Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 33


__ADS_3

"Andai aku bilang kalau apa yang kamu katakan itu nggak benar, apa kamu akan percaya?" tanya Rifki lagi.


Nina terkekeh. "Sedikit. Tapi tunggu," Nina menjauhkan kepalanya dari bahu Iki lalu duduk menatap sahabat sekaligus suaminya itu. "Apa sekarang kamu mencintai wanita lain?"


Rifki mengangguk. "Sebenarnya sudah lama, tapi dia mencintai pria lain," lirih Iki.


"Kenapa kamu jujur bangat sih! Kamu kan tahu aku suka sama kamu!" ketus Nina dengan manik mata berkaca kaca.


Iki bersikap acuh tahu. "Kan kamu sahabat aku, Nina. Jadi gini, aku tuh suka bangat sama dia–tapi aku nggak berani ungkapin perasaan aku. Menurut kamu, aku ngomong langsung ke dia atau aku pendam saja perasaanku?" menatap Nina yang mulai termakan api cemburu, Rifki menahan tawa.


"Kalau kamu suka, ya kenapa nggak kamu ungkapin perasaan kamu," ujar Nina berusaha untuk tidak cengeng saat ini.

__ADS_1


"Oke baiklah, aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku padanya," ujar Iki tersenyum.


"Aku pergi dulu," ujar Nina lalu beranjak pergi meninggalkan Iki sendirian. Nina ke gedung belakang sekolah tepatnya di dibelakang gedung SMK Aktif Belajar. Di sana dia bertemu Zeto–entah apa yang terjadi pada pria itu namun tangannya diperban. Ingin pergi dari sana namun Zeto mencegahnya.


"Aku nggak akan ganggu kamu, Nina. Aku tahu, perbuatanku waktu itu nggak baik. Nggak seharusnya aku melecehkan perempuan. Sekali lagi maafkan aku," lirih Zeto. Lalu dia meninggalkan Nina seorang diri.


Melihat Zeto tak biasanya, Nina terdiam bahkan menaruh belas kasih pada pria itu. Terlebih mengingat cerita Masya beberapa waktu lalu. "Kasihan Zeto," gumam Nina.


Zeto mengambil tasnya lalu keluar dari kelas. Dia memilih pulang daripada berlama lama di sekolah. Toh apa yang mau dia lakukan di sekolah? Dia sudah ujian nasional. Pergi dengan pikiran kosong, Zeto akhirnya sampai di indekosnya. Menangis, pria itu menangisi garis tangan yang dijalaninya saat ini.


"Aku cariin kamu tapi nggak nemu. Kamu darimana saja?" tanya Iki pelan.

__ADS_1


"Aku di belakang sekolah bersama Zeto," jawab Nina singkat.


Terdiam, Iki mulai duduk dengan benar. Dia menyimpan ponselnya, mengeluarkan buku catatannya kemudian membacanya kembali. Begitu juga dengan Nina yang tak mau banyak bacot.


Ibu Leli masuk, membagikan soal kemudian duduk dengan tenang di depan. Dari banyaknya siswa di dalam kelas, Nina yang duluan selesai. Berhubung hanya dua mata pelajaran, Nina pun memilih pulang lebih dulu. Dia pulang ke rumah dengan menaiki angkot.


Di sekolah, Iki mencari keberadaan Nina. Dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Nina namun Nina tak menjawab panggilan darinya. Merasa cemas, Iki menghubungi orang tua Nina namun mereka memberi jawaban yang berhasil membuat Rifki cemas.


"Kamu di mana sayang," gumam Iki. Iki pulang ke rumah dan mendapati Nina di kamar sedang tidur. Bahkan wanita itu masih dengan pakaian seragamnya.


"Nina, kamu kenapa? Kenapa nggak nunggu aku pulang. Apa kamu sakit?" tanya Iki terlihat cemas.

__ADS_1


Walau kepalanya terasa sakit, Nina enggan memberitahu. Dia memilih menyembunyikan sakitnya daripada memberitahu Rifki. Terus menutup mata, Nina benar benar tak ingin berbicara. Semakin berganti jam, kepala Nina semakin sakit. Bahkan dia kembali ingin muntah.


"Tuhan, ada apa denganku? Kenapa akhir akhir ini kepala ku sering sakit," gumam Nina dalam hati.


__ADS_2