
"Kakak..."
Kanaya yang sedang duduk diam mendengarkan obrolan Rafael dan Stev, menoleh cepat kerah sumber suara.
Disana, El berlari kuat dari arah dalam rumah menuju kearahnya. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan pipi memerah menahan tangis. Membuat Kanaya memandangnya bingung dan juga heran.
Ketika Kanaya berdiri dari duduknya. El langsung menubruk tubuhnya, dengan tangan memeluk pinggangnya erat.
"El." Panggil Kanaya berusaha melepaskan tangan El dari pinggangnya.
"ENGGAK..." Bentak El kuat. Bahkan tangisnya pun langsung pecah setelah membentak. Membuat Kanaya semakin bingung, dan merasa aneh. Tumben sekali adiknya menangis.
Karna sedari kedua orang tuanya pergi. El tidak pernah menangis jika tidak benar-benar marah atau kesal. Bagaimana pun Kanaya meninggalkannya, menyuruhnya atau bahkan memarahinya. El tidak pernah menangis. Dia hanya akan mengangguk dengan patuh dan meminta maaf jika salah. Lalu kenapa sekarang El manangis.
"Ada apa El?" Tanya Kanaya lembut. Bahkan tanganya mengusap lembut kepala El. Berusaha menenangkannya.
"El mau pulang.......El mau pulang kelumah....El gak mau disini.....Kakak ayo pulang.....El gak mau disini....." Racau El disela-sela tangisnya.
"El." Panggil Kanaya lembut.
"Lepas dulu tanganya." Sambung Kanaya pelan. Berusaha melepaskan pelukan El dipinggangnya.
Kanaya melipat kakinya didepan El, menyamakan tinggi badannya dengan tubuh kecil El. Diusapnya lembut pipi El yang sudah dipenuhi oleh air mata dengan sayang. "Kenapa El mau pulang?" Tanya Kanaya pelan sambil menarik sedikit sudut bibirnya keatas. Berusaha tersenyum agar adiknya menjelaskan dengan jujur.
Melihat senyum dibibir kakaknya membuat El kembali memeluk Kanaya. Tangisnya kembali pecah begitu tangan mungilnya memeluk kakaknya erat. "El mau pulang....El mau pulang....El gak suka disini....El mau pulang kakak Naya..."
"Kenapa El gak suka disini? ----Kemarin El bilang seneng tinggal disini. Banyak temennya. Jadi El gak kesepian. Kenapa sekarang pengen pulang? Apa ada yang jahatin El?"
"El." Panggil Rahayu lembut bersamaan dengan wajah paniknya.
Kanaya mendongak saat melihat Rahayu berada dibelakang tubuh El. Keningnya berkerut samar, memandang heran pada calon mertuanya saat tatapan matanya memandang El penuh rasa bersalah dan juga khawatir. Jika Kanaya tidak salah mengartikannya.
Apa aku melewatkan sesuatu. Pikir Kanaya samar.
"El liat, dipanggil mama itu." Ucap Kanaya berusaha melepaskan pelukan El. Tapi, El malah semakin memeluk Kanaya erat dengan tangis yang semakin kuat.
Kanaya menghebuskan nafas lelah. Sepertinya akan sedikit sulit membujuk El kali ini.
__ADS_1
"El gak mau disini.....El mau pulang....El mau pulang kakak Naya...Ayo kita pulang....El mau pulang...."
"Iya nanti kita akan pulang...Tapi gak bisa sekarang..." Ucap Kanaya membujuk.
"ENGGAK....EL MAU PULANG CEKALANG....EL MAU PULANG....EL GAK MAU DISINI...." Teriak El kuat. Bahkan tubuhnya sudah bergoyang-goyang dan melompat-lompat pelan membuat tubuh Kanaya juga bergerak-gerak.
"EL.." Tegur Kanaya sedikit kuat. Tapi malah semakin membuat El meraung-raung dan menangis kuat.
Dengan paksa Kanaya melepaskan tangan El yang memeluknya kuat, membuat El kembali menangis, dan meraung semakin menjadi-jadi. "DIAM EL.." Bentak Kanaya tajam.
El langsung diam dari tangisnya, mendengar suara bentakan Kanaya. Tapi masih ada isak-isak kuat yang berusaha El redakan, dengan bibir bawah digigit kuat. Membuat hati kecil Kanaya mencoles saat melihatnya. Ini adalah kali pertama Kanaya membentak El. Membuat ia tak tega melihatnya dan juga marah pada dirinya sendiri.
El menunduk takut pada kakaknya. Dengan air mata terus berlinang dipipinya. Bahkan El tidak berani menatap kearah kakaknya.
