Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Ending


__ADS_3

Tetangga telah pulang, begitu juga dengan guru dan teman-teman Iki. Di rumah, menyisakan keluarga Nina dan keluarga Iki. Ya, keluarga Iki. Mereka semua datang saat mendengar kabar duka. Duduk diruang keluarga, semua mata tertuju pada Iki yang menunduk.


"Ma, aku ke kamar dulu." Tanpa menunggu jawaban, Iki beranjak lalu menaiki anak anak tangga satu persatu. Netra matanya kembali berkaca kaca. Tangisnya semakin menjadi saat dia sudah di dalam kamar.


"Nina, kenapa cepat sekali kamu pergi. Kita bahkan belum merencanakan bagaimana kedepannya." lirih Iki. Terisak, Iki menatap foto Nina dan dirinya.


.


.


Tak terasa, sudah seminggu kepergian Nina. Dan sudah seminggu pula Iki tidak masuk sekolah dan mengurung diri di kamar. Dia duda, tapi duda yang masih perjaka. Sungguh, dia tak menyangka, akan menyandang gelar menyakitkan itu.


"Iki, buka pintu, Sayang. Jangan seperti ini, Nak. Nina akan semakin sedih melihatmu begini. Ayo bukan pintunya, Sayang." nasehat Mama Riana. Dan terus mengetuk pintu kamar putranya.


Di dalam, Iki duduk di kursi belajarnya, tatapnya tak lepas dari foto Nina. "Sudah seminggu ya, Nin. Sudah seminggu kamu ninggalin aku." lirih Iki.


"Nina, aku berangkat sekolah dulu ya. Kamu tenang aja, aku yang akan melanjutkan cita citamu. Kamu ingin jadi dokter kan? Aku akan memenuhinya." ujar Iki mengelus pelan foto Nina.

__ADS_1


Bersiap siap, Iki mengenakan pakaian seragamnya. Tak lupa mengambil tas, juga menyelipkan foto Nina di belakang casing hpnya, Iki menarik langkah keluar dari kamar. Tak ada senyum, apalagi canda dan tawa. Dia seperti sosok baru. Hingga Mama Riana pun mempertanyakan itu.


"Iki, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Mama Riana.


"Iya, Ma." sahut Iki singkat.


"Apa kamu akan ikut kami pindah ke Bandung?" tanya Papa Simon.


"Nggak, Pa. Aku akan tetap di sini sampai lulus sekolah. Pa, jangan jual rumah ini ya." pinta Iki. Mengangguk, Papa Simon mengiyakan.


"Nina, aku berangkat sekolah dulu ya," batin Iki. Melihat helem yang sering Nina kenakan, Iki jadi sedih hingga meneteskan air mata.


"Kak, Iki–aku boleh nebeng?" tanya Sukini yang tiba-tiba menghampiri Iki.


"Hmm," balas Iki dengan singkat lalu menyerahkan helem pada Sukini.


"Apa Kakak lupa, aku nggak bisa kenakan helem sendiri," ucap Sukini cemberut.

__ADS_1


Menghela napas, Iki membantu memakaikan Sukini helem. Melihat Sukini, Iki seperti melihat Nina. "Sukini, cukup hari ini saja aku mengantarmu ke sekolah, selanjutnya kamu minta Mama saja yang antar kamu." ujar Iki. Bukannya dia tidak mau mengantar adik iparnya itu, tapi dia punya alasan lain.


"Iya," lirih Sukini.


Sukini naik di atas motor, tak ada perbincangan yang berlangsung saat di jalan. Iki terus diam, begitu juga dengan Sukini yang tak ingin membuat Iki semakin sedih. Tiba di sekolah, Sukini berpamitan lalu bergegas masuk ke kelasnya. Sementara Iki langsung ke kantin Ci Wia. Dia mengambil dia bungkus nasi kuning. Anggap saja satu porsi untuk Nina.


"Ci, minumannya seperti biasa ya," ujar Iki.


"Iya, Iki." Ci Wia menatap Iki sekilas sebelum membuatkan es mangga untuk Iki.


"Nina, selamat makan," lirih Iki pelan namun masih bisa di dengar oleh Ci Wia yang berdiri tak jauh dari Iki. Ci Wia menitikkan air mata.


"Iki, ini," lirih Ci Wia kemudian meletakan segelas es mangga. Kemudian kembali ke tempatnya semula.


"Nina, istriku. Maafkan aku yang belum sempat membahagiakanmu." batin Iki.


Bel pagi terdengar, Iki segera masuk ke dalam barisan. Dia masih berdiri di tempat biasa. Namun di sebelahnya tak seperti biasanya. Tak ada lagi yang berdiri di sana. Sedih, hatinya teramat sakit. Sayup sayup terdengar seseorang memanggilnya, Iki menoleh, bayangan itu seperti nyata, Nina–wanita itu berdiri di sampingnya. Dia tersenyum, seperti cahaya putih yang berkilau.

__ADS_1


__ADS_2