
Rafael menatap layar leptop didepannya dengan malas. Setelah kejadian beberapa hari lalu, lebih tepatnya malam pertamanya dengan Kanaya. Rafael lebih banyak menghabiskan malamnya diapartement. Pikirannya terus terbayang-bayang wajah sayu Kanaya saat mencapai puncak, dan desahan-desahannya selalu membuat pikiran Rafael tidak fokus.
Perasaan menginginkan, dan ingin dipuaskan kembali menggerogoti hati Rafael. Seakan Rafael sudah benar-benar kecanduan dengan tubuh istrinya.
Tok....Tok..
Ketukan pintu dari luar, membuyarkan lamunan singkat Rafael.
"Masuk." Ucap Rafael serak.
Stev masuk. "Selamat malam tuan." Rafael hanya bergumam malas menjawab sapaan sopan Stev.
"Anda membutuhkan sesuatu tuan?" Tawar Stev sopan.
Dengan tubuh sedikit malas, Rafael memutar kursinya. Dan berdiri dari duduknya. "Aku butuh wanita saat ini, Stev. SEKARANG....DISINI." Titah Rafael menatap lurus Stev.
Dengan patuh Stev mengangguk sopan. "Seperti biasa yang baru." Sambung Rafael yang langsung disetujui oleh Stev.
Setelah Stev melangkah pergi menjauh, dan suara pintu tertutup. Rafael langsung menghempaskan pantatnya kembali duduk dikursi kebesarannya.
Perasaannya masih sama kosong, dan hampa. Entah apa yang terjadi dalam dirinya, tapi yang jelas, Rafael kali ini menginginkan istrinya. Erangan wajah merona dan lenguhannya seakan mengganggu pikirannya.
Tubuh Rafael seakan begitu kecanduan dengan tubuh istri barunya, padahal sebelumnya, Rafael tidak pernah meniduri wanita yang sama dan menyentuh tubuh wanita lebih dari sekali.
Lalu kenapa sekarang berbeda, kenapa ia sangat menginginkan tubuh istrinya. Melirik jam dipergelangan tangannya.
__ADS_1
Decakannya langsung lolos begitu tau jika Stev baru keluar lima menit yang lalu. Dengan sedikit kesal, Rafael melangkah kearah dinding kaca. Menatap lurus bangunan-bangunan tinggi disekitar gedungnya. Rafael benar-benar tidak sabaran menunggu kedatangan Stev.
Karna tubuh bawah Rafael sudah sangat mengingunkan kepuasan.
Setelah mendengar ketukan pintu, dan Stev masuk dengan seorang wanita dibelakangnya. Rafael langsung menatap wanita itu datar.
"Keluar, Stev." Perintah Rafael yang langsung dituruti oleh Stev.
"Hai." Sapa wanita itu melangkah mendekat kearah Rafael.
Tanpa menjawab sapaan wanita itu, Rafael langsung melangkah lebar dan meraih tengkuk wanita itu. ******* bibirnya tak sabaran, pekikan tertahan wanita itu terdengar begitu Rafael ******* bibirnya.
Dengan kasar dan sedikit tergesa-gesa Rafael mencoba mencari sesuatu yang ia rasakan dari bibir Kanaya. Bukan rasa yang sama, Rafael malah merasa marah dan kesal pada dirinya sendiri.
Dengan terengah-engah, Rafael manjauhkan wajah wanita itu dari wajahnya. Menatap tajam wanita yang berdiri didepannya.
"STEV." Teriak Rafael. "Jauhkan wanita ini dari hadapnku." Sambung Rafael begitu Stev membuka pintu.
Tanpa banyak tanya atau berkomentar, Stev langsung menyeret lengan wanita itu keluar dari hadapan Rafael. Meninggalkan umpatan, dan sumpah serapah dari bibir Rafael. Begitu pun protesan tak terima wanita yang ia tarik.
Dengan kasar, Rafael menyambar jas yang berada disandaran kursi. Dan berjalan tak sabaran keluar dari ruangannya. Apa pun yang terjadi, Rafael akan menuntaskan masalahnya saat ini juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kanaya melirik jam diatas nakas dan pintu kamarnya bergantian. Ini sudah pukul sebelas malam, tapi suara ketukan tak sabaran dari arah pintu membuat kerutan dikeningnya kian bertambah.
__ADS_1
Membuka pintu kamarnya, mata Kanaya lansung terbelalak begitu tangan besar langsung menarik tubuhnya keluar.
"Apa---" Ucapan Kanaya langsung terputus begitu bibir Rafael membukam bibirnya. Dengan mata membesar, Kanaya mendorong paksa tubuh kekar Rafael.
"APA ANDA GILA." Amuk Kanaya. Saat ini mereka berada didepan kamar Kanaya, dan dengan se'enak jidat Rafael menciumnya. Apa pria ini sudah gila? Bagaimana jika ada yang melihat? Raung hati Kanaya tak terima.
Mengabaikan protesan istrinya, Rafael menarik lengan Kanaya paksa. Dengan sedikit berlari, Kanaya terus mengikuti langkah besar Rafael..
Setelah sampai didalam kamarnya, Rafael kembali menyambar bibir istrinya. Dengan tubuh terus menarik lebih rapat tubuh istrinya, Rafael terus menyecap rasa manis dan memabukkan bibir milik Kanaya.
Setelah merasa Kanaya kehabisan nafas, Rafael menjauhkan wajahnya. Menatap lapar pada wajah sayu milik Kanaya yang nampak begitu menggoda didepannya.
"Apa yang kau lakukan dikamar sialan itu?" Bisik Rafael serak.
"Apa---?" Rafael kembali menyambar bibir istrinya, menarik tangan Kanaya agar berpegangan pada lehernya. Dan terus memperdalam ciumannya.
Kanaya begitu kewalahn dengan serangan suami barunya. Suami? Ah, bolehkah Kanaya memanggil pria tak punya hati itu suami?
"Kita butuh bicara." Cetus Rafael dengan nafas memburu.
Dengan kasar, Kanaya mendorong dada bidang Rafael. Menjauhkan tubuhnya dari tubuh tegap Rafael.
Dengan tatapan dingin, Kanaya menatap tajam Rafael. "Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" Ucapan bernada datar dan dingin masuk kedalam pendengaran Rafael.
"Tapi, sebelum bicara. Aku menginginkanmu." Setelah mengatakan semua itu, Rafael langsung menyambar bibir istrinya. Yang mulai detik ini akan menjadi candu dan favorit Rafael.
__ADS_1
Mengabaikan pukulan penuh protes dari istrinya, Rafael terus menarik tubuh Kanaya hingga keatas ranjang. Dan menuntaskan semua gejolak dalam dirinya yang ingin dipuaskan.