
Kanaya hanya mengikuti langkah Rafael yang berjalan didepannya. Sedang El, berjalan disamping Kanaya dengan tangan menggenggam sebelah tangan Kanaya dengan erat. Sepertinya, El merasa asing dengan suasana rumah yang mereka kunjungi saat ini. Sama seperti Kanaya.
Rafael menoleh kearah Kanaya yang berjalan disampingnya. Mengulurkan sebelah tangannya, Rafael menunggu balasan uluran tangan Kanaya dengan sorot mengintimidasi.
Kanaya melirik telapak tangan Rafael didepannya dengan malas, namun pada akhirnya, Kanaya mengulurkan sebelah tangannya juga kearah telapak tangan Rafael dan langsung digenggam erat oleh Rafael.
"Ayo." Ajak Rafael santai.
Sedang El, pandangannya terus mengarah ke telapak tangan kakaknya yang berada digenggaman Rafael.
"Cepatlah. Kalian berjalan seperti siput. Begitu lambat." Cibir Rafael dengan nada mengejek.
Kanaya hanya diam mendengar cibiran dari Rafael. Terlalu malas untuk sekedar membalas atau meladeninya.
"Selamat datang tuan." Sapa Steve yang berdiri di pintu masuk. Rafael hanya mengangguk sekilas. Setelah itu, Rafael terus melangkah masuk lebih dalam kedalam rumah besar milik kedua orang tuanya. Yang terlihat sangat sepi.
"Dimana mama dan papa Steve?" Tanya Rafael pada Steve yang berjalan dibelakangnya.
"Di taman belakang tuan." Jawab Steve menunjuk pintu pembatas antara ruang tengah dan taman belakang.
Dengan santai Rafael menggandeng Kanaya masuk kedalam taman belakang. Disana, terlihat papa dan mamanya sedang berbincang hangat. Bahkan sesekali papanya mencuri ciuman di pipi mamanya. Cih, semua itu benar-benar menggelikan dimata Rafael.
Rahayu yang pertama kali menyadari kehadiran Rafael dengan seorang gadis yang menggandeng anak kecil disampingnya langsung penasaran dibuatnya. Melihat putranya mendekat, Rahayu langsung berdiri dan memandang putranya lekat.
"Hai mom." Sapa Rafael mencium pipi Rahayu
"Dia calon istrimu?" Tanya Rahayu memandang lekat kearah Kanaya yang berdiri didepannya dan menggenggam bocah kecil yang nampak takut dengan Rahayu.
Rafael mengangguk semangat. Menunggu bagaimana reaksi Rahayu, dalam hati Rafael tersenyum puas dengan pilihannya. Dia yakin, mamanya pasti tidak akan menyukai Kanaya dan menyuruhnya untuk membatalkan pernikahan. Dan setelah itu, Rafael akan menolaknya dengan tegas.
Dengan semua keras kepalanya. Rafael akan pura-pura cinta mati pada Kanaya hingga mamanya akan terus membujuknya dan memaksanya mencari wanita lain dengan alasan Kanaya bukan calon istri idaman.
Dengan begitu Rafael bisa terus meyakinkan mamanya, hingga sampai mamanya menyerah dan menyetujuinya. Setelah itu, Rafael akan menikahi Kanaya dan meminta Kanaya melahirkan penerus untuknya. Setelah lahir seorang penerus dan BUUUUM. Rafael akan langsung melayangkan gugatan cerai. Dan mengatakan pada mamanya bahwa, mamanya benar Kanaya bukan calon istri idaman.
Dengan begitu, mamanya akan menyetujui ide Rafael untuk menceraikan Kanaya dan kembali menikmati kebebasannya. Memikirkan semua ide itu, membuat Rafael tersenyum bahagia sendiri. Dan Rafael tidak akan disulitkan dengan yang namanya komitmen. Atau peraturan-peraturan bodoh soal pernikahan.
__ADS_1
"Benarkah?" Pertanyaan Rahayu yang kaget membuat senyum Rafael semakin lebar.
Tinggal menunggu waktu yang pas, pasti mamanya akan langsung meminta Stev untuk mengusir Kanaya. Dengan begitu, Rafael bisa berubah menjadi pahlawan kesiangan untuk Kanaya dan berlagak membelanya. Pasti setelah itu, Rafael akan bertengkar dengan mamanya. Dan mamanya pasti langsung marah besar.
Rafael yakin, mamanya akan syok saat ini. Melihat pilihan calon istri Rafael yang sangat jauh dari kriteria mamanya. Pasti membuat mamanya hampir terkena serangan jantung. mamanyakan lebih suka dengan gadis-gadis sosialita yang glamor dengan dandanan berlebihan. Jadi, pasti sangat tidak cocok dengan wanita pilihan Rafael saat ini. Sederhana dan nampak apa adanya.
