Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 20


__ADS_3

"Masya! Itu sepupu kamu orang tuanya di mana?" tanya Clara setelah berada di dalam kelas.


"Siapa? Orang tua Kak Zeto?" tanya Masya menaikkan alisnya.


"Iya, dia. Dimana orang tuanya?" tanya Sinta.


"Ayahnya sudah meninggal, sementara Ibunya menikah lagi dan sekarang tinggal di Sumatra. Kak Zeto tinggal di kos kosan karena dia nggak mau tinggal sama Kakaknya yang sudah menikah. Bahkan dia membiarkan rumah orang tuanya tanpa penghuni," jelas Masya.


Baik Sinta, Clara maupun Nina terdiam. Mereka kembali ke kursi masing-masing. Sambil menunggu guru masuk, Nina mengirim pesan pada Iki namun Iki tak membalas pesan dari Nina.


"Dia ngapain di sana?" batin Nina.


Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa, sebentar lagi mata pelajaran terakhir akan selesai. Nina dan teman temannya fokus mendengarkan penjelasan dari guru mereka. Hingga bel pulang mengakhiri materi hari ini. Nina dan kawan kawannya bergegas ke lapangan depan ruang guru. Berbaris dengan rapi, mereka kembali mendengarkan arahan seperti biasanya.


"Tunggu Alan dulu," kata Sinta. Dia dan yang lain berada di parkiran. Bahkan Rifki sudah ada sedari tadi–sejak Nina masih apel pulang.


Dari kejauhan, terlihat Alan melambaikan tangan. Tersenyum, dia menarik langkah cepat. "Maaf, tadi aku dipanggil Pak Denis," ucap Alan mengambil helem nya.


"Nggak papa. Oh ya, kalian mau singga makan dulu atau mau makan di cafe?" tanya Rifki. Penampilan Rifki menghipnotis pelajar wanita yang ada di parkiran. Bahkan yang lewat pun selalu melirik ke arah Rifki. Tak sedikit dari mereka memuji penampilan Rifki.


"Di cafe saja," balas Sinta.

__ADS_1


"Rifki, aku dan Yuna mau ke Toko Bandung sebentar, nanti kalian duluan saja. Oh ya, di mana alamatnya?" Dika menatap Rifki. Pria itu naik di atas motor, begitu juga dengan Yuna.


"Di Labuha, jalan baru, samping rumah makan Aya," jelas Rifki.


Sinta dan Gio mengendarai motor masing-masing. Begitu juga dengan Alan. Sementara Nina dibonceng oleh Rifki. Di perjalanan, Rifki hampir saja jatuh lantaran rem mendadak. Melihat siapa yang tiba-tiba berhenti di jalan, Rifki mengumpat kasar. Zeto, pria yang hampir ditabrak itu adalah Zeto. Dia dengan sengaja berhenti tiba-tiba, beruntung di belakang Rifki tak ada pengendara motor maupun mobil.


"Dasar penakut!" seru Zeto lalu melaju dengan kecepatan tinggi.


"Dasar gila!" umpat Nina.


Sinta, Gio dan Alan tiba lebih dulu, sementara Rifki dan Nina satu menit setelah ketiga temannya. Membukakan mereka pintu, kemudian Rifki ke rumah makan Aya. Membeli tujuh bungkus nasi ayam dan tak lupa tujuh botol Aqua dingin. Kembali ke cafe, dia mendapati teman-temannya sedang lesehan.


"Iki, dimana kursinya?" tanya Alan.


"Kalian mau makan duluan atau mau tunggu Dika dulu?" tanya Rifki.


"Tunggu mereka dulu," balas Sinta.


Mengangguk, Rifki meletakkan kresek di lantai. Sambil menunggu Dika dan Yuna, dia melanjutkan pekerjaannya di lantai dua. Selang beberapa menit, Dika dan Yuna datang, Iki segera turun ke lantai satu. Duduk lesehan, mereka memulai makan siang kemudian mendesain dinding. Hanya sekitar dua jam, dinding berhasil di desain. Berhubung belum sore, Rifki menghubungi pemilik toko dimana dia membeli kursi dan meja. Tak berapa lama, mobil truk berhenti di depan kedai. Lalu beberapa orang menurunkan kursi dan meja.


Kembali menyusun rapi kursi dan meja hingga selesai, mereka naik ke lantai dua. Menghias kamar hingga selesai. Kembali ke lantai satu, mereka semua duduk beristirahat.

__ADS_1


Sinta terfokus pada liontin yang dikenakan oleh Nina, lalu tanpa sengaja dia melihat cincin di jari manis Rifki. Terbesit tanya dalam benak Sinta, itu cincin couple atau cincin pernikahan.


"Nggak mungkin Nina dan Rifki___" Sinta kembali memperhatikan cincin di jari Rifki. "Nggak mungkin mereka berdua ini pasangan suami istri," tambah Sinta membatin.


"Nina, liontin kalung kamu sama cincin yang di kenakan Rifki itu sama ya. Kalian berdua memang couple asli. Aku, jangankan cincin, baju aja Dika nggak beli." Yuna mengayunkan bibir.


Nina terkekeh lalu memegang liontin nya. "Ini itu pemberian dari orang tua Rifki. Aku nggak pakai karena takut disangka pasutri sama Riski."


"Dan aku tadi sempat berpikiran seperti itu. Aku mengira kamu dan Rifki itu pasutri," ujar Sinta.


Jleb!! Nina menelan saliva nya yang tercekat. Beruntung tadi ekspresinya tak mencurigakan sehingga Sinta berkata jujur.


"Tapi kalau pasutri juga nggak papa sih, lucu malahan," timpal Dika.


"Cepat ngaku, kalian berdua___" Menatap Nina dan Rifki bergantian. "Kalian berdua ini pasangan____" tersenyum, dia menatap Nina lalu Iki. "Cepat ngaku sebelum aku yang bongkar rahasia kalian," ancam Dika.


"Apa pun yang kamu pikirkan, maka itulah kejadian yang sebenarnya," ujar Rifki dengan santai.


Membulatkan mata, Dika menatap Rifki. "Serius? Kalian berdua serius___"


"Kamu ini, sejak kapan Nina mau pacaran sama Iki yang hatinya masih untuk Novi," timpal Gio.

__ADS_1


Nina menatap Rifki. "Mati aku," batin Iki.


__ADS_2