Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 26


__ADS_3

"Apa karena isi surat ini kamu menangis?" tanya Iki serius.


Mata Nina kembali berkaca kaca. "Maafkan aku, harusnya aku sadar diri sebelum marah. Iki, aku mau sendiri, tolong kembalilah ke kamar, biarkan aku di sini."


"Kamu nggak salah, dan apa yang kamu baca itu nggak benar. Aku dan Novi nggak pernah tidur bersama. Nggak pernah, Nina. Tolong percaya padaku," ungkap Iki serius.


"Pagi tadi Novi memang datang di sekolah kita, tapi dia datang untuk curhat. Dan saat pulang sekolah tadi, aku memang menjemputnya karena katanya Haikal nggak masuk sekolah," jelas Iki.


"Memangnya dia nggak bisa naik ojek!" celetuk Nina menyeka air matanya.


Terkekeh, Rifki meraih tangan Nina, membawa wanita itu dalam pelukannya. "Maafkan aku, aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi."


"Sudah ..., jangan menangis lagi." Iki menyeka air mata istrinya. "Cemburu itu bagus, dia memperkuat rasa sayang. Tapi tunggu, apa kamu___"


Malu, Nina kembali memeluk Iki. "Jangan diteruskan, aku malu," rengek Nina.


Demi apa, saat ini Rifki sangat bahagia mengetahui Nina telah terperangkap dalam cintanya. Dia akan membuat wanita itu hanya menempatkan satu nama dalam hatinya.Tersenyum bahagia, Iki membawa Nina ke kamar. Keduanya menikmati malam yang dingin itu. Hanya tidur sambil berpelukan, bukan memulai malam pertama.

__ADS_1


Keesokan harinya, Rifki dan Nina sudah bersiap-siap ke sekolah. Seperti biasa, Rifki memasangkan helem. Tersenyum menatap wajah Rifki yang dekat, Nina mengedipkan mata.


"Jangan lakukan itu pada pria lain," ucap Iki mengingatkan.


Mengangguk, Nina tersenyum. Naik ke atas motor, keduanya menuju sekolah. Setibanya di sekolah, Nina melihat Novi mengenakan seragam yang memiliki logo yang sama dengan sekolah mereka. Terbesit tanya dalam benaknya namun dia enggan bertanya pada Iki.


"Dia siswa pindahan dari SMA Satu." Iki memberitahu tanpa Nina tanya. Keduanya turun dari motor.


Dari jarak dua puluh meter, Novi tersenyum kearah Iki. Iki ingin membalas senyuman dari Novi namun Nina melempar ekspresi perang terhadapnya.


"Iki, ke kantin yuk," ajak Novi setelah berdiri dengan jarak yang tak jauh dari Iki.


"Maaf, Novi. Nanti lain kali saja, tadi aku dan Nina sudah sarapan," jelas Iki.


Mendengar Novi dan Iki saling melempar pertanyaan, Nina jadi kesal. Semakin kesal, dia menarik tangan Iki. "Kalau nggak mau tinggal bilang nggak mau, nggak perlu banyak tanya!" celetuk Nina sepanjang jalan.


Rifki hanya bisa menarik senyum. "Kamu tambah cantik kalau lagi marah-marah. Jadi tetaplah marah-marah agar aku membalas cintamu,"

__ADS_1


Nina memonyongkan bibirnya. "Jangan buat cintaku bertepuk sebelah tangan, Iki. Aku nggak mau tahu, kamu harus mencintaiku! Kalau nggak, aku akan membuatmu menyesal!" ancam Nina.


Rifki tertawa terbahak bahak. Tanpa mereka sadari, Novi menyaksikan itu semua. Gadis itu mengepal tangannya, dia berjanji akan membuat Rifki jatuh cinta lagi padanya. Masuk ke dalam kelasnya, Novi melihat Dika yang baru saja masuk ke dalam kelas.


"Dika," panggil Novi.


Dika berbalik menatap heran Novi. "Kamu ngapain di sini?" tanya Dika.


Mendekat, Novi berdiri di depan Dika. "Aku pindah di sini, satu jurusan dengan kamu," jawab Novi.


Dika mengangguk. "Ya sudah, ayo duduk di sampingku. Kebetulan nggak ada orangnya."


Kembali ke Fakultas kesehatan, Nina memaksa Iki untuk menatap matanya. "Cepat tatap aku!" tegas Nina.


"Nggak, nggak mau." Iki berusaha kabur namun lagi-lagi Niha menarik bajunya.


"Gio ... tolong aku ... Harimau ku udah bangun." Merengek pada Gio, Iki ditertawai oleh teman-temannya.

__ADS_1


Bel apel pagi berdentang, Nina menarik tangan Iki. "Mulai sekarang, kamu nggak boleh jauh-jauh dari aku. Ingat! Dimana kamu, maka aku juga harus di situ!' tegas Nina.


__ADS_2