Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Luka El.


__ADS_3

Kanaya mengikuti langkah lebar Rafael yang berjalan didepannya. Dengan sedikit kesulitan menyamai langkahnya, membuat Kanaya sering tertinggal dibelakangnya.


Saat ini, Rafael membawa Kanaya ke kediamannya di korea, untuk bertemu adik Kanaya yang sudah lebih dulu berada dikediamannya dibawa anak buah Steve.


"Selamat malam tuan Rafael." Sapa wanita setengah baya kepada Rafael.


Rafael hanya mengangguk singkat. " Buk Ana. Tolong antar dia ke kamar tamu kecil saya." Perintah Rafael pelan. Wanita yang dipanggil bu Ana pun mengangguk sopan mendengar perintah majikannya.


"Mari silahkan nyonya. Lewat sini." Ucap bu Ana dengan nada sopan, menunjuk jalan didepannya menggunakan sebelah tangannya.


Kanaya mengikuti langkah wanita paruh baya didepannya dengan tenang. Sama sekali tidak terganggu dengan daerah sekitarnya. Terutama dengan pandangan penasaran para pelayan.


Bu Ana membuka pintu sebuah ruangan didepannya. "Silahkan nyonya."


Kanaya masuk lebih dalam kedalam ruangan itu. Kamar luas dengan perabotan mewah ada didepannya saat ini. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


Pandangan Kanaya jatuh pada tubuh mungil yang sedang berbaring telungkup diatas ranjang. Tubuhnya terlihat bergetar, Kanaya tau, jika tubuh kecil didepannya sedang menangis saat ini.


"El." Panggil Kanaya dengan mata berkaca-kaca. Tidak menyangka jika dia akhirnya bisa bertemu dengan adik kecilnya lagi.


El langsung menolehkan kepalanya cepat kearah sumber suara yang sudah sangat ia hapal suaranya diluar kepalanya. "Kakak." Teriak El meloncat kearah tubuh Kanaya.


Dipeluknya erat tubuh besar kakaknya itu. Menangis sekuat yang dia bisa, El melampiaskan rasa takut yang sedari kemarin dia rasakan. Berharap, bahwa dia tidak akan mengalami hal mengerikan seperti itu lagi mulai saat ini.


"Ssstttttt....Tidak apa-apa!! Kakak sudah ada disini sekarang.." Ucap Kanaya menenangkan El. El tetap menangis dipundak Kanaya, dengan suara pilu khas anak kecil miliknya.


"El takut....Jangan tinggalkan El kak....El janji tidak nakal lagi....El akan semakin rajin belajar...Jangan buang El kak...Mulai sekarang El akan selalu patuh dengan semua ucapan kakak...El janji akan jadi anak baik.." Racau El dalam tangisnya.

__ADS_1


Kanaya ikut tergugu mendengar racau adik kecilnya. Tidak salah jika Kanaya harus mengorbankan hidupnya jika pada akhirnya, dia bisa kembali memeluk dunianya. Dunia kecilnya.


Menatap wajah Kanaya, El menggeleng memelas memandang kakaknya. "El akan benar-benar akan menjadi anak baik kak...El tidak akan menyusahkan kakak mulai sekarang...El akan membantu kakak bekerja kalau perlu...El tidak akan menyulitkan kakak..El janji kak..." Ucap El dengan suara tersendat-sendat karna tangisnya. Dan kembali memeluk Kanaya.


"Ya. Kakak janji tidak akan meninggalkan El mulai saat ini." Janji Kanaya pelan.


El masih terisak dalam dekapan Kanaya, masih dengan memeluk leher Kanaya erat dengan air mata yang terus mengalir di pipi chuby nya. El terus meracau memelas tidak ingin dibuang dan akan menjadi adik yang baik untuk Kanaya.


"Kakak janji!!"


"Ya. Kakak janji."


Malam itu, Kanaya habiskan dengan memeluk erat tubuh kecil adiknya, El. Seakan dia takut jika hari esok, dia tidak akan bisa memeluk El se'erat ini.


El pun sama, dia terjaga sepanjang malam. El benar-benar takut, jika dia tertidur. Kakaknya akan pergi meninggalkannya sendiri. Sama seperti kedua orang tuanya, yang meninggalkannya pergi.


"El akan menjaga kakak malam ini!!"


"Kakak tidak akan kemana-mana El. Kakak akan memeluk El sampai pagi!!"


"Apa setelah pagi, kakak akan meninggalkan El?" Tanya El polos.


"Tentu tidak. Kenapa El bertanya seperti itu?"


"Dulu, ibu meninggalkan El. Setelah semalaman memeluk El, paginya ibu pergi meninggalkan El." Ucap El lirih.


Kanaya jelas mendengar ucapan lirih adiknya. Hati Kanaya terasa linu mendengar setiap pertanyaan polos yang keluar dari bibir adiknya. Tidak menyangka, jika adiknya juga ikut merasakan sakit karna perbuatan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Kanaya kira, hanya dia disini yang terluka. Tapi nyatanya, adiknya jauh lebih dalam merasakan luka karna ditinggalkan kedua orang tuanya.


"Bukankah kakak sudah berjanji tidak akan pergi meninggalkan El!!"


"Dulu, ibu juga berjanji akan selalu menjaga El."


"Benarkah?" Tanya Kanaya lirih. El mengangguk dengan mata polosnya mendongak, memandang kearah kakaknya yang tidur miring menghadap kearahnya.


"Baiklah. Kalau begitu kakak tidak akan berjanji malam ini. Tapi kakak akan bersumpah.. Bagaimana?"


"Apa bersumpah dan berjanji itu tidak sama?"


"Hmmm.." Jawab Kanaya sambil menepuk punggung El pelan. "Jika berjanji kita masih bisa mengingkari...Tapi jika bersumpah...Kita tidak akan bisa ingkar, karna tuhan bisa marah jika kita mengingkarinya...Dan tuhan bisa menghukum kita karna itu.." Jawab Kanaya menjelasakan, El diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir kakaknya.


"Kakak."


"Hmmm."


"Kapan kita pulang? Kenapa kita disini? El lebih suka rumah kita, dari pada disini!!"


"Nanti. Setelah kakak menyelesaikan pekerjaan kakak."


"Tapi kakak bersumpahkan tidak akan meninggalkan El disini?"


"Ya. Kakak akan selalu membawa El...Kemana pun kakak pergi." Ucap Kanaya mantap.


Dan ucapan Kanaya seakan lagu tidur yang begitu mujarap untuk El. Untuk menemani tidurnya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2