Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 34


__ADS_3

Waktu terus bergulir, ujian akhir semester telah usai. Hari libur pun telah menanti. Selama proses ujian, Nina selalu merasa tidak baik-baik saja. Kepalanya kerap sakit, bahkan penglihatannya berkurang. Berpikir Iki tak menghargai perasaannya, Nina sedikit membatasi dirinya dalam berbagi duka.


"Nina, besok kan kita nggak masuk sekolah lagi, gimana kalau kita ke Bandung. Kita jalan-jalan ke sana, sekalian bertemu Mama dan Papa," ucap Iki sementara mereka di rumah.


"Maaf, Iki. Aku nggak mau jalan-jalan, aku mau di rumah saja. Kalau kamu mau jalan-jalan, kamu bisa pergi sendiri atau kamu ajak wanita yang kamu suka itu," ujar Nina.


"Baiklah kalau memang kamu nggak mau. Nanti aku ajak dia, semoga saja dia mau." Tersenyum, Iki tak tahu saat ini hati Nina bagai tersayat belati.


"Aku ke kamar dulu," pamit Nina lalu naik ke kamar. Berhubung sekarang sudah jam sepuluh malam, Nina memilih tidur. Dia tak lagi tidur dalam pelukan Iki. Bukan Iki yang tidak mau memeluknya, tapi Nina yang menjaga jarak. Daripada terus mencintai, lebih baik belajar melupakan. Pikir Nina.


Pagi keesokan harinya, Iki tak mendapati Nina di kamar. Entah kemana perginya wanita itu. Sementara di lain tempat, Nina sedang lari pagi. Di saat ini berada di jalan Mandaong bersama orang-orang yang juga sedang lari pagi. Pandangan Nina mulai buram, dia berhenti berlari dan mengatur napas dengan pelan.


Bruk!! Seketika tubuhnya lunglai di jalanan aspal. Orang-orang di sekitarnya segera menghampiri. Ada yang mencoba membangunkannya dan ada yang menghubungi supir ambulance. Dari sekian banyaknya orang di sana, ada Zeto yang juga sedang olahraga pagi.


Zeto masuk dalam kerumunan, matanya membulat saat melihat Nina pingsan. Mencari keberadaan Iki namun tak ada Iki di sana. Segera dia mengambil ponsel Nina namun dia tidak tahu apa nama kontak orang tua Nina, begitu juga dengan kontak Rifki. Terpaksa, Zeto masuk ke aplikasi WhatsApp lalu mencari group kelas Nina. Mengetik sesuatu kemudian Mengirimnya.


"Dia di mana sekarang?" tulis Gio.


"Sinta, kamu juga di Mandawong, kan?" tanya Gio dalam obrolan group.

__ADS_1


"Iya, Gio–aku dan Clara baru akan memasuki kerumunan," ucap Sinta menggunakan voice note.


Sinta dan Clara memasuki kerumunan dan mendapati Zeto sedang memangku Nina. Selang beberapa detik, Ambulance tiba–segera mereka membawa Nina ke rumah sakit Labuha.


"Bisa kalian hubungi orang tua Nina? A_aku nggak tahu nama kontaknya apa," ujar Zeto yang juga ikut ke rumah sakit.


"Oh iya." Sinta segera menghubungi orang tua Nina namun mereka tak menjawab panggilan telepon darinya. Berulang kali namun tetap sama. Terakhir, Sinta menghubungi Iki. Panggilan pertama tidak dijawab, kedua juga tidak. Untuk ketiga kalinya, terdengar suara pria di seberang telepon.


"Iki, ke ruma sakit Labuha, sekarang. Nina jatuh pingsan dan kami dalam perjalanan ke rumah sakit." ujar Sinta serius.


"Iya, Sinta. Terima kasih." Memutuskan panggilan, Iki berlari dari warung yang jauhnya seratus meter ke rumah. Rumah pertama yang dia masuki adalah rumah orang tua Nina.


"Di kamar," jawab Sukini terheran heran.


Berlari ke lantai atas, Iki mengetuk pintu kamar Mama mertuanya dengan kuat. Tak ada pergerakan dari dalam. Iki yakin, mereka sedang memproses adik untuk Sukini dan Nina di dalam.


"Sayang, saat kamu memanggil Mama dan Papa lalu kami nggak jawab padahal kami di dalam kamar, kamu jangan ketuk-ketuk pintu lagi ya. Biarkan saja Mama dan Papa di kamar. Jika dalam tiga puluh menit Mama dan Papa belum keluar juga, baru kamu usaha untuk buka pintu kamar Mama." Nasehat Mama Riana tempo dulu saat Iki masih SD kelas enam. Dan itu masih diingat oleh Iki.


"Mama, Papa, aku duluan ke rumah sakit ya. Nina pingsan saat lari pagi dan sekarang dilarikan ke rumah sakit," ucap Iki lalu ke lantai satu.

__ADS_1


"Sukini, ayo kita ke rumah sakit. Kam Nina pingsan," ajak Iki. Tanpa a–i–u, Sukini langsung mengikuti Iki keluar rumah.


Belum juga mereka keluar rumah, terdengar Papa Nawan memanggil Iki. Iki yakin, mereka sudah selesai bercocok tanam. Menunggu Papa dan Mama mertuanya, lalu mereka pergi beberapa saat setelahnya menggunakan mobil milik Papa Nawan.


Setibanya di rumah sakit, mereka mendapati Nina sudah siuman. Namun, penglihatan Nina sedikit buram. Nina seperti orang rabun. Tapi hanya dalam sekejap, tidak bertahan lama.


"Kak Zeto, kok Kakak nggak sekolah–bukannya hari ini Kakak ujian Nasional." Nina menatap serius Zeto.


Kedua kening Zeto saling bertautan. Namun melihat tatapan tanya Nina, dia yakin ada yang salah dengan Nina. "Nina, apa kamu nggak ingat hari ini hari apa? Hari ini hari Senin tapi kita sudah libur. Maksudnya aku, aku sudah selesai ujian Nasional. Bahkan kalian juga sudah Ujian Akhir Semester."


Nina tertawa. "Hahahahhaha. Sepertinya aku ini sudah pikun. Astaga ... baru juga belasan tahu tapi sudah pikun."


"Bisa kami bicara dengan orang tua pasien?" ujar sang Dokter.


"Bisa dok," balas Mama Sarah.


"Mari ikut saya, Buk." kata Dokter.


Mengikuti dokter, Mama Sarah dan Papa Nawan kembali setela mendengarkan penjelasan dari dokter. Mama Sarah tak kuasa menerima kenyataan tentang penyakit putrinya. Hingga tubuh wanita itu ikut lunglai.

__ADS_1


"Mama bangun ...." Papa Nawan menepuk pelan pipi Mama Sarah. Tak ada pergerakan, akhirnya Mama Sarah diinfus seperti Nina.


__ADS_2