"El udah janji sama kakak...Gak akan nakal..Kenapa sekarang El nakal?" Tegur Kanaya lembut.
"Hiks....El--------hiks...Mau-----Pulang..." Isak El menundukkan kepala semakin dalam.
Rahayu yang melihat El terlihat ketakutan dengan Kanaya melangkah maju. "Nay." Panggil Rahayu pelan.
"Tenang..Mama bisa jelaskan...Biar-" Ucap Rahayu berhenti ketika berusaha menyentuh pundak El. Tapi dengan cepat El menghindar dan menjauh dari Rahayu. Senyumnya langsung patah begitu tau, jika bocah kecil yang berhasil menarik perhatiannya mulai menolak sentuhannya.
"Kakak udah gak sayang El?" Tanya El pelan. Dengan tangan melintir-lintir ujung bajunya. Menatap lurus kearah Kanaya.
"Kenapa El bilang begitu?"
"Kakak udah gak sayang El?" Ulang El sekali lagi. Tanpa menjawab pertanyaan Kanaya.
Merasa menjadi pusat perhatian, Kanaya hanya diam menatap balik mata El. "El mau ngomong sesuatu sama kakak?" Tanya Kanaya mengulurkan sebelah tangannya kearah El. Yang langsung diterima oleh El tanpa pikir panjang.
Kanaya menarik El kedalam pelukannya dan menggendongnya didepan. Dengan El memeluk leher Kanaya.
"Saya permisi dulu ma." Ucap Kanaya saat berada didepan Rahayu.
Kanaya langsung melangkah pergi, masuk kedalam rumah tanpa menunggu jawaban dari Rahayu. Kanaya langsung menuju kearah kamarnya. Tanpa pamit pada Rafael dan Stev, yang pasti juga menatap penasaran padanya.
Kanaya mendudukkan El ditepi tempat tidur. Dengan Kanaya yang berjongkok didepannya.
__ADS_1
"El mau cerita sama kakak. Kenapa El nangis? Pengen pulang?" Tanya Kanaya lembut.
Dengan tangan mungilnya El menusuk-nusuk pipi tirus Kanaya. "El gak cuka tinggal disini..." Bisik El pelan. Matanya kembali berkaca-kaca sekarang.
Mengusap wajah El yang masih ada sisa-sisa air matanya. "Dah ah...Gak boleh nangis...El kan cowok, gak boleh cengeng.." Ucap Kanaya lembut.
"El takut kakak gak sayang El lagi.."
"Hmmmm?."
"Nanti kalau kakak udah nikah...Telus buang El...El tinggal sama siapa?"
Mata Kanaya berkaca-kaca mendengar ucapan memilukan adiknya. "El kata siapa kakak mau menikah?" Tanya Kanaya menarik tubuh El kedalam pelukanya. Masih dalam posisi jongkok. "Emang El tau apa itu artinya menikah?" Sambung Kanaya dengan suara yang mulai bergetar.
"Menikah itu nanti tinggal sama-sama kayak ibu sama ayah...Telus juga nanti pasti belantem-belantem..." Ucap El dengan polosnya.
"El gak mau kakak malah-malah kayak ibu...Telus pelgi ninggalin El...Kalau kakak pelgi...El disini sama siapa...El mau pulang aja.."
"El."
"El gak mau kakak nikah...Kakak jangan nikah...El janji gak nakal kak....El mau belajal lebih lajin lagi....El pasti gak malas-malas lagi...Telus nanti....Kalau kakak capek kelja...Bial El aja yang kelja kak....Nanti kalau El udah besal, El yang kelja...Kakak Naya dilumah aja...Tapi, El gak mau kakak nikah..."
Kanaya menangis dalam diam mendengar deretan kata yang keluar dari bibir mungil adiknya. Tidak menyangka jika El sampai berfikiran sejauh itu. Bahkan usia El masing sangat balita untuk bisa berfikir sedewasa itu.
"Kakak gak akan tinggalin El...Kakak akan selalu ada disamping El...Sampai El besar..Menikah, kakak-"
"Gak...El gak mau nikah.."
"El." Tegur Kanaya tidak suka mendengar ucapan adiknya.
"El mau jagain kakak sampai lama-lama...El gak mau ditinggal sama kakak.."
"El gak boleh ngomong kayak gitu.." Ucap Kanaya menangkup pipi chuby El.
"Terus juga, kakak gak akan ninggalin El." Sambung Kanaya tegas.
"Kakak janji?"
__ADS_1
"Iya kakak janji."