
Sakit hati, Nina memilih ke rumah mereka yang tak lain adalah rumah Mama Riana. Dia masuk lewat pintu depan karena Nina tahu dimana kunci di simpan. Menutup pintu kamar bagian balkon, agar Iki tidak masuk lewat balkon. Entahlah, Nina masih belum terima perihal Sukini dan Iki yang berencana nonton berdua.
"Heh! Kenapa aku begini sekali. Kenapa juga aku cemburu terhadap adikku sendiri," gumam Nina menatap bayangannya di cermin.
"Cukup lama aku di Makassar, dan mustahil jika mereka nggak dekat. Apalagi mereka tinggal di warkop. Sekalipun ada Sinta, tapi___"
"Oh Tuhan ... kenapa aku berpikir sejelek ini." Nina menunduk lesu. "Aku nggak boleh berprasangka buruk," gumam Nina kemudian.
Naik di atas tempat tidur, Nina memesan beberapa cemilan lewat Grabfood. Lama dia menunggu, dan tiba-tiba pesanan telah berhasil. Nina menautkan kedua keningnya. Bukankah dia belum menerima pesanannya, kenapa sudah berhasil. Pikir Nina. Tanpa dia tahu, Iki di lantai satu yang menerima sekaligus membayar tagihannya.
Iki menaiki anak tangga, berhenti di depan kamar, lalu mengetuk pintu. "Nina, buka pintunya, Sayang. Ini ada pesanan kamu."
__ADS_1
Ceklek! Pintu terbuka, Nina mengambil pesanannya dari tangan Iki lalu menarik langkah ke dalam. Dia tak mempersilahkan Iki masuk, juga tak mengusir Iki pergi dari sana. Mengeluarkan makanan dari kresek, lalu menikmatinya tanpa menawarkan pada Iki.
"Nina, kamu masih marah?" Iki mendekat.
Tanpa menanggapi, Nina terus mengunyah apa yang dia makan. Bahkan dia menjilat coklat di tangannya. "Sudah sangat lama aku nggak makan yang beginian," lirih Nina lalu kembali makan pisang coklat.
"Nina, jangan diamkan aku." Iki maju tepat di hadapan Nina. "Kalau kamu marah ya ngomong, jangan kayak gini. Aku nggak suka kamu diamkan aku," ungkap Iki.
"Ya, kalau aku marah memangnya kenapa? Masalah buat kamu?" Nina mendekati wajah Iki lalu meninggalkan Iki. Duduk di sisi tempat tidur, Nina bersiap untuk beristirahat. Apalagi sekarang sudah jam sepuluh malam.
"Apa kau tahu, aku di sini amat tersiksa. Bahkan aku berniat berhenti sekolah agar aku bisa menemanimu di sana. Kamu nggak tahu bagaimana aku di sini, aku tersiksa, Nina." Menyembunyikan wajah di bahu Nina, Iki menangi di sana.
__ADS_1
"Jangan nangis, aku udah di sini," lirih Nina.
"Nina, menghadap aku," pinta Iki.
Berbalik, Nina menatap manik mata Iki yang berembun. "Peluh aku ..." rengek Nina.
Tersenyum, Iki segera memeluk Nina. Malam yang dingin, sedingin air di kulkas. Seperti itulah cuaca di larut malam saat hujan badai tiba-tiba menghantam kota Bacan. Walau malam terasa dingin, namun kehangatan tetap dirasakan oleh Nina yang notabennya tidur dalam pelukan suaminya.
Pagi keesokan harinya, Iki telah menyiapkan sarapan pagi untuk Nina dan untuk dia. Dia sengaja bangun lebih awal agar Nina tidak perlu cape cape menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Kak Iki ... aku nebeng ya ..." teriak Sukini dibalik pintu. Sukini sudah SMA kelas satu. Dan dia sekolah di sekolah yang sama dengan Nina. Awalnya dia masuk di SMA satu, tapi dia minta pindah di SMK.
__ADS_1
"Naik ojek sana!" celetuk Nina yang cemburu pada adiknya sendiri.
"Cis! Baru juga mau numpang nebeng udah dicemburui suaminya, gimana kalau di tikung, mati di berdiri Kak Ninanya!" sindir Sukini. Lalu kembali ke rumahnya.