Rafael menatap lurus kearah Rahayu yang berjalan mendekat kearah Kanaya. Dengan bibir tersenyum lebar, Rafael sudah siap dengan drama yang akan diciptakan mamanya pagi ini.
Tapi, bukannya mengusir. Mamanya, Rahayu malah memeluk Kanaya dengan erat dan menyapanya dengan hangat. Membuat senyum lebar Rafael luntur seketika. "Oh...Selamat datang sayang." Ucap Rahayu hangat.
"Siapa namamu sayang?" Sambung Rahayu melepas pelukannya. Dan memandang lekat kearah Kanaya.
"Kanaya. Nyonya." Jawab Kanaya pelan.
"Ah, nama yang cantik. Tapi aku ingin kamu memanggil ku mama sayang. Karna sebentar lagi kamu akan menjadi istri putra ku..... Otomatis kamu juga akan menjadi putriku.... Iya kan sayang!!" Ucap Rahayu hangat yang diakhiri dengan memandag suaminya Bagas, untuk meminta dukungan.
Bagas yang melihat istrinya begitu senang kedatangan calon menantunya. Hanya mengangguk khitmat, dan memandang Rafael yang terlihat aneh.
"Dan siapa dia?" Tanya Rahayu memandang El dengan sedikit membungkuk.
El langsung melangkah mundur, dan bersembunyi dibelakang tubuh Kanaya. Karna mendengar nada heboh Rahayu saat menyapanya. "Hai El." Sapa Rahayu mengulurkan sebelah tanganya pada El.
"El." Tegur Kanaya.
Mendapat teguran dari kakaknya, El langsung membalas uluran tangan wanita paruh baya disepannya dengan sedikit takut.
"Ya.... Ampun kamu terlihat menggemaskan sayang... Mama tidak masalah jika nanti harus menjaga El.... Saat kalian hanymoon.." Ucap Rahayu semangat dan menarik El lebih mendekat kearahnya.
"Ma." Tegur Rafael.
Rafael nampak frustasi saat mendengar nada semangat ibunya. Apa yang ada dibayangannya seakan musnah tidak tersisa.
Bayangan wajah mamanya, amukan papanya, dan perdebatan sengit mereka. Seakan semua itu hanya angan-angan Rafael saja.
"Kenapa? kamu keberatan?" Tanya Rahayu galak.
__ADS_1
"Kenapa mama berlebihan sih?" Tanya Rafael kesal.
"Apanya yang berlebihan sih. Mama hanya ingin menjaga El, saat kalian hanymoon nanti. Apa yang salah dari kata-kata mama!!"
"Kami bahkan belum memikirkannya ma." Ucap Rafael beralasn.
"Memikirkan apa? Jangan bilang kamu belum memikirkan pernikahan kalian?" Tuduh Rahayu memicingkan mata curiga.
"Ckkkk....Apa Rafa barusan mengatakan begitu!!"
"Lalu? Apa maksud mu tentang belum memikirkan itu? Bukankah selain pernikahan tidak ada yang tidak pernah terfikirkan oleh mu?"
"Kami belum memikirkan soal hanymoon mama." Ucap Rafael menjelaskan.
"Ckkkk...Kalau soal itu gampang!! Kalian bisa kapan saja memikirkannya. Lalu kapan kalian akan menikah?" Tanya Rahayu penasaran.
"Bolehkah calon istri ku duduk dulu ma?" Ucap Rafael menunjuk Kanaya yang berdiri diam memandang percakapan Rafael dan Rahayu.
"Oh iya, benar. Ayo sayang duduk disini." Ajak Rahayu menuntun Kanaya. Kanaya hanya menurut tidak berkomentar sedikit pun.
"Terimakasih nyonya." Ucap Kanaya setelah duduk.
"Mama. Mulai hari ini, kamu harus memanggilku mama bukan yang lain. Ok." Ucap Rahayu pelan.
Kanaya hanya bisa diam sambil melirik Rafael sebentar. Yang dibalas oleh Rafael anggukan kepala.
"Ya. Ma---ma." Ucap Kanaya pada akhirnya.
Senyum Rahayu langsung terbit mendengar ucapan gadis sederhana didepannya. Yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.
"Selamat datang Kanaya. Dikeluarga kami. Saya Bagas papanya Rafael." Ucap Bagas yng duduk tidak jauh dari Kanaya.
Kanaya hanya mengengguk pelan, menjawab ucapan Bagas. Tidak menyangka jika dirinya akan disambut hangat seperti ini oleh keluarga calon suami kontraknya. Haruskah, Kanaya menyesal saat ini juga. Karna telah masuk kedalam keluarga Rafael.
Atau Kanaya harus bersyukur. Karna mendapatkan keluarga baru yang masih mau bersikap hangat padanya.
__ADS_1