
Rafael hanya diam memandang El yang menatapnya penuh permusuhan. Jika biasanya dijam makan malam seperii ini El akan banyak berceloteh tentang apa pun berbeda sekarang yang hanya diam dengan tatapan marah pada Rafael.
Tapi, semua itu tidak membuat Rafael terusik. Ia hanya diam dengan tatapan cuek.
"Besok kita akan fiting baju pengantin. Bersiaplah. Karna kita akan berangkat pagi-pagi sekali." Ucap Rafael dengan tangan sibuk dengan gedget. Kanaya hanya meliriknya sekilas tanpa mengangguk atau menjawab ucapan Rafael.
"Kanaya." Panggil Rafael.
"Ya." Jawab Kanaya sekenanya.
"Kakak gak boleh pelgi-pelgi. Kakak halus dilumah telus sama El." Ucap El menatap Rafael marah.
"El boleh ikut kalau mau."
"GAK-"
"EL." Tegur Kanaya.
Rafael melirik Kanaya yang dengan lantang menegur El. Berdiri dari duduknya. "Selesai makan, keruangan baca, aku ingin berbicara sesuatu dengan mu." Ucap Rafael cuek.
Rafael langsung melenggang pergi, meninggalkan dua anak manusia yang berbeda umur menikmati makan malamnya.
__ADS_1
***
Setengah jam kemudian, Kanaya menyusul Rafael diruang baca, Rafael yang sedang asik dengan leptopnya pun menoleh saat mendengar pintu diketuk, setelah bergumamkan kata "Masuk" muncullah Kanaya dengan baju tidur panjang, dimata Rafael saat ini, Kanaya terlihat sangatlah cantik. Dengan wajah polos tanpa riasan. Dan bibir merah natural, membuat sesuatu dalam diri Rafael bergejolak dan membakar keronggkonganya. Tanpa sadar Rafael menelan ludah gugup.
Dengan mata mengerjap berulang kali, Rafael menggeleng-gelangkan kepalanya berulng kali. Berharap dapat menghapus pikiran-pikiran konyol dari otaknya.
Berfikir mungkin karna beberapa hari ini, hasratnya tak tersalurkan membuat Rafael menjadi sedimit tidak waras. Bahkan hanya untuk menelan ludah sekali pun, sangat lah sulit bagi Rafael.
"Duduklah." Ucap Rafael sedikit serak.
Hening, tidak ada yang membuka suara. Rafael hanya terus melirik Kanaya yang hanya diam seperti patung didepannya.
"Ak---aku....Ehmm." Dehem Rafael menghilangkan kegugupannya. "Apa kita butuh rumah baru?" Pertanyaan yang dari tadi mengusik Rafael lolos begitu saja.
"Hmmmm?"
"Kenapa kita butuh rumah baru?" Tanya Kanaya pelan.
"El, dia nampak tidak nyaman tinggal disini."
"Tidak masalah, lama-lama dia akan terbiasa."
__ADS_1
Hening, Rafael bingung harus menanggapi seperti apa ucapan wanita didepannya. Jika biasanya wanita-wanita diluar sana yang berusaha mengajaknya mengobrol, dan berusaha menrik perhatiannya berbeda dengan wanita disepannya saat ini. Terlihat tidak peduli dan masa bodo.
Tapi tunggu, kenapa Rafael peduli dengan wanita ini.
Ingat Raf, dia hanya calon istri kontrak mu. Jangan bersikap berlebihan. Teriak hati kecil Rafael.
"Apa? Ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" Tanya Rafael mengabaikan teriakan isi hatinya.
"Maksud anda?"
"Lupakan. Aku hanya ingin mengingatkan. Kamu tidak akan pernah bisa mundur dari prnikahn ini. Jadi-" Manatap Kanaya lekat. "Jangan melakukan apapun yang bisa membahayakan nyawa kalian."
"Saya tau. Anda tidak perlu khawatir." Ucap Kanaya tegas, tapi terdengar dingin ditelinga Rafael.
"Kamu bisa kembali kekamar mu."
Tanpa mengatakan apapun, Kanaya langsung berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Rafael.
Rafael menjambak rambutnya frustasi. Hati dan pikirannya mulai tidak searah saat ini, membuat perasaan tidak nyaman mulai bersarang didalam diri Rafael.
Dengan wajah frustasi dan pikiran kacau. Rafael meraih ponsel disaku celananya.
__ADS_1
"Stev, aku ingin makan malam penutup malam ini. Aku tidak mau yang sudah disentuh siapapun. Cari yang baru, kirim keapartement ku. Sekarang." Ucap Rafael tak terbantahkan.
Tanpa menunggu jawaban disebrang telpon, Rafael langsung matikan tenponnya sepihak. Dan melemparnya keatas meja. Dengan nafas memburu, Rafael butuh pelampiasan malam ini.