Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Pemecatan.


__ADS_3

Biarkan aku tetap percaya jika tak kan pernah ada cinta di hidupku.


Agar hati ku tetap beku sedingin salju.





Restoran mewah bergaya klasik dengan semua menu-menu mahal dan berkelas menjadi tujuan Kanaya saat ini. Dengan badan menggigil hampir membeku, Kanaya sampai ditujuan sedikit terlambat.


Bahkan rekan kerjanya sudah memulai aktifitasnya, dan sibuk dengan pekerjaannya masih-masing.


Dengan badan gemetar, dan bibir menggigil. Kanaya berjalan kearah loker, untuk mengganti pakaiannya dengan seragam kerja miliknya.


"Neo tto neoj-eosguna Naya-Shi.(Naya-shi. Kau datang terlambat lagi)!!" Tegur suara dari arah belakang Kanaya.


Kanaya menoleh kebelakang. Dilihatnya wanita kisaran berusia 30 tahun memandang sinis padanya. Dia adalah Nona Jung, maneger sekaligus atasan Kanaya disini. Masih dengan tatapan datarnya Kanaya hanya mengangguk sopan. Kanaya bukan tipe wanita yang suka berbasa-basi basi atau cenderung banyak bicara.


Dia adalah sosok gadis yang tidak mau ambil pusing dengan hal-hal yang akan menyulitkan hidupnya. Apa lagi untuk urusan mencari muka, atau memberi kesan baik pada atasannya. Dan bukan masalah baru bagi Kanaya jika mendengar teguran seperti itu, sudah terlalu sering atau bahkan hampir setiap hari. Tapi, bukan Kanaya namanya jika dia akan memikirkannya. Toh selama ini dia sudah berusaha semampunya.


Lagi pula jarak tempat tinggal Kanaya lumayan jauh dari restoran tempatnya bekerja. Bahkan tadi, dia sudah berangkat pagi-pagi sekali, tapi karna cuaca memang sedang tidak mendukung membuat dia terlambat datang lagi.


"Neon neoumu joyonghaeseo daedabhagiga neomu eolyeowo. (Apa kau bisu hingga untuk memjawab saja terlalu sulit!)"


"Mian haeyo. (Saya minta maaf.)"


"Ibeon-eneun yongnabhaji anhgessseubnida mulgeon-eul chaeng-gigo yeogiseo nagaseyo. (Saya tidak akan memberimu toleransi kali ini, kemasi barang mu dan keluar.)"


"Jeosonghabnida. ibeon-i majimag-ilago yagsoghabnida. jeoege gihoeleuljusibsio. (Saya minta maaf, saya janji ini yang terakhir kalinya. Tolong beri saya satu kesempatan lagi ibu maneger.)" Mohon Kanaya pelan.


Di kota ini sangat sulit mencari pekerjaan, bahkan dia mendapatkan pekerjaan ini berkat teman ayahnya yang masih mau menolongnya.

__ADS_1


Jika tidak, sudah dipastikan Kanaya dan adiknya menjadi gelandangan saat ini. Tapi, jika hari ini dia di pecat lalu akan mencari pekerjaan kemana lagi dia. Ijazah Kayana pun hanya sebatas sama, untuk jaman modern seperti ini, ijazah seperti itu akan sangat sulit untuk mencari pekerjaan.


"Eoje dangsindo geuleohge malhaessjiman oneuldo geugeos-eul banboghago issseubnida. oneulbuteo dangsin-i haegohaessneunji algo sipji anhseubnida. ( Kemarin pun kau mengatakan seperti itu, tapi kau mengulanginya lagi hari ini. Aku tidak mau tau mulai hari ini kau ku pecat.)" Teriak bos Kanaya.


Setelah berteriak marah pada Kanaya, bos Kanaya pangsung melenggang pergi meninggalkan Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kanaya yang mendengar teriakan bosnya hanya bisa diam tanpa expresi. Otaknya terus berputar memikirkan adiknya, bagaimana dia bisa menghidupi El, adiknya. Jika pekerjaan pun Kanaya tak punya.


