Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 28


__ADS_3

Pulang dari sekolah, Nina dan Rifki jalan-jalan terlebih dahulu. Kedua pasutri muda itu ke toko Bandung melihat lihat jualan di sana. Hanya melihat, bukannya membeli, itulah niat awal Nina saat akan ke toko Bandung. Namun apa yang terjadi, Nina menyukai satu baju pria dan dia ingin membelinya untuk suaminya.


"Kesana yuk." Nina menarik tangan Iki.


"Bukannya kita sudah dari sana," ujar Iki.


Tanpa menjawab, Nina terus menarik Iki. Dia berhenti di salah satu toko yang menjual pakaian pria. Kaos oblong putih, itulah warna kesukaan Rifki. "Mbak, bisa saya lihat baju kaos yang itu?" Nina menunjuk satu baju kaos bertuliskan Eiger pada bagian depannya.


"Bisa," penjual menurunkan baju yang ditunjuk oleh Nina.


Mengambil baju dari tangan penjual, Nina memasangkan baju itu di tubuh Iki. "Sayang, sepertinya ini cocok. Kamu suka nggak?" tanya Nina sambil menatap baju tersebut.


"Mbak, baju ini couple apa nggak?" tanya Iki tanpa menjawab pertanyaan Nina.


"Couple, Dek. Ini baju untuk ceweknya." Penjual memperlihatkan baju untuk wanitanya.


Melihat dengan teliti, Iki mengajak Nina mencobanya. Keduanya keluar dengan pakaian yang mereka suka. Mengambil gambar, lalu kembali ke ruang ganti. Fiks, mereka akan membeli baju couple yang mereka coba.


"Mbak, tolong dibungkus ya. Berapa totalnya?" tanya Iki.


"250, Dek," jawab si penjual.


Nina hendak mengeluarkan uangnya namun dicegah oleh Iki. Iki mengeluarkan dompetnya kemudian membayar tagihan. Setelah membeli baju couple, keduanya mencari penjual es krim. Kebetulan ada penjual es krim di bagian depan Toko Bandung. Niat hati membeli es krim namun yang dibeli adalah bakso.


"Aku yang traktir ya," ucap Nina mengambil tempat di kursi.


"Iya," sahut Iki.


"Mas, bakso telurnya dua, ya," ucap Nina pada penjual bakso. Sementara menunggu pesanan, Haikal dan Novi masuk di warung yang sama. Melihat Rifki, Novi salah tingkah. Novi mengenakan pakaian seragam sementara Haikal mengenakan pakaian rumahan.

__ADS_1


"Iki, Nina. Ternyata kalian di sini juga, boleh gabung?" tanya Haikal.


"Silahkan," balas Iki.


Haikal duduk di samping Iki sementara Novi duduk di samping Nina. Haikal memesan dua porsi bakso yang sama dengan yang dipesan Iki. Duduk bersama dengan mantan, Haikal jadi salah tingkah, terlebih dia mengingat kejadian yang memalukan yang pernah ia lakukan. Ingin memulai obrolan namun Haikal tak tahu harus memulai dari mana.


"Iki, coba baca ini." Nina memperlihatkan pesan masuk dari Mama Sarah.


Iki membacanya dan mengangguk. "Bilang iya," ujar Iki.


Nina segera membalas pesan dari Mama Sarah. Kemudian menyimpan ponselnya setelah Mas penjual bakso meletakkan pesanan mereka di atas meja. Segera wanita itu meraih botol kecap namun dihalangi oleh Iki.


"Duduk dan tenang di tempat," tegas Iki. Iki menuangkan kecap, saos tomat, dan beberapa bahan lainnya dalam mangkuk bakso. "Kamu nggak boleh makan yang pedas pedas. Jadi cukup begini saja," sambung Iki seraya meletakkan mangkuk baksonya di depan Nina, lalu dia mengambil bagian Nina.


"Terima kasih," ucap Nina tersenyum lalu mencicipi bakso yang telah dihidangkan.


Melihat perlakuan Iki pada Nina, Novi menahan kesal. Dia tidak suka pemandangan saat ini. Andai tidak ada Haikal, maka saat ini juga Novi akan pergi dari sana. Sementara Haikal menyimpulkan, sikap Iki bukan hanya tentang persahabatan, melainkan ada cinta di dalamnya. Benar dengan tidaknya, itulah yang Haikal simpulkan setelah menyadari sikap Iki selama mereka di sekolah yang sama hingga detik ini.


