
Di rumah orang tua Nina, Mama Sarah menatap setiap sudut kamar putrinya. Ada rasa rindu juga penyesalan. Dia menyesal telah gagal mendidik putrinya. Memperkenalkan padanya bahwa pacaran itu tiada gunanya. Andai dia ketat mengawasi Nina, mungkin saat ini wanita itu masih menjadi putri kecilnya.
"Mama kangen Kakak?" tanya Sukini. Dia juga merindukan Kakaknya. Padahal baru beberapa minggu dia dan Nina terpisah.
"Iya, Sayang. Mama kangen Kakak kamu," jawab Mama Sarah. Segera wanita itu menyeka bulir yang sempat menetes.
"Ma, kenapa Mama dan Papa nggak ajak Kakak dan Abang tinggal dengan kita?" tanya Sukini. Dia masih polos, hingga pertanyaannya pun sepolos parasnya.
"Kakak udah nikah sama Abang Iki. Orang yang sudah menikah, sudah diharuskan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri." jelas Mama Sarah.
Sukini menitikkan air mata. Entah apa yang mengganggu pikirannya. "Mama, Abang Iki kan masih sekolah. Bagaimana dengan Kak Nina, Kak Nina pengen jadi dokter. Lalu siapa yang akan membiayai Kak Nina?"
Mama Sarah tersenyum. "Soal itu, Mama dan orang tua Abang Iki telah membahasnya. Mama akan membiayai Kakak kamu, dan orang tua Abang Iki akan membiayai Abang Iki."
Sukini menyeka air matanya. "Aku tenang sekarang, Ma. Akhirnya Kak Nina bisa lanjut sekolah. Mama sih, nggak jelasin dari dulu. Tahu gitu aku nggak perlu sedih lihat Kak Nina nikah muda." Cemberut, Sukini menarik tangan Mamanya keluar dari kamar Nina.
Kembali ke sekolah SMK Aktif Belajar. Nina mengekori Rifki yang ke TKJ. Wanita itu tidak mau Rifki dekat-dekat dengan Novi. Dia bisa saja tidak bersikap seperti saat ini, tapi perasaannya sudah diketahui oleh Rifki. Menyadari Nina mengikutinya, Rifki berbalik ke belakang dan mendapati Nina.
"Hehehehe," Rifki terkekeh. "Ayo, jangan kek penguntit," mengulurkan tangan, Nina segera meraihnya.
__ADS_1
Jalan berduaan menuju kelas Dika, Nina dan Iki seperti pasangan kekasih. Namun sebenarnya mereka adalah pasangan suami istri. Masuk ke dalam kelas, keduanya tak memperdulikan tatapan Novi yang tak suka melihat kedekatan Nina dan Rifki.
"Iki ...." seseorang dari pintu berlari membuka tangan lebar.
"Eitssss, hanya aku yang boleh memeluk sahabatku!" Nina menahan Ana.
Ana mendengus kesal. Sementara Rifki dan Dika tertawa. Terkecuali Novi yang menatap tak suka pada Nina. Wanita itu benar-benar tak menyukai Nina. Bukan hanya baru hari ini, tapi sudah sejak dulu.
"Dasar nggak tahu malu, ngakunya sahabat tapi centil di depan sahabat!" batin Novi.
Belum juga keluar dari kelas, Clara dan kawan kawannya datang. Termasuk Alan yang dari akutansi. Clara terus mengumpat saat Alan tak henti hentinya mengganggu dirinya. "Alan! Sekali lagi kamu cubit pipiku, aku lapor Pak Denis!" ancam Clara.
"Ayo kita ke perpus, aku malas di sini. Alan bikin aku kesal terus," ujar Clara menarik tangan Sinta.
"Clara, aku dan Sinta mau membahas masa depan, jadi kamu ke perpus sendirian saja. Atau kamu ajak Alan, dia kan jomblo sama kek kamu," ujar Gio.
Cemberut, Clara merengek pada Sinta. Keasikan bercanda, mereka mengabaikan kehadiran Novi yang duduk di samping Dika. Hingga kedatangan Yuna menyadarkan Sinta dan Clara bahwasanya Novi telah menjadi siswi SMK.
"Sejak kamu kamu jadi anak TKJ?" tanya Sinta pada Novi. Karena saat Novi masih pacaran dengan Rifki, Novi terus datang di SMK, sejak saat itu Novi dan juga Clara serta Nina saling kenal. Sementara Novi dan Yuna saling mengenal setelah Yuna mengenal berpacaran dengan Dika.
__ADS_1
"Baru hari ini," balas Novi.
"Wah ..." Clara bersorak. "Selamat datang di SMK, Beb," sambung Clara.
Bel masuk kembali terdengar, Nina dan Rifki serta Gio dan Sinta kembali ke kelas, begitu juga dengan Alan, Clara dan juga Yuna. Duduk di kursi masing-masing, Nina menyenggol lengan Iki. Dia menunggu Iki menatapnya namun Iki tak jua menatapnya. Baru juga Nina ingin protes, tapi Buk Leli sudah masuk saja. Terpaksa Nina menahan kekesalannya.
"Fokus belajar, Sayang." tulis Iki di bukunya lalu menggesernya di meja Nina.
"Aku nggak bisa, tapi akan aku coba," tulis Nina lalu mengembalikan buku Iki.
"Kalau nggak bisa jangan dipaksa, biar aku yang fokus, nanti aku jelaskan ke kamu saat malam nanti," tulis Iki lagi.
"Oke, kalau begitu izinkan aku melirik mu sekali kali (gambar senyum)," tulis Nina lagi.
"Boleh, tapi jangan keseringan. Takutnya kamu nggak kuat nahan godaan (Gambar tertawa)" tulis Iki lalu menggeser bukunya lagi pada Nina.
Iki menatap Nina sejenak, tersenyum lalu kembali menatap ke depan. Sementara tangan kanannya meraih tangan kiri Nina. Berpegangan tangan hingga jam mengajar Ibu Leli selesai. Ibu Leli keluar dari kelas, Iki menjauhkan tangannya dari tangan Nina.
"Nanti malam ya," bisik Nina.
__ADS_1