
Kompleks BTN Sirna, Jln Bunga Sari Blok A2/2, Rifki dan Nina sudah di rumah orang tua mereka–tepatnya malam hari. Duduk bersama di ruang keluarga, mereka berbincang perihal rencana mereka. Akankah mereka tinggal di warkop atau mau tinggal di rumah sebelah. Papa Nawan sengaja bertanya seperti itu karena kebetulan ruko di samping warkop Niki ada yang kosong, maksudnya kosong penghuni. Jika Rifki dan Nina mau menetap di warkop, Papa Nawan akan menyewa ruko tersebut untuk Rifki dan Nina memperluas bisnis mereka.
"Papa serius?" tanya Nina tak kalah serius.
"Iya, Sayang. Kemarin Papa sengaja lewat ingin singah juga tapi lihat banyak pelanggan Papa nggak jadi singgah. Bagaimana, kalian setuju?" Papa Nawan menatap Nina lalu Rifki.
"Bagaimana?" bisik Nina pada Iki.
Setela bernegosiasi antara Nina dan Rifki, kedua pasangan muda itu mengambil keputusan. Nina menghela napas pelan kemudian menatap sang Papa. Tersenyum, dia mengangguk tanda setuju. "Tapi Papa yang bayar sewa pertama kan, Pa, bukan kami."
Tersenyum, Papa Nawan mengiyakan. "Yasudah, sekarang kalian istirahat," ucap Papa Nawan.
Nina dan Iki naik ke kamar Nina. Kamar itu masih seperti dulu, tidak ada yang berubah. Semua barang kesayangan Nina masih tertata rapi pada tempatnya. Seperti biasa, keduanya tidur di kamar yang sama hingga pagi menyapa. Nina bangun lebih awal membantu Mama Sarah menyiapkan sarapan. Melihat perubahan sang putri, Mama Sarah turut bahagia. Terlebih saat melihat berat badan putrinya naik, itu lebih dari kata bahagia. Membuktikan bahwa Rifki menafkahi Nina dengan baik atau dengan kata lain, Nina nyaman bersama Rifki.
"Udah lebar aja anak Mama ini. Rifki kasi makan kamu apa." Mama Sarah sengaja memancing sang putri.
Nina terkekeh. "Yang pasti makanan, Ma. Rifki masih seperti dulu, baik bangat."
__ADS_1
Mengangguk paham, Mama Sarah tersenyum. Senang rasanya melihat sang putri bahagia. Bukankah itu yang semua orang tua inginkan, melihat anak anaknya bahagia. "Jangan suka mengumbar aib suami pada orang lain, apalagi di sosmed. Ingat, kamu harus menjaga nama baik Iki. Jadi jagalah sikap kamu sekalipun orang lain nggak tahu kamu dan Iki suami istri. Jika ada yang bertanya bagaimana Iki, entah sikapnya, atau apanya, kamu cukup ceritakan yang baik-baiknya saja." Nasehat Mama Sarah.
"Iya, Ma," sahut Nina paham.
Rifki turun dari kamar, begitu juga dengan Papa Nawan. Kedua pria itu mengambil tempat di ruang keluarga. Lalu Nina dari arah dapur membawakan dua gelas teh juga roti yang Mama Sarah buat. Meletakkannya di atas meja, kemudian mempersilahkan Papa dan suaminya untuk menikmatinya.
Kembali ke dapur, Nina menghampiri sang Mama yang masih bergelut dengan sadar gulung kesukaan Papa Nawan. "Mama, aku boleh curhat nggak?"
"Boleh," jawab Mama Sarah.
"Jadi aku tuh udah jatuh cinta sama Iki, Ma. Anehnya, Ma, aku kok mau dekat-dekat terus ya sama Iki. Kalau lihat Iki dekat sama teman-teman wanita yang lain kok aku cemburu ya, Ma. Padahal dulu saat aku masih pacaran sama Haikal dan juga Zeto, aku cemburu sih iya, tapi nggak sampai nangis kek saat aku cemburu terhadap Iki. Aku masih waras kan, Ma?" Nina menatap serius Mama Sarah.