Dengan gontai Kanaya membereskan barang-barangnya. Berulang kali dia manarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Berharap jika dia melakukan itu, dapat sedikit mengurangi beban berat dipundaknya.


Bisik-bisik rekan kerjanya membuat Kanaya merasa jengah. Selama hampir setahun Kanaya bekerja, tidak ada satu pun yang mau berteman dengannya.


Menurut mereka, Kanaya adalah seorang monster tak memiliki hati. Kanaya sigadis dingin tak berexpresi, dan irit bicara. Hidupnya seakan-akan penuh misterius, yang siapa pun tak boleh mengetahuinya. Itulah kenapa mereka menjulukinya seperti itu.


Tapi, toh Kanaya tidak mau ambil pusing dengan julukan yang mereka berikan padanya. Itulah yang membuat mereka semakin yakin jika Kanaya tidak memiliki hati.


Seakan belum cukup sampai disitu, Kanaya keluar tanpa mendapatkan pesangon.


Jika kali ini dia diam, lalu bagaimana cara dia bisa menyambung hidup sampai satu bulan kedepan atau lebih sampai dia mendapatkan pekerjaan.


Dengan tatapan dingin dan raut wajah marah, Kanaya mendatangi maneger yang tadi memecatnya. Dia hampir berteriak marah jika saja tidak melihat sekeliling restoran dalam keadaan ramai.


Awalnya bosnya tidak peduli, malah mengancam akan memanggil pihak keamanan jika Kanaya membuat keributan.


Dengan wajah prustasi dan ucapan lirih Kanaya berbicara lirih. "ibeon-eneun choejong geub-yeoleul badge haejuseyo. (Tolong biarkan saya mendapatkan gaji terakhir saya kali ini.)"


Diam, bos Kanaya hanya memandang Kanaya diam. Sedikit terkejut karna baru kali ini dia melihat Kanaya berefresi. Raut wajahnya tidak datar lagi melainkan terlihat putus asa.


Akhirnya dengan pertimbangan yang cukup matang, Kanaya mendapatkanya. Mendapatkan pesangon. Tidak ada senyum diwajah itu, bahkan ucapan terimakasih pun tidak. Kanaya hanya membungkuk sopan dengan wajah tetap terlihat dingin.


Tidak ada kata perpisahan, jika orang-orang saat keluar dari pekerjaan pasti akan ada yang merasa kehilangan atau setidaknya bersedih walau hanya sebentar.


Tapi itu tidak terjadi di kehidupan Kanaya, tidak ada yang merasa kehilangan akan kepergianya, tidak ada rasa haru ketika berpisah dengan rekan kerjanya. Semua itu tidak ada.

__ADS_1


Yang ada hanya tawa sinis satu sama lain. Dan apa yang diharapkan dari gadis minim sosial dan expresi seperti Kanaya. Tidak ada bukan.


...****************...


Kanaya terus mendayung sepedanya dengan pelan, tidak peduli jika badai salju hampir membuat tubuh kurusnya mati karna beku.


Tidak ada orang di jalan karna sedang hujan badai salju. Cuman Kanaya yang sedari tadi mengisi jalan yg sepi dan dingin.


Dengan badan menggigil Kanaya terus mendayung, bahkan kakinya hampir membeku oleh salju.


Tapi dia tidak ingin menyerah, dia harus pulang sekarang. Ada El adiknya dirumah, jika tadi dia meninggalkan El dirumah dengan alasan harus bekerja. Lalu sekarang Kanaya tidak punya alasan untuk meninggalkan nya sendiri dirumah.


Rumah kecil berpagarkan besi terlihat didepan mata Kanaya, masih berusaha sekuat tenaga. Kanaya terus mendayung sepedanya hingga tiba di depan pagar rumahnya. Kanaya langsung turun begitu pagar rumahnya tinggal berjarak satu meter dari tempatnya berdiri dan menuntun sepedanya masuk kedalam teras rumah.


Setelah meletakan sepedanya Kanaya melangkah kearah pintu rumahnya. Sekujur tubuhnya terasa mati rasa sekarang, dia harus cepat-cepat mengganti bajunya dan meminum teh hangat jika tidak ingin mati kedinginan.


Setelah masuk, pