Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Cerita baru.


__ADS_3

Pernikahan Rafael dan Kanaya pun berjalan dengan lancar, dan semua itu tidak luput dari wajah murung El yang semakin terlihat mendung. El semakin terlihat tidak suka pada Rafael, bahkan terang-terangan bersikap ketus padanya. Membuat Rafael terkadang merasa gemas dan lucu secara bersamaan.


Sedang Kanaya sendiri, seperti biasa, hanya diam dan pasrah dengan semua keputusan sang tuan muda Rafa. Tidak berkomentar atau bahkan protes. Ia seakan berubah menjadi wanita penurut dan semakin sulit untuk ditebak. Membuat Refael selalu menerka-nerka apa isi hatinya dan pikiran sang istri.


Memasukkan kedua tangan kedalam saku celana, Rafael melangkah lurus kearah kamar tempat Kanaya dan El tidur selama ini. Dengan tatapan lurus kedepan. Amarahnya memuncah saat ini, ketika Rafael sepulang kerja tadi dan memdapati kamarnya nampak kosong dan tidak menemukan keberadaan istri barunya disana. Seharusnya kan, mereka menikmati malam pertama mereka, melakukan adegan panas yang bisa membuat ranjang terus berdecit karna ulah panas mereka. Atau bahkan, melampiaskan rasa gejolak Rafael yang selama acara resepsi terus membara di dalam dirinya. Rafael berjanji, ia akan membuat Kanaya memdambakan sentuhan dan belaiannya. Hingga Kanaya akan selalu ketagiha dan mengharapkan Rafael menyentuhnya setiap saat, seperti kebanyakan wanita yang selama ini Rafael temui.


Tok...Tok....


Rafael berulang kali mengetok pintu tidak sabaran didepannya. Membuat sang pemilik kamar terdengar berjalan tergesa-tergesa didalam kamar, dan ketika Kanaya membuka pintu. Rafael dikejutkan dengan wajah sembab wajah sang istri. Membuat mata tajam milik Rafael menatap luruh kearah satu objek, yaitu wajah Kanaya.


Membuang nafas kasar. "Aku akan kekamar anda, nanti. Tapi biarkan aku membujuk El terlebih dulu." Ucap Kanaya dingin. Tanpa menunggu jawaban dari Rafael, Kanaya langsung menutup pintu kamar. Membuat Rafael yang berdiri didepan pintu terperanjat kaget, dan menatap tidak percaya pada pintu yang tertutup begitu saja didepannya. Masih dengan wajah sedikit syok dan tidak percaya, Rafael mengusap wajahnya kasar.


Istri barunya benar-benar luar biasa. Batinya.


Belum pernah ada wanita yang bersikap seperti itu padanya. Terlebih, sama sekali tidak memperdulikan keberadaannya. Bahkan mengacuhkan dirinya. Sumpah demi apapun, semua ini sangat melukai harga diri Rafael dan egonya. Dengan tangan terkepal erat dan rahang mengeras. Rafael berbalik, dan melangkah lebar untuk menjauh dari kamar itu.


Kita lihat saja Kanaya, siapa yang akan tetap mengabaikan dan abaikan disini. Batin Rafael murka.


****


Detik, menit, waktu terus berputar. Membuat Rafael berulang kali melirik pintu kamarnya, berharap ada seseorang yang masuk dari sana. Tapi nyatanya tak kunjung diketuk atau bahkan dibuka dari luar. Merasa kesal, marah pada dirinya sendiri, yang bisa bersikap tidak biasa. Rafael berulang kali menendang selimut dikakinya, melampiaskan kekesalan dan amarah dalam dirinya. Bahkan ranjangnya sudah acak-acakan karna ulah konyolnya. Membuat Rafael kesal bukan main.

__ADS_1


Rasa tidak sabaran, penasaran dan kesal membaur menjadi satu. Membuat Rafael berulang kali bersikap kekanak-kanakan. Seumur hidup, baru kali ini Rafael menunggu wanita. Dan ia berharap, penungguannya tidak akan sia-sia dengan hasilnya nanti.


