Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Ragu.


__ADS_3

Kanaya mendesah panjang setelah membaca pesan singkat dari mamanya. Lagi-lagi ibu mertuanya memaksa dia untuk ikut menemani berbelanja. Ini sudah kesekian kalinya dalam seminggu mama mertuanya memaksanya untuk ikut berbelanja, hanya saja, Kanaya ragu untuk menerima tawaran mertuanya. Walau saat pertama kali Rafael menikah dengannya, dan memberikannya kartu kredit untuk kebutuhannya dan El. Tapi Kanaya tidak pernah sekali pun menggunakannya.


Menurutnya, tinggal dengan semua kebutuhan dirinya dan El terpenuhi saja, sudah lebih dari cukup. Tidak perlu lagi memberikannya uang dan yang lain-lain.


Suara dering ponsel ditangannya menyadarkan Kanaya pada lamunan singkatnya. Ditatapnya ponsel ditangannya, antara ingin mengangkat atau pura-pura tidak tau dan mengabaikannya seperti biasa. Setelah berperang dengan perasaannya, akhirnya Kanaya menyerah. Digesernya tombol hijau di ponselnya.


"Hallo." Sapa Kanaya setelah menempelkan ponsel di telinganya.


"Hallo, sayang... Kamu sedang sibuk?"


Kanaya melirik kearah pintu, menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan mama mertuanya.


"Emmm, tidak ma. Naya sedang free hari ini."


"Benarkah? Kalau begitu, kamu bisa kan hari ini temani mama belanja? Mama sedang bosan sayang." Apa semua orang kaya seperti mama mertuanya. Jika bosan akan berbelanja, menghabiskan uang sesuka hati nya. Batin Kanaya.


"Hallo, Kanaya?" Panggilan dari sebrang telpon menyadarkan Kanaya dari lamunan singkatnya.


"Iya ma, ehmmmm, iya nanti Kanaya akan temani." Jawaban ragu Kanaya langsung mendapat sorakan penuh bahagia dari mama mertuanya. Bahkan Kanaya bisa mendengar suara berisik, seperti mama mertuanya yang berjalan cepat hingga berteriak heboh. Mengatakan jika ia akan belanja dengan menantunya.


"Baiklah, kalau begitu nanti mama jemput ya... Oh iya, El juga jangan lupa diajak ya sayang... Biar dia juga gak bosen ditinggal sendiri di rumah."


"Iya ma." Jawab Kanaya singkat.


Setelah sambungan telpon terputus, Kanaya hanya diam dengan pandangan bingung.


Sekarang bagaimana lagi? Apa dia harus membawa ikut serta El, sedang akhir-akhir ini mood adiknya sedang buruk. Bingung dengan dilema hatinya, Kanaya memilih berjalan melangkah keluar kamarnya. Dan mencari keberadaan adiknya.


"El." Panggil Kanaya begitu matanya melihat El yang sedang duduk disamping kolam ikan dibelakang rumah. Tubuh gempil nya nampak begitu menggemaskan, bahkan stelan baju salah satu pahlawan kebanggaan nya nampak begitu pas ditubuhnya. Membuat ia semakin bertambah tampan dan menggemaskan.


El memutar kepalanya cepat, senyumnya langsung terbit begitu Kanaya, kakaknya berjalan cepat kearahnya. Dengan tangan kecil, ia melambai-lambai kearah Kanaya. Memanggil Kanaya agar berjalan lebih dekat kearahnya.


"Apa, kakak? Apa?" Serbu El dengan tubuh menoleh kesamping.


"El lagi apa?"

__ADS_1


Telunjuk kecil El mengarah kearah kolam ikan, dengan mata mengerjab lucu. "Ini, El liat ikan... Ikan kecil-kecil, cantik... Lucu-lucu.. El suka."


"Benarkah?" Tanya Kanaya mengusap kepala El sayang.


"Iya... Di lumah dulu gak ada.. El suka sini kakak Naya."


Kepala Kanaya mengangguk mengerti. "Kakak mau pergi, El mau ikut?" Tanya Kanaya berjongkok menyamakan tinggi tubuhnya dengan tubuh kecil El.


"Mana ka? Kakak mau pelgi mana?"


"Keluar."


"Lama gak?" Tanya El mengerjab lucu. Membuat Kanaya gemas di


"Gak tau. Ayo, El ikut aja yuk." Ajak Kanaya mengulurkan tangannya yang langsung disambut dengan semangat oleh El.


Tanpa banyak bertanya, El menggandeng tangan Kanaya dengan bibir bersenandung kecil membuat senyum samar Kanaya terbit. Ia bahagia melihat adik yang ia sayang begitu terlihat bahagia. Ternyata rasa sakit yang ia rasakan saat ini masih harus tetap ia syukuri karna mampu memberikan kebahagian pada adiknya. Juga kehidupan adiknya, tapi setidaknya bukan hanya adiknya tapi juga dirinya.


...----------------...


"Steve." Panggil Rafael berteriak.


Steve langsung masuk keruangan Rafael begitu mendengar panggilan bosnya. "Ya tuan?."


"Siapkan mobil." Perintah Rafael.


"Tuan ingin pergi?" Tanya Steve sanksi. "Tapi lima menit lagi tuan ada meeting."


"Baiklah suruh seseorang menjemput mama di mall. Katakan aku sedang banyak kerjaan."


"Baik tuan."


Begitu Steve keluar dari ruangannya tidak lama dering ponsel Rafael berbunyi. Menandakan ada telpon masuk.


"Ya ma." Sapa Rafael tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Kamu gak mau jemput mama?" Rafael mengusap wajahnya kasar begitu suara memekak kan mamanya terdengar.


Dengan sabar, Rafael pun berkata. "Rafa ada meeting penting ma. Jadi biar orang suruhan Rafa saja yang menjemput mama."


Mendengar bujukan putra semata wayangnya membuat Rahayu mendesis tak suka. "Mama gak mau tau, pokoknya kamu harus jemput mama sekarang. Titik."


"Ma." Protes Rafael tak terima.


"Kenapa? Kamu mau marah?" Rafael memijit keningnya lelah. Jika mamanya sudah memberi perintah maka tidak ada yang bisa menolak, bahkan Rafael sekali pun.


"Nanti Rafa hubungi mama lagi, sekarang Rafa harus meeting. Terserah kalau mama mau marah." Ucap Rafael kesal. Dengan cepat ia pun memutuskan sambungan telpon, melempar ponselnya sembarang arah.


Rafael kesal saat ini, pekerjaannya sangat padat hingga membuat ia harus selalu pulang larut. Tapi mamanya, dengan seenak hati malah memintanya untuk menjemputnya. Batin Rafael.


DRETTTTT.... DRETTTT...


Sedang asik-asiknya melamun, dering ponsel kembali mengganggunya. Dengan malas ia pun meraih ponsel yang tadi sempat ia campakkan. Matanya langsung sedikit melebar setelah melihat pesan apa yang telah dikirimkan oleh ibunya. Hingga membuat Rafael langsung berdiri dari duduknya dan melangkah terburu-buru.


"Tuan, ada masalah?" Tanya Steve begitu melihat Rafael berjalan terburu-buru keluar ruangan.


"Steve, tolong handle meeting kali ini. Saya ada urusan sebentar." Jawab Rafael cepat. Bahkan tanganya dengan tidak sabaran memencet tombol lift.


"Tapi tuan ini-" Ucapan Steve terputus begitu melihat bos menatapnya dengan pandangan perintah.


Sebelah Alis Rafael terangkat begitu mendengar nada protes Steve, bahkan dengan santainya ia berkata. "Urusan ini bahkan lebih penting Steve, dari pada meeting itu. Jadi pergilah!!" Usir Rafael dengan isyarat tangan.


Walau dengan pandangan tak mengerti, kepala Steve tetap mengangguk setuju dengan dibarengi pintu lift yang tertutup rapat.


Rafael dengan santainya meninggalkan Steve yang bertanya-tanya kemana bosnya akan pergi.


Hingga membuat Rafael yang gila kerja, rela meninggalkan meeting untuk pertama kalinya. Setau Steve, dia selalu tau jadwal penting bosnya. Dan hari ini pun, tidak ada jadwal pertemuan penting dengan investor diluar jam kantor. Lalu seperti apa yang dimaksudkan Rafael lebih penting dari meeting itu.


Kendati memilih mencari tau lebih dalam, Steve memilih berbalik, melangkah pergi dengan perasaan sedikit bertanya-tanya dan heran.


Akhir-akhir ini bosnya memang nampak sedikit aneh dan juga banyak berubah. Lebih

__ADS_1


__ADS_2