"Ada, Mas. Mau?" penjual balik bertanya.


"Iya, Mas. Kalau ada dua ya," ujar Iki.


"Ini, Mas," penjual bakso meletakan aqua gelas di atas meja.


Iki mengucapkan terima kasih, kemudian mengambil sedotan. Memberi sedikit lubang pada Aqua gelas, lalu meletakkannya di depan Nina. "Jangan terburu buru makannya," ujar Iki mengingatkan.


Novi semakin mempercepat makannya, dia benar benar panas menyaksikan Iki perduli pada Nina–wanita yang Novi benci setengah mati. Kembali pada Haikal, dia hanya bisa mengulum senyum seraya menikmati baksonya.


"Haikal, ayo kita pulang!" ajak Novi sedikit ketus. Boleh dikata Haikal belum membayar tagihan bakso.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Haikal melihat ekspresi Novi yang aneh. Mengeluarkan uang dari dompet, lalu membayar tagihan.


"Udah, nggak usah banyak tanya. Ayo kita pulang!" Novi menarik langka keluar.


"Iki, Nina, kami duluan ya. Nanti malam aku ke warkop," ujar Iki pamit.


"Iya, Haikal. Hati-hati di jalan," balas Iki.


Sepeninggal Novi dan Haikal, Nina menatap Iki. "Kamu sengaja kan berlaku seperti tadi agar Novi cemburu. Iya kan!" tuding Nina menatap serius Iki.


"Pikiranmu terlalu jauh." Iki mengeluarkan dompetnya dan hendak membayar tagihan namun seperti kata Nina tadi, dia yang akan mentraktir Iki.


Membayar tagihan, kemudian keluar dari warung. Meninggalkan Iki sendirian, Nina kembali masuk ke dalam Toko Bandung. Dia berjalan tanpa tujuan di ikuti Iki dari belakang.


"Ada ya, orang cemburu begini sekali kelakuannya, putar putar tanpa tujuan. Apa dia nggak cape? Ini sudah keempat kalinya dia melewati lorong ini," gumam Iki namun masih setia mengikuti Nina dari belakang. Melihat Nina menghentikan langka, Iki segera mendekat. "Ayo, aku rasa kamu salah paham lagi." Iki menggenggam tangan Nina–membawa wanita itu keluar dari Toko Bandung. "Aku melakukannya dengan setulus hati, bukan untuk memanas manasi Novi ataupun Haikal. Kamu istriku, bukan. Nggak ada salahnya aku berlaku seperti tadi. Jadi sudah ya ngambeknya."


"Bilang aja kamu marah melihat Novi bersama Haikal," tuding Nina. Lalu naik di atas motor.


"Sepertinya dia akan kedatangan tamu. Emosinya dari kemarin naik turun," gumam Iki. Dia tahu betul bagaimana Nina saat akan kedatangan tamu.


Mengendarai motor dengan kecepatan sedang, Iki berhenti di depan swalayan. Dia masuk ke dalamnya mencari pembalut untuk Nina yang menunggu tanpa bertanya di depan. Keluar dengan menenteng sesuatu, lalu menggantungnya di bagian depan. Nina masih enggan bertanya–dia masih kesal pada Iki.


Setibanya di warkop, Nina langsung saja masuk menuju lantai dua tanpa menunggu Iki maupun menyapa Gio yang kebetulan berpapasan dengannya. Gio yang melihat pun hanya bisa menghela napas panjang. "Dasar wanita, pasti ngambek lagi," gumam Gio.


"Dia kenapa?" tanya Sinta yang kebetulan ada di warkop.


"Kedatangan tamu jadi emosinya naik turun. Aku ke lantai atas dulu," jawab Iki. Lalu menarik langkah ke lantai dua. Mendapati Nina merajuk, Iki menarik senyum dikedua sudut bibirnya. Iki mendekati Nina yang bersembunyi dibalik selimut. Masuk di dalamnya, dia mendaratkan ciuman singkat di bibir Nina.


"Masih mau ngambek?" tanya Iki setelah mencium lama istrinya.

__ADS_1


Menggeleng, Nina kembali menampilkan senyum. "Jangan suka cium tanpa izin!" ketusnya kemudian.


"Heh? Bukannya tadi dia menikmatinya. Kenapa sekarang kembali ketus." batin Iki terheran heran. "Dasar wanita!" sambungnya masih membatin.


__ADS_2