Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 39


__ADS_3

Bacan/Halmahera Selatan


Niat hati ingin kembali menyusul, namun apa yang dikatakan Nina membuat Iki harus tetap di Bacan. Lewat layar, dia menyaksikan Nina tidur. Melihat Nina yang terbaring di hospital bed, Iki menitikkan air mata.


Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah, Iki menghubungi orang tuanya, bertanya tentang jadwal operasi kapan. Sedikit lega saat dia tahu, Nina akan operasi dalam waktu dekat.


"Iki, gimana keadaan, Nina?" tanya Gio saat Iki tiba di sekolah dan duduk di gazebo depan kelas tiga.


"Penglihatannya semakin bermasalah," lirih Iki. Berulang kali dia mengedipkan mata untuk tidak menangis. "Tapi kata dokter, Nina bisa melihat secara normal setelah operasi nanti. Hanya saja, operasinya harus dilaksanakan sebelum saraf matanya semakin pucat."


"Lalu kapan Nina akan menjalani operasi?" tanya Gio lagi.


"Hari Rabu pagi," jawab Iki.


.


.


Makassar/Sulawesi Selatan


Rabu pagi, Nina sudah di dalam ruang operasi. Beberapa dokter sudah siap menjalankan operasi pengangkatan tumor. Di luar, keluarga terus memanjatkan doa. Terutama Mama Riana dan Mama Sarah yang terus meninggikan doa mereka. Hampir tiga jam menunggu, akhirnya operasi selesai walau selama tindakan Nina membutuhkan transfusi darah.

__ADS_1


Nina dipindahkan di ruang intensive care unit (ICU) dengan fasilitas yang lengkap. Sehari di ICU, dan selanjutnya Nina di rawat di ruang rawat Inap sambil menunggu hasil pemeriksaan patologi anatomi untuk mendapatkan diagnosa pastinya yang akan menentukan arah terapi selanjutnya.


Bacan/Halmahera Selatan


Pulang sekolah Iki langsung ke Amasing Kali memberi uang pada adik iparnya yang katanya uang jajannya habis. Sementara Mama Sarah dan Papa Nawan sibuk mengurusi Nina hingga mereka tidak memegang ponsel. Iki lah satu satunya tempat Sukini meminta bantuan.


"Kak, nanti Mama kirim uang baru aku ganti ya," lirih Sukini menunduk malu. Dia memang orangnya pemalu, tidak seperti Nina.


"Nggak perlu di ganti. Kamu sih, udah krisis tapi nggak mau hubungi Kakak. Atau kamu tinggal aja sama Kakak di warkop. Kamu di lantai dua Kakak di lantai satu. Nanti Kakak yang ngantar kamu ke sekolah. Kalau dari sini terlalu jauh," ujar Iki.


"Nggak perlu, Kak. Aku nggak mau nyusahin Kakak," tolak Sukini.


Rifki segera melakukan panggilan telepon. Tak berapa lama, Mama Riana menjawab panggilan darinya. "Halo, Ma–ada Mama Sarah di situ?" tanya Iki.


"Bisa kasi ponselnya ke Mama Sarah? Aku mau bicara bentar sama Mama Sarah."


"Halo, Iki. Ini Mama, bagaimana, Nak?"


"Ma, aku panggil Sukini tinggal sama aku di warkop ya. Nanti dia tidur di lantai dua sama Sinta. Kasihan Sukini, jarak rumah Om dan sekolahnya jauh sekali," jelas Iki.


"Kalau ada Sinta, mama izinin. Kalau nggak ada Sinta, Mama nggak izinin."

__ADS_1


"Iya, Ma. Tadi aku udah bahas sama Sinta, dan dia mau tidur bersama Sukini," ungkap Iki.


Fiks, Sukini jadi tinggal di warkop bersama Iki, Sinta, dan juga Gio. Saat ini Sukini sudah dalam perjalanan ke warkop. Setibanya di warkop, Iki membawa Sukini masuk ke dalam.


"Sinta, temani adik aku ke atas dong. Setelah itu kalian berdua pergi makan. Ini uang," Iki menyerahkan uang dengan nominal seratus ribu pada Sinta. Lalu Iki keluar menerima panggilan telepon dari Mama Riana.


.


.


Waktu terus bergulir, Nina yang terus rutin menjalani terapi sudah diperbolehkan pulang. Dia sudah tidak sabar bertemu Iki, suaminya. Nina sengaja tidak memberitahu Iki jika hari ini dia akan pulang bersama kedua orang tuanya. Karena Mama Riana sudah pulang sejam yang lalu di Surabaya. Tentu kepulangan Mama Riana juga dirahasiakan dari Iki.


"Nina, katakan pada Mama jika kamu menginginkan sesuatu," ucap Mama Sarah.


"Iya, Ma," balas Nina tersenyum.


Papa Nawan memasukkan barang bawaan mereka ke bagasi mobil, semua barang sudah di masukkan semua, beliau masuk memanggil anak dan istrinya. "Ayo, kita harus ke Bandara sekarang," ajak Papa Nawan.


Berjalan keluar dari rumah sakit, Papa Nawan menggenggam tangan kanan Nina. "Hari hari ya, Sayang."


"Iya, Papa," balas Nina tersenyum.

__ADS_1


"Tuhan, terima kasih telah menitipkan aku pada Mama dan Papa yang cintanya begitu luas. Aku beruntung terlahir di tengah tengah keluarga yang begitu mensyukuri hadirnya titipanmu. Semoga rasa sakit ini benar-benar menghilang, agar aku dapat membahagiakan mereka. Karena aku tahu, kebahagian Mama dan Papa adalah saat melihatku bahagia," gumam Nina dalam hatinya.


__ADS_2