"Jadi itu juga alasan kenapa dulu Mama ngambek perihal ponsel salah alamat?" tuding Nina bertanya.
"Hahahaha." Mama Sarah tertawa. Jadi, nama Nawan itu ada dua orang di Jalan Bunga Sari, bahkan mereka tinggal di blok A2/6. Nawan yang lain memesan ponsel di online shop, lalu kurir mengantarnya di rumah blok A2/2 yang tak lain adalah rumah orang tua Nina. Pada bagian luar paket, ada catatan berisi tulisan 'Buat Nirmala, wanita pujaan ku, pengirim Nawan'. Nyatanya, Papa Nawan yang lain menggunakan dropship saat memesan, itu triknya untuk membahagiakan istrinya saat sedang marah.
Sementara di ruang keluarga, Papa Nawan dan Iki sedang berbincang perihal Nina. Papa Nawan masih sedikit cemas akan putrinya itu. Dia hanya takut, takut Nina menjadi istri yang pembangkang.
__ADS_1
"Nggak kok, Pa. Nina jauh lebih baik sekarang. Dia nggak ngajak ngajak aku keluar malam lagi. Mungkin karena dia udah nggak punya pacar. Dia udah mulai bangun pagi, pokonya kek orang dewasa bangat. Sekalipun begitu, aku nggak kekang dia buat jadi orang dewasa, Pa. Aku mengizinkannya melakukan apa yang dia inginkan, seperti keluar bersama teman-temannya–tapi Nina tetap nggak mau, dia maunya jalan sama aku," jelas Iki.
"Baguslah, Papa lega mendengarnya. Tolong jaga Nina, jaga dia seperti adik kamu sendiri. Terlebih dia istri kamu sekarang, Papa minta sama kamu untuk terus membimbingnya. Jujur saja, Papa merasa gagal menjadi orang tua. Papa rasa kasih sayang Papa kurang sehingga dia mencari kebahagian pada pria lain." Papa terlihat sedih mengingat dirinya yang jarang ada untuk Nina.
"Aku nggak janji, Pa–tapi akan aku coba," ujar Iki.
Berhubung hari ini akhir pekan, Iki dan Nina kembali ke blok A2/3. Mereka mencuci dan membersihkan rumah yang hampir seminggu mereka biarkan tanpa penghuni. Lelah, Nina dan Rifki berbaring di lantai yang dibentang karpet warna abu-abu. Nina mengambil jarak lebih dekat dengan Iki, dia sengaja melakukan itu agar Iki memeluknya.
"Tolong peluk aku dong ...." rengek Nina.
Terkekeh, Rifki menyamping dan memeluk Nina yang terlentang. "Apa ini cukup?" tanya Iki menatap serius Nina yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Ummm___"
"Begini?" Iki semakin memeluk erat istrinya.
Tersenyum, Nina mengangguk. "Iki, terima kasi, ya. Terima kasih karena kamu telah mengorbankan masa muda mu hanya untuk melindungi ku. Dan maafkan aku yang telah membiarkan diriku disentuh pria lain," Terdiam, mata Nina kembali berkaca kaca.
__ADS_1
"Nggak ada manusia di dunia ini yang nggak memiliki dosa. Jika kamu meminta maaf lantaran itu, bagaimana denganku yang dengan berani mengajak anak orang lain untuk berpacaran denganku? Aku lebih hina dibandingkan kamu," ujar Iki. "Nina, mari kita jalani hidup ini. Mustahil sebuah rumah tangga tak diterpa masalah, jadi mari kita sebisa mungkin saling memahami, menegur bila ada yang keliru. Aku siap menerima kritik darimu, dan kamu pun harus siap menerima kritik dariku. Ayo kita saling mensuport,"
Bulir bening yang tadinya masih setia pada tempatnya, akhirnya tumpah jua. Nina yang tadinya terlentang, memiringkan tubuh lalu memeluk Iki. "Aku nggak janji, tapi aku akan belajar untuk nggak kekanakan."