Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 30


__ADS_3

Akhir akhir ini hujan terus melanda kota Bacan pada sore hari. Dan sore ini juga seperti itu, Nina dan Rifki tetap menerobos menuju warkop. Bukan gila uang, tapi mereka kehujanan saat sudah di jalan. Ingin berteduh namun warkop sudah dekat. Setelah beberapa menit di jalan, akhirnya mereka sampai juga di warkop.


"Cepat ganti pakaian kalian," titah Sinta yang dari semalam membantu Gio menjaga warkop.


"Sin, tolong buatkan aku dan Iki teh hangat," pinta Nina sebelum ke belakang. Ya, dibelakang ada jalan masuk.


"Iya, Nina," sahut Sinta.


Nina mandi terlebih dahulu, setelah itu Iki. Selesai mengenakan pakaian, Nina dan Iki menemui Gio dan Sinta. Mengambil tempat di kursi, keduanya menikmati teh hangat buatan Sinta.


"Bagaimana? Apa ada pelanggan?" tanya Iki.


"Banyak, Bro. Biasa kan malam minggu, banyak anak muda yang keluyuran," balas Gio.


Terkekeh, Iki menatap beberapa pelanggan yang ada di dalam. Melihat warkop Niki setiap hari dapat mengantongi dua juta rupiah, bahkan lebih, Iki rasa itu cukup besar. Dia rasa dia bisa membiayai Nina kelak setela mereka lulus sekolah. Berhubung sudah malam dan hujan juga sudah reda, plus besok hari Senin, Ini meminta Gio dan Sinta pulang jam 7 malam.


Tak terasa, arah jarum jam pendek telah berada di angka sebelas. Nina sedari tadi tidur, sementara Rifki masih setia menemani pelanggan setianya. Hingga pukul 12 malam, Iki menutup warkop. Dia naik ke lantai dua setelah mematikan lampu di lantai satu.

__ADS_1


"Aku nggak janji, Nina–tapi aku akan berusaha membahagiakan kamu. Memberimu warna yang indah, agar kamu nggak pernah menyesal telah dinikahkan denganku. Maafkan aku yang masih menyembunyikan perasaanku. Aku hanya nggak mau kamu meledekku, aku takut, takut kamu menertawai ku. Kau tahu, aku telah jatuh cinta padamu jauh sebelum kamu jatuh cinta padaku." gumam Iki menyibak anakan rambut yang menutupi wajah cantik Nina.


"Iki, peluk aku," pinta Nina. Entah dia sadar, atau dia mengigau. Bahkan tangannya terangkat dan terbuka lebar.


Iki meraih tangan Nina, lalu memeluknya. "Selamat tidur, istriku," ucap Iki kemudian mencium Nina pelan.


Pagi keesokan harinya, Nina bangun lebih awal menyiapkan sarapan untuk dia dan Iki. Sementara Iki membersihkan lantai warkop. Kedua pasangan itu memutuskan akan membuka warkop sampai jam sepuluh malam, karena Minggu depan mereka akan ujian semester. Selesai bersih-bersih, mandi dan sarapan, Nina dan Iki ke sekolah bersama.


Tiba di sekolah, Nina mendapati Clara bertengkar dengan Alan. Padahal masih pagi, belum juga apel pagi namun keduanya sudah berperang.


"Kamu kenapa?" tanya Nina menarik tangan Clara membawa wanita itu masuk ke kelas.


"Makanya belajar, biar nggak dikatai bodoh sama si Alan," ujar Sinta.


Mengira Sinta berada di pihak Alan, Clara menangis. Dia duduk di kursi lalu terisak di sana. "Aku tuh nggak bodoh, aku hanya malas belajar," ungkap Clara dengan drama konyolnya.


Bel apel pagi terdengar, Clara enggan apel pagi walau Nina dan Sinta mengajaknya. Wanita itu memilih diam di dalam kelas sambil sekali kali menyeka air matanya. Dia berjanji pada dirinya sendiri, dia akan membalas perbuatan Alan.

__ADS_1


Nina dan Iki juga yang lain masuk ke dalam kelas setelah apel pagi. Mereka mendapati Clara membaca buku. Saling menatap, Nina mengangkat bahu. "Sepertinya setan yang ada dalam tubuhnya sudah keluar," bisik Sinta di telinga Nina.


Tertawa pelan, Nina mendekati Clara. Benar, Clara sedang membaca catatan nya. "Semangat kawan, kamu harus bisa. Kamu harus buktikan pada Alan dan Sinta kalau kamu bisa mendapatkan nilai yang bagus." Nina memijat bahu Clara.


"Nina, kenapa nggak sekalian kamu belikan aku nasi kuning, kebetulan aku nggak makan apa-apa saat ke sekolah tadi," cengir kuda, Clara kembali membaca catatannya.


"Sebagai tanda maafku padamu, sekarang kamu makan bekalku. Kebetulan tadi Mbak Sofi bikinin aku nasi goreng ekstra pedas." Sinta mengeluarkan Tupperware dari dalam tasnya. Lalu minuman di botol Aqua kecil.


"Berhubung kamu membuat air mataku jatuh, maka makanan ini aku terima. Sekarang kamu ke kantin belikan aku es mangga. Gunakan uangmu dulu, nanti aku ganti setelah dari sana," ujar Clara seraya membuka penutup Tupperware milik Sinta.


"Tuh, makan sisa ku biar kamu pintar kek aku," Alan meletakkan segelas es mangga.


"Cui!" Clara membuang ludah. "Aku lebih baik bodoh daripada harus minum di gelas yang sama dengan kamu."


Terkekeh, Alan mencubit pipi Clara. "Gemes aku ..." ucapnya lalu lari.


"Alan ..., awas kamu ya ...." teriak Clara.

__ADS_1


Nina tertawa, begitu juga dengan yang lain. Sekilas menatap Iki, Nina mendapati Iki menerima panggilan telepon. Penasaran, wanita itu mendekati Iki. Terdengar suara seorang wanita di balik telepon. Suara familiar yang Nina sendiri kenal.


__ADS_2