Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA
Episode 38


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Rifki mendarat dengan selamat di Bandara Oesman Sadik. Rifki yang masih merindukan istrinya tentu terlihat tak bersemangat. Menenteng tasnya, dia berjalan ke luar hingga di depan jalan. Di sana sudah ada Gio yang menjemputnya.


"Bagaimana keadaan Nina?" tanya Gio saat mereka sudah dalam perjalanan ke warkop.


"Nina_" Rifki terdiam sesaat. "Penglihatannya perlahan bermasalah," lirih Iki. "Gio, antar aku pulang ke rumah ya. Aku mau ambil beberapa pakaian untuk dibawa ke warkop. Kemungkinan besar aku akan bermalam di sana hingga Nina kembali."


Setibanya di kompleks BTN Sirna, Iki langsung saja masuk ke dalam rumahnya. Dia keluar sambil membawa satu tas ransel yang berisi pakaian. Dia memanggil Sukini namun sepertinya Sukini menginap di rumah Pamannya di Amasing Kali. Kembali ke Warkop, hanya beberapa menit saja mereka sudah sampai.


"Gio, aku istirahat dulu ya," ucap Iki lalu naik ke lantai dua.


Tangisnya pecah di sana saat melihat foto Nina yang berjejer di dinding kamar. Foto dari mereka kecil hingga mereka SMK, Bahkan ada foto pernikahan mereka di dinding. Iki segera menyeka air matanya lalu melakukan panggilan video bersama sang Mama.

__ADS_1


"Halo, Ma–aku udah sampai. Dan sekarang di warkop. Mama di mana?"


"Mama di luar, Sayang–baru pulang dari beli roti tawar. Oh ya, jangan larut dalam kesedihan ya. Nina aman di sini, ada Mama dan mertua kamu yang siaga jagain dia."


"Ya udah. Mama, berikan ponselnya ke Nina dong, aku mau bicara sama dia," pinta Iki.


"Tunggu bentar, ini Mama udah di depan kamar Nina." Masuk ke dalam, Mama Riana menyerahkan ponselnya pada Nina. "Nina, Iki mau bicara sama kamu,"


"Halo, Iki. Kamu udah sampai?" tanya Nina.


Cukup lama mereka berbincang, hingga kehadiran dokter membuat Rifki kembali berbicara dengan Mama Riana. "Mama, cas ponsel Nina sampai ful. Nanti malam aku mau video call sama dia sampai pagi. Aku nggak akan ganggu istirahatnya tapi aku mau temani dia walau hanya lewat panggilan video."

__ADS_1


.


.


Matahari mulai terbenam, dan kali ini Bacan tak dilanda hujan. Bahkan di langit sana banyak bintang yang berkedip kedip. Dalam indahnya malam, Rifki teringat Nina yang kini terhalang jarak dengannya. Termenung, Rifki mengingat kembali masa masa saat bersama Nina.


Hembusan angin yang masuk lewat jendela, seakan membisikan rindu. Iki segera mengambil ponselnya kemudian melakukan panggilan video dengan Nina. Perbedaan jam menjadi alasan kenapa Nina terlambat menjawab panggilan video dari Iki.


"Iki," panggil Nina yang menatap ke arah camera. Iki bisa melihatnya namun dia tak bisa melihat Iki.


Manik mata Iki kembali berkaca kaca, ditatapnya Nina di layar ponsel dimana bibir wanita itu nampak pucat, namun senyumnya tak pernah pudar. "Nina, kuat ya, jangan pernah menyerah. Aku__" Iki tak lagi dapat membendung air matanya. Ia menitikkan air mata namun tak menimbulkan suara. "Nina, tunggu bentar ya, aku ke toilet dulu," alibinya.

__ADS_1


Masuk ke dalam kamar mandi, Iki menangis di sana. Berusaha menguasai dirinya, lalu kembali ke kamar. Dia meraih ponselnya, dan Nina masih stay di depan camera. Tersenyum, Iki menyentuh wajah Nina yang di layar.


"Maafkan aku, Mama. Tapi sepertinya aku harus kembali menemani istriku." batin Iki.


__ADS_2