Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 36


__ADS_3

Lagi lagi Bacan di landa hujan deras. Dan Iki salah satu dari sekian banyaknya manusia yang terjebak hujan. Iki dari sekolah menuju rumah. Dia meminta izin pada wali kelasnya untuk mengizinkannya menemani Nina ke Makassar. Namun, Iki hanya diberi waktu satu minggu. Setelah satu Minggu, Iki diharuskan masuk ke sekolah.


"Oh Tuhan ...." teriak Iki saat ada pohon yang tumbang di jalan. Dan hampir saja menindihnya. Beruntung Iki menambah laju kecepatan sehingga dia selamat.


"Benar kata orang, sekalipun penyebab kematian ada di depan mata, jika belum saatnya Tuhan memanggil, maka tetap akan selamat," gumam seorang wanita yang ada di tempat kejadian.


"Dek, kamu nggak papa?" tanya wanita tersebut.


"Aku nggak papa, Kak. Ayo pulang, Kak. Sebelum badai semakin kuat," ujar Iki pada wanita yang tak dikenalnya namun sepertinya sudah berumur.


Kembali melanjutkan perjalanan, akhirnya Iki tiba juga di rumah. Cepat-cepat membersihkan diri, lalu ia segera menemui Nina di kamar–di kamar Nina–atau lebih tepatnya di rumah mertua, Iki. Melihat Nina berdiri di depan jendela kamar yang tidak tertutup tirai, Iki segera menghampiri.


"Aku dingin," lirih Iki seraya memeluk Nina dari belakang.

__ADS_1


Tersenyum, Nina merasakan itu. Iki memang sangat dingin. "Bagaimana, apa kamu diberi izin?" tanya Nina dengan tatapan lurus ke depan.


"Iya. Oh ya, nanti Mama nyusul kita ke sana." kata Iki. Mama yang Iki maksud adalah Mama Riana, Ibu mertua Nina.


.


.


Makassar/Sulawesi Selatan


Hotel Sudarso, untuk sementara orang tua Nina beristirahat di sana–kebetulan lokasi hotel begitu dekat dengan rumah sakit. Sementara Iki menemani Nina di UGD.


"Iki, kamu makan dulu," ucap Nina.

__ADS_1


Iki yang berdiri sambil mengelus tangan Nina, tersenyum. "Nanti aja, tunggu Mama dan Papa ke sini. Kalau aku pergi, lalu siapa yang akan jagain kamu. Udah, kamu nggak perlu mikirin aku, yang harus kamu pikiran adalah kesehatanmu. Beritahu aku jika kamu butuh sesuatu,"


Selang dua menit, beberapa dokter datang bertanya pada Nina. Salah satu dari mereka memeriksa Nina, selainnya memperhatikan. Mereka berbincang mengenai penyakit Nina. Iki menjelaskan sesuai diagnosa dokter saat di Labuha/Halmahera Selatan.


Jam sembilan malam, Iki keluar makan karena Mama Sarah dan Papa Nawan sudah datang. Selesai makan, dia duduk di depan rumah sakit. Duduk termenung, dia berpikir untuk membuka warkop saat tiba di Bacan nanti.


Tak terasa, sudah sekian hari mereka di rumah sakit dan pagi ini Nina akan dipindahkan di kamar VVIP. Mama Riana juga sudah dalam perjalanan dari Bandara Hasanudin ke rumah sakit. Saat Mama Riana tiba, Nina sudah di kamar VVIP.


"Nina mau makan apa? Nanti Mama belikan," tanya Mama Riana.


"Aku udah makan, Ma. Mama dan Papa gimana kabarnya?" tanya Nina.


"Mama dan Papa sehat. Maaf ya, Mama dan Papa baru bisa jenguk kamu," lirih Mama Rian kemudian mencium Nina.

__ADS_1


"Mama, maaf ya. Aku___" Nina menunduk. "Aku malah jadi beban, Iki," sambungnya dengan manik mata berkaca kaca.


"Hus, kamu ini. Kamu itu bukan beban, Sayang–tapi memang sudah tanggung jawab Iki untuk menjagamu. Bukan hanya menjaga kamu saat kamu sehat saja, tapi juga menjaga kamu saat kamu sakit," nasehat Mama Riana.


__ADS_2