
"Kata siapa? Rifki itu sudah move on dari Novi. Kalau nggak percaya, coba tanya aku. Nanti aku jawabnya iya," menampilkan senyum lebar, Alan disentil oleh Gio.
"Hais ... Kalian ini, lagian apa untungnya kita membahas Novi. Bdw, kapan cafe ini mau di resmi?" tanya Gio.
"Jika dalam minggu ini nggak ada halangan, ya paling senin depan udah dibuka," jelas Rifki.
"Aku orang pertama yang harus kamu layani. Bdw, kau nggak butuh karyawan?" tanya Gio lagi.
Terkekeh, dia Rifki menghembuskan napas pelan. "Kenapa? Kamu mau melamar?"
Gio mengangguk. "Jika ada kabari aku ya, aku butuh uang buat belikan Sinta skincare," menatap Sinta, Gio menampilkan senyum lebar.
"Berapa gaji yang kamu mau?" tanya Rifki. Kali ini dia serius.
"Gaji?" Gio berpikir sejenak. "300 ribu sebulan itu sudah cukup," ungkapnya. "Tunggu, kamu serius mau aku kerja di sini?"
"Iya .., 300 ribu? Deal!" Iki menjabat tangan Gio.
__ADS_1
.
.
Waktu bergulir begitu cepat, Rifki sudah masuk sekolah setelah seminggu di skors. Warkop juga sudah di buka, dan Gio adalah pelayan pertama yang Rifki terima. Malam ini, warkop begitu ramai, banyak pengunjung yang datang menikmati hidangan di warkop Niki yang terletak di Labuha dekat Rumah Makan Aya.
"Nina, pisang nugget satu porsi untuk meja lima," ujar Iki.
"Oke," balas Nina lalu mulai menyiapkan pisang nugget untuk pelanggan di meja lima. Selesai menyajikan, Gio datang mengambilnya dan membawanya ke meja lima.
Semakin larut, pengunjung semakin banyak yang berdatangan. Sekalipun begitu, Rifki tetap akan menutup warkop di jam 12 nanti. Bukan hanya orang lain yang datang, Yuna dan Dika pun datang menikmati hidangan di warkop Nina.
"Jangan bilang mereka itu pasutri!" Gio bergumam di atas motor. Tiba di rumah, Gio masih membayangkan kejadian sekitar jam sebelas tadi, dimana Rifki membantu Nina mengikat rambutnya.
"Oke, mereka memang sahabat. Tapi tatapan Nina seperti bukan menatap sahabat, melainkan kekasih," gumam Gio.
"Gio anak, Mama. Gio mau tidur di luar?" tanya Sang Mama setelah menunggu putranya masuk namun tak kunjung menapakkan barang hidungnya.
__ADS_1
Tersenyum, Gio segera menghampiri sang Mama. Mencium tangan sang Mama kemudian membawanya masuk ke dalam rumah. Sementara di warkop Niki, Nina gelisah di atas tempat tidur. Dia ingin memeluk Rifki tapi dia malu. Berbalik menatap Rifki yang tidur terlentang, Nina mendekat dengan pelan.
"Kenapa?" Rifki tiba-tiba membuka mata.
Menelan saliva nya, Nina salah tingkah. Berpikir, ia kembali ke tempatnya semula. "Nggak, nggak ada apa-apa," balas Nina berbohong.
Tersenyum, Rifki menyamping menghadap Nina. "Mau di peluk?" tanya Iki ke intinya langsung.
Menarik senyum di kedua sudut bibirnya, Nina mengangguk pelan. "Boleh?" tanyanya pelan.
"Ayo," balas Rifki.
Mendekat, Nina masuk ke dalam pelukan Rifki. Pagi keesokan harinya, Rifki dan Nina sudah di sekolah. Nina duduk bersama Sinta dan Clara juga Yuna sementara Rifki di belakang gedung SMP bersama teman-temanya. Sementara duduk, Sinta melihat Novi masuk dalam lingkungan sekolah mereka menuju gedung SMP samping Jurusan TKJ.
"Itu bukannya Novi?" Sinta menunjuk ke arah Novi.
Nina dan Clara mengikuti arah tunjuk Sinta. "Iya, dia mau ngapain ke sana?" tanya Nina.
__ADS_1
"Ketemu Iki kali, kan mereka mantan kekasih. Kali aja cinta lama bersemi kembali," ucap Sinta.
Degh!! Nina terdiam.