ribu jadi jutaan. Berhubung banyak pelanggan dan mereka menerima pesanan antar jemput, mereka pun menambah karyawan dan Sinta adalah karyawan itu.


Nina beristirahat di kamar karena wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Kepalanya sakit bahkan dia muntah muntah. Mendengar Nina muntah, Gio menatap Iki yang sementara menyiapkan minuman untuk pelanggan.


"Yakin kalian belum melakukannya?" tanya Gio menaruh curiga.


"Daripada kamu bertanya terus, lebih baik kamu antarkan minuman ini di meja 8. Aku temui Nina dulu," ujar Iki. Lalu ke lantai dua.


Sinta yang sudah selesai menghubungkan wifi di ponsel pelanggan segera menghampiri Gio. Ingin bertanya namun dia takut dugaannya salah. "Nina sakit apa? Kenapa dia nggak pulang saja."


"Kepalanya sakit. Kamu tahu sendiri kan bagaimana Nina, dia keras kepala sekali. Mana mau dia jauh-jauh sama Iki, yang ada dia nangis tujuh hari tujuh malam," balas Gio.

__ADS_1


"Gio, aku rasa Nina dan Iki punya hubungan spesial deh. Aku lihat Iki kok kek gimana ya ... aku bingung mau jelasinnya–tapi yang pasti, aku pernah lihat mereka," Sinta mendekati Gio. "Berpelukan di kamar," sambungnya berbisik.


Degh!! Gio terdiam. Dia sudah berjanji, dia tidak akan memberitahu siapa siapa. Tanpa Gio ketahui, Sinta juga mulai curiga sejak pertama kali mereka membersihkan Warkop Niki. Cincin yang dijadikan liontin oleh Nina dan cincin yang ada di jari manis Iki, itu bukan cincin biasa. Cincin itu menghadirkan tanya dalam benak Sinta. Dan pertanyaan itu terjawab setelah melihat Nina selalu bermalam di Warkop bersama Iki.


"Kamu sembunyikan sesuatu dari aku kan? Ayo ngaku!" tuding Sinta terus mendekati Gio.


"Sekalipun Sinta pacar aku, aku harus memegang teguh janjiku pada Iki dan Nina. Aku nggak boleh beritahu siapapun tentang status Nina dan Iki," batin Gio.


Terkekeh, Gio menyentil jidat Sinta hingga wanita itu meringis. "Kamu ini suka sekali curiga sama orang! Sana belajar," Gio memelototi Sinta.


Cemberut, namun menurut. Itulah Sinta, dia mengeluarkan bukunya lalu belajar. Dia dan Gio telah membuat rencana, mereka berdua akan ke Bandung setelah ujian semester nanti.


"Iya, Iki. Kepalaku masih sakit. Ki, kita pulang ke rumah yuk," balas Nina nampak lesu.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini, aku cari taxi dulu," ujar Iki segera beranjak keluar dari kamar. Setelah menghentikan taxi, Iki kembali ke dalam warkop–menarik langka ke lantai dua, dia menggendong Nina turun dari kamar.

__ADS_1


Dugaan Sinta semakin fiks, dia membantu membuka pintu mobil. "Iki, Nina mau dibawa ke mana?" tanya Sinta.


"Ke rumah. Sinta, Gio, aku percayakan usaha kita ini pada kalian berdua. Tutup jam 6 sore nanti, kuncinya kalian pegang, besok baru aku ambil," ujar Iki. Lalu masuk ke dalam mobil.


Setibanya di depan rumah, Iki segera keluar membuka pintu pagar. Melihat Mama Sarah, Iki segera meminta bantuan Mama mertuanya itu.


"Iki, Nina kenapa, Nak?" tanya Mama Sarah.


"Aku juga nggak tahu, Ma. Katanya kepalanya sakit, dia juga muntah muntah terus," jawab Iki menjelaskan.


Degh! Mama Sarah terdiam hingga panggilan Iki menyadarkan Mama Sarah. "Ah iya," Mama Sarah segera membuka pintu mobil.


Rifki kembali menggendong Nina masuk ke dalam rumah. Tanpa mengenal lelah, dia membawa Nina ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Setelah membaringkan Nina, Iki mulai merasakan pegal pegal.


"Iki, apa Nina ___" Mama Sarah menatap serius menantunya itu.

__ADS_1


"Aku berani bersumpah, Ma,–kami belum melakukannya," ungkap Iki.


Degh! Mama Sarah kembali terdiam. "Apa waktu itu Nina membohongi kami? Apa pria itu berhasil menodai Nina?" gumam Mama Sarah dalam hatinya.


__ADS_2