Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Hadiah El


__ADS_3

Kanaya menuntun El yang berjalan disampingnya. Setelah tadi salah satu pelayan mengatakan jika Rafael mengajaknya makan malam. Kanaya langsung bersiap-siap dan membangunkan El yang sedang tidur sedari tadi sore.


"Kakak. El masih ngantuk." Ucap El menguap.


"Iya. Nanti selesai makan, El boleh tidur lagi." Jawab Kanaya pelan.


El tidak menyahut, dia sibuk mengikuti langkah kakaknya disampingnya. Dengan mata sayu menahan kantuk.


"Selama malam nyonya." Sapa Stev yang menarikkan kursi untuk Kanaya. Kanaya mendudukkan El lebih dulu kelursinya setelah itu bru duduk dikursinya yang telah ditarikkan oleh Stev.


"Terimakasih." Ucap Kanaya datar.


"Hai El." Sapa Rafael yang melihat El duduk dengan mata sayu mengantuk. El hanya mengangguk pelan menjawabnya.


"Aku punya sesuatu untukmu El." Ucap Rafael menunjuk pelayang wanita disampingnya untuk memberikan paper bag ditangannya kearah El. Dengan patuh langsung dilakukan oleh pelayan itu.


"Apa ini?" Tanya El sedikit semangat.


"Bukalah." Perintah Rafael.


Dengan semangat El membuka paper bag didepannya. Matanya langsung berbinar bahagia membuka isinya. Beberapa buku, dan alat tulis. Ada buku pelajaran lengkap dengan buku tulis dan beberapa alat tulisnya.


Kanaya yang melihat binar wajah adiknya, hanya diam dengan pandangan lurus kearah El. "Bilang apa?" Bisik Kanaya pada El.


El menoleh kearah Kanaya denga mata bulat penuh binar bahagia. El tersenyum lucu. Dan mengalihkan pandangannya kearah Rafael. "Telimakasih." Ucap El tulus dengan logat sedikit cadelnya. Masih lengkap dengan senyum bahagianya. Yang langsung menular pada Rafael, Rafaef ikut tersenyum melihat wajah penuh bahagia El.


Tidak sia-sia dia pulang kerja mampir ketoko buku, jika pada akhirnya akan mendapatkan senyum cerah El malam ini.


"El suka?" Tanya Rafael pelan.


Dengan semangat El mengangguk berulang-ualang. "Cuka." Teriaknya senang.

__ADS_1


"Kalau El suka. Boleh El panggil kakak, abang mulai malam ini?"


"Abang itu apa?" Tanya El yang belum mengerti.


"Abang itu panggilan untuk pria seperti kakak ini. Seperti El panggil dia kakak." Jawab Rafael yang diakhiri menunjuk Kanaya dengan dagunya.


"Ini Kakak El. Naya." Ucap El menepuk tangan Kanaya.


"Ya seperti El memanggil kakak pada kak Naya. El harus memanggil abang pada kak Rafa mulai malam ini. Bagaimana?"


"Gak. Aneh kalau panggil abang. Panggil kakak aja." Tolak El yang baru pertama kali mendengar panggilan abang. Terasa aneh ditelinganya.


"Dasar kucing kecil keras kepala." Gerutu Rafael.


Stev yang melihat interaksi bosnya dengan adik Kanaya sedikit aneh. Sejak kapan bosnya sudah seakrab itu dengan bocah kecil didepannya ini. Apa Stev meninggalkan sesuatu, kenapa Rafael terlihat santai mengobrol dengan anak kecil itu. Kemana larinya Rafael yang keras kepala, kejam dan tegas. Kenapa sekarang Rafael terlihat seperti seorang kakak yang berusaha mengambil hati adiknya.


"Tuan." Panggil Stev.


"Saya permisi sebentar untuk mengecek beberapa hal."


"Kamu tidak ikut makan malam disini?" Tanya Rafael heran.


"Untuk malam ini tidak tuan."


"Baiklah. Kamu bisa pergi sekarang."


"Baiklah saya permisi. Oh, iya tuan. Jangan lupa besok pagi kita kerumah nyonya. Beliau sudah menghubungi saya sedari pagi, untuk selalu mengingatkan tuan soal besok." Ucap Stev sebelum pamit pergi.


Rafael hanya mengangguk mengerti. Sama sekali tidak menjawab.


Sepeninggalannya Stev tidak ada lagi yang memulai obrolan. Hanya keheningan yang mengisi ruang makan mewah milik Rafael itu.

__ADS_1


"Makanlah." Ucap Rafael memandang kearah Kanaya.


Dan langsung benerapa pelayang melayani Kanaya dan El seperti seorang raja dan ratu. Kanaya diam saja mendapat perlakuan berlebihan dari para pelaayan. Setelah selesai. Rafel menyuruh seluruh pelayang mengosongkan ruangan makan.


Menyuruh para pelayang masuk kedalam kamarnya. Dengan patuh semua pelayang masuk kedalam kamarnya.


"Besok pagi. Bersiaplah kita akan kerumah ibu ku." Ucap Rafael disela-sela makannya.


Kanaya melirik sekilas kearah Rafael. Tapi tidak berkomentar.


"Aku ingin kamu membiasakan memanggil nama ku. Dan bersikap sebagai mana seorang kelasih. Agar tidak membuat kedua orang tua ku curiga." Sambung Rafael.


Kanaya hanya mengangguk mengerti. "Kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan sebagai seorang kekasih?" Tanya Rafael memastikan.


"Ya." Jawab Kanaya datar. "Tapi, saya ingin anda mengabulkan satu permintaan saya!!" Sambung Kanaya menatap Rafael.


"Apa?" Tanya Rafael membalas tatapan Kanaya.


"Jangan ada obrolan tetang orang tua saya disitu. Selama kontrak ini berlangsung, saya tidak ingin siapapun membahas orang tua saya. Termaksud keluarga, sahabat, teman atau kerabat anda. Saya tidak ingin siapa pun bertanya atau tau siapa orang tua saya." Jawab Kanaya dingin.


Rafaep diam. Cukup lama dia memandang kedua bola mata Kanaya tanpa menjawab atau mengangguk setuju.


"Bagaimana?" Sambung Kanaya.


"Ya. Tidak masalah." Jawab Rafael mantap.


"Tapi mulai malam ini, hilangkan sikap formal kamu. Akan aneh jika dua sepasang kekasih yang akan menikah masih berbicara begitu formal." Ucap Rafael datar.


Kanaya mengangguk setuju. "Akan saya usahakan."


"Bukan itu jawabanya. Tapi akan aku lakukan." Koreksi Rafael tegas.

__ADS_1


"Baiklah." Ucap Kanaya akhirnya.


__ADS_2