Ketukan pintu dari luar secara tiba-tiba, membuat Rafael langsung menegakkan tubuhnya dari atas ranjang. Melangkah cepat, dan sedikit tidak sabaran Rafael lagsung membuka pintu kamarnya.


Begitu pintu dibuka, wajah penuh sesal milik Stev lah yang langsung berada didepan Rafael. Membuat Rafael hampir meninju pintu didepannya jika saja tidak mengingat Stev selalu bisa membaca gerak-geriknya.


"Selamat malam tuan." Sapa Stev sopan.


"Ada apa?" Ketus Rafael bersedekap.


"Saya ingin melaporkan masalah perusahaan dicabang utara, yang mengalami masalah. Produk-"


Mengusap wajah frustasi. "Sial." Umpat Rafael kencang. Membuat Stev didepannya melebarkan matanya sedikit syok. Tuannya tidak pernah sekacau ini sebelumnya. Ada apa? Batin Stev.


"Ada masalah tun?" Pertanyaan dengan nada penasaran langsung lolos begitu saja dari bibir Stev, membuat Rafael meliriknya tajam.


"Jangan ganggu aku, pulanglah." Ucap Rafael datar. Tanpa menunggu perintah dua kali Stev langsung berbalik, meninggalkan Rafael yang menutup pintu kuat. Hingga menimbulkan bunyi BLAM dan getaran disisi pintu.


Nafasnya memburu saat ini, tapi belum Rafael beranjak dari pintu didepannya. Ketukan pintu didepannya kembali terdengar, membuat wajah Rafael langsung merah padam saat ini. Dengan cepat Rafael meraih gagang pintu dan membukanya kasar.


"YAK...KAU INGIN KUPECAT SEKARANG, HAH?" Teriakan kuat Rafael, membuat orang yang berdiri didepannya terlonjak kaget dan sedikit melangkah mundur.

__ADS_1


Mata Rafael melotot mau keluar, begitu mengetahui ternyata Kanaya lah yang berdiri didepannya bukan Stev, sekertarisnya.


Berdehem pelan, Rafael berusaha mereda nafasnya yang terus memburu dan mengontrol amarah dalam dirinya.


Menggeser tubuh tegapnya. "Masuklah." Ucap Rafael sedikit ketus. Kanaya melirik pelan Rafael melalui ekor matanya, baru kemudian melangkah masuk dengan pelan. Membuat kedua mata Rafael tidak berhenti memperhatikan gerak-gerik Kanaya. Menurutnya, saat ini Kanaya terlihat begitu berbeda. Rafael merutuki pikirannya yang terus berfikir konyol.


Mnutup pintu pelan, Rafael semakin mengeratkan genggamannya digagang pintu. Sedikit mengusir rasa tidak nyaman dalam dirinya.


Rafael *****, jangan bilang kamu gerogi saat ini. Hei, kamu bukan lagi anak ingusan yang baru pertama kali meniduri wanita. Dan berada disatu kamar yang sama. Jangan menjadi pengecut Rafa. Batinnya mencemooh.


Setelah perdebatan hati dan gejolak pikirannya, Rafael berbalik dan menyusul Kanaya masuk kedalam kamarnya. Disana, Kanaya duduk tenang diatas kasur dengan tatapan mata lurus. Terlampau tenang malah, membuat Rafael salah tingkah sendiri.


Tidak hanya salah tingkah, bahkan kini matanya membola besar ketika Kanaya tiba-tiba berdiri dari duduknya dan melepas jaket rajutnya.


"Apa yang-" Ucapan Rafael tercekat ketika melihat Kanaya menatap lurus kearahnya.


"Bukankah saya datang kesini, untuk ini?"


Pertanyaan dengan nada dingin Kanaya membuat Rafael mengumpat kuat. Dengan tatapan menyalang murka Rafael melangkah lebar kearah Kanaya. Menyambar bibir merah milik Kanaya yang sedari kemarin menggodanya, menyalurkan rasa marah, frustasi dan kesal dalam dirinya. Hingga menimbulkan suatu gelenjar aneh dalam dirinya.


Kali ini, Rafael akan melakukan apa yang ada dalam otak pintarnya. Menaklukkan Kanaya dan sikap dinginnya.

__ADS_1


__ADS_2