
Sementara sarapan, group sekolah dihebohkan dengan kabar duka yang datang dari salah satu siswa TKJ. Nina dan Rifki yang belum melihat isi group, mereka berdua sedang tertawa di lantai satu. Hingga dering telepon yang berulang kali didengar oleh Nina.
"Iki, sepertinya ponsel kamu berdering," ujar Nina.
Iki memasang telinga dan benar saja, dia mendengar ponselnya berdering. Segera dia naik ke kamar dan mengambilnya. "Dika?" gumamnya pelan.
Melakukan panggilan balik, Dika di seberang sana menjawab dengan cepat. "Dika, ada apa? Tumben pagi-pagi nelepon. Aku masih di rumah, ini baru mau berangkat."
"Kamu udah baca group sekolah?" tanya Dika.
Kedua kening Iki saling bertaut. "Group? Belum. Memangnya ada apa?" tanya Iki penasaran.
"Novi meninggal, Iki. Sementara Haikal sekarang masih di rawat di Rumah Sakit. Katanya mereka kecelakaan semalam tapi pagi ini baru ada kabar tentang mereka," jelas Dika.
.
.
__ADS_1
Berhubung Nina baru kembali dari pengobatan, Rifki tidak mengizinkan Nina untuk ikut melayat. Rifki pergi bersama teman-temannya dan juga guru mereka. Datang ke tempat Novi, mereka melihat rumah Novi ramai.
Setelah pemakaman, Rifki dan yang lain kembali ke sekolah. Berhubung penyebab meninggalnya Novi akibat kecelakaan, Kepala Sekolah pun mengumpulkan semua siswa untuk apel di depan kantor. Ya, karena sekolah SMK Aktif Belajar hanya terdiri satu lantai.
"Bapak memang bukan Bapak kandung kalian, dan Ibu guru kalian bukanlah Ibu kandung kalian. Tapi besar harapan kami, kalian semua sehat dan dapat menyelesaikan masa pendidikan kalian di sini. Bapak akui, semua yang terjadi sudahlah takdir Tuhan, namun–tidak ada salahnya kita semua berusaha melindungi diri kita. Anak-anakku, apa kalian tahu apa yang ditakutkan oleh orang tua kalian? Semua orang tua, paling takut anaknya hamil diluar nikah atau anaknya menghamili anak orang lain. Jadi Bapak mohon pada kalian, sewajarnya saja jika berpacaran. Cukup kalian SMS san, teleponan, jangan lagi keluar malam berduaan."
Banyak nasehat dari kepala Sekolah, juga dari guru-guru yang lain. Usai apel, Kepala Sekolah memulangkan semua siswi juga siswa. Dengan catatan, semuanya kembali ke rumah masing-masing.
Saat ini, Rifki, Gio dan Sinta dalam perjalanan ke Warkop. Mereka tetap akan membuka Warkop, karena itulah pekerjaan yang menghasilkan uang untuk mereka. Tiba di warkop, Rifki berunding dengan Gio dan Sinta, dia ingin menambah pegawai karena dia ingin menemani Nina di rumah.
"Iya, Iki. Bagaimana kalau kita tanya Dika saja, kasihan dia–Ibunya nikah lagi dan Ayahnya pergi entah ke mana. Mana dia punya adik yang masih kecil," usul Gio.
"Jangan nangis ya, nanti Abang belikan adek mainan. Tapi nggak sekarang, nanti ya, kalau Abang sudah punya uang," ucap Dika pada adiknya baru berusia empat tahun itu.
Mendengar itu, Iki menatap Gio dan Sinta. Mereka sepakat akan memperkerjakan Dika. "Dika," panggil Iki.
"Ah, maaf Iki. Iya, bagaimana?" tanya Dika.
__ADS_1
"Ini, aku mau cari karyawan untuk membantu Sinta dan Gio, jadi kalau kamu butuh pekerjaan, kamu bisa bekerja di Warkop. Bagaimana?" jelas Iki lalu bertanya.
"Aku mau, Iki. Kapan aku bisa masuk kerja?"
"Besok, besok kamu sudah bisa masuk kerja. Kalau adik kamu nggak ada yang jaga, kamu bisa bawa dia di sini." jelas Iki.
Demi apa, saat ini Dika sangar senang. Saking senangnya, dia memeluk adiknya itu. "Abang udah dapat pekerjaan, kalau gajian nanti, Abang belikan Mila mainan dan tas sekolah."
.
.
Iki pulang ke rumah setelah dari warkop. Tiba di rumah, dia melihat banyak tetangga di luar. Samar samar terdengar Mama Sarah menangis histeris menyebut nama Nina. Seketika jantung Iki seakan terpukul, dia berlari masuk ke dalam rumah Mama Sarah.
"Ma, Nina kenapa, Ma?" tanya Iki yang masih kebingungan.
"Iki, Nina, Iki ... Nina nggak ada lagi," jawab Mama Sarah.
__ADS_1
Degh!! Seketika dunia Rifki seakan runtuh. Dia mendekat dan menangis memeluk Nina. "Nina bangun, Nina .... Jangan tinggalin aku, Nina ... jangan!"
"Nina bangun ...." teriak Iki. Memeluk jasad Nina, Iki tak henti hentinya menangis. Baru tadi dia berencana mengajak Nina jalan-jalan, membelikan makanan yang Nina suka. Dan pastinya dia akan mengajak Nina ke Bandung.