
Membuka mata, Nina mendapati Iki duduk di sampingnya. Terbesit tanya dalam benaknya kenapa mata Iki memerah seperti orang yang baru habis menangis. "Iki, kamu kenapa?" tanya Nina kemudian.
Rifki menarik senyum dikedua sudut bibirnya. Dia memang tadi menangis, menangis karena takut Nina kenapa napa. "Aku nggak papa," lirihnya berbohong.
"Hmmm. Aku tahu, kamu takut aku kenapa napa, kan? Ayo ngaku," tertawa, Nina meledek Iki.
Ikut tertawa, Iki memeluk Nina. Setelah meminum obatnya, Nina kembali sehat seperti sedia kala. Namun dia tidak diizinkan bekerja oleh Rifki. Nina boleh ikut ke Warkop namun bukan untuk bekerja, melainkan hanya menjadi penonton setia.
Mama Sarah dan suaminya, Papa Nawan, masuk ke dalam kamar Nina. Mereka menatap serius putri mereka itu. Terlihat Papa Nawan mengambil tempat di sisi tempat tidur dekat Iki. Sementara Mama Sarah di sebelahnya.
"Nina, maaf kalau Papa lancang–tapi ini untuk memastikan sesuatu," jelas Papa Nawan ragu untuk meneruskan pertanyaannya. "Apa dulu kamu dan mantan pacarmu telah___"
Sebelum meneruskan, Nina menggeleng terlebih dahulu. "Aku berani bersumpah, Pa–sampai detik ini aku masih menjaganya. Aku masih perawan."
Bernapas lega, Papa Nawan dan Mama Sarah tersenyum. Jika benar begitu, maka putri mereka itu hanya masuk angin saja sehingga muntah muntah.
Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa ujian akhir semester telah di depan mata. Tepatnya hari ini, Nina dan Iki bersiap siap ke sekolah. Kedua pasangan muda itu telah menyiapkan jawaban sebanyak mungkin di otak mereka–berharap soal yang keluar nantinya adalah soal yang memiliki jawaban yang direkam di otak mereka.
__ADS_1
"Nina, sudah apa belum?" tanya Iki di lantai satu seraya menatap jam di pergelangan tangannya. "Enam belas menit lagi," gumamnya pelan. Lalu menatap ke arah tangga dan Nina belum juga keluar dari kamar.
"Nina ...." panggil Rifki lagi. Kali ini suaranya begitu besar.
"Maaf Iki, aku sembelit jadinya lama di toilet." Tergesa gesa, Nina menghampiri Iki.
"Ayo cepat, kita udah terlambat," Iki segera menarik tangan Nina.
Dan benar saja, saat Nina dan Rifki tiba di sekolah, para siswa baru saja bubar dari barisan. Rifki dan Nina tetap masuk setelah dibukakan pintu pagar oleh satpam namun keduanya diminta menghadap ke ruang guru. Tanpa berpikir panjang, Nina dan Iki segera ke sana. Setelah mendapatkan hukuman, keduanya berlari masuk ke dalam kelas.
"Semangat, Clara! Kamu harus buktikan ke Alan kalau kamu itu bisa mendapatkan nilai yang bagus!" Sinta berucap seraya memijat pelan bahu sahabatnya dari belakang.
"Hmm," Clara mengangguk. "Kau tahu, pagi tadi pas aku datang, dia mengolok olok ku, mengataiku anak beban orang tua. Cis!" Clara menampilkan eskpresi kebencian. "Dia nggak tahu apa-apa tentang aku dan dia mengataiku beban orang tua!" Sedikit kesal, Clara membuka bukunya lagi lalu kembali belajar.
Nina tertawa mendengarnya. Begitu juga dengan Sinta dan yang lain. Guru yang mengawas pagi ini adalah Pak Denis, karena memang mata pelajaran yang pertama adalah Matematika. Mata pelajaran yang selalu bikin para siswa kesal, suntuk dan sebagainya.
"Jangan lupa tulis nama kalian karena Bapak bukan Cenayang!" tegas Pak Denis memberitahu.
__ADS_1
Para siswa ingin tertawa namun berusaha sebisa mungkin untuk tidak tertawa. Bagaimana tidak, yang disinggung Pak Denis itu adalah Nina dan Clara. Dulu, saat semester ganjil, mereka berdua lupa menulis nama mereka. Dan sekarang, di semester genap ini, Pak Denis tidak mau jadi cenayang palsu.
"Nina, Clara, tulis nama kalian dengan menggunakan huruf kapital, SEMUANYA menggunakan huruf kapital, paham!" Menatap Nina lalu Clara.
"Paham, Pak!" balas Nina dan Clara bersamaan.
Ujian akhir semester di mulai, para siswa terlihat serius membaca soal yang ada lalu menjawabnya dengan teliti. Karena salah perhitungan awal, maka akhirnya pun akan beda. Salah rumus maka akan salah jawaban.
"Apa kamu bisa menjawabnya?" tanya Iki pelan.
"Hmm," jawab Nina tak kalah pelan.
Menjawab dengan penuh percaya diri, Iki dan Nina selesai mengerjakan soal sebelum waktunya. Keduanya tak langsung keluar, melainkan duduk cantik di kelas. Iki iseng, dia meraih tangan Nina lalu mengelusnya pelan.
Nina tersenyum malu-malu namun dia suka. Hingga kehadiran Pak Denis yang tiba-tiba membuat Nina dan Rifki dikeluarkan dari kelas. "Masih waktunya ulangan juga sudah mau pacaran! Dasar anak jaman sekarang, pacaran tanpa mengenal tempat!" cecar Pak Denis.
Diluar kelas, Iki dan Nina duduk di kursi taman. Nina bersandar kepala di bahu Iki, lalu membaca catatan untuk mata pelajaran berikutnya.
__ADS_1
"Nina, jika aku bilang aku menyukai kamu, apa kamu akan percaya?" Iki menatap Nina yang seketika menutup bukunya.
"Nggak percaya–karena aku tahu, kamu begitu mencintai Novi. Kamu mengabaikannya karena kamu kecewa padanya, dia memilih Haikal daripada kamu. Dan sekarang, kamu bersikap cuek padanya–cuek hanya karena ingin membalaskan rasa sakit yang dia torehkan. Benar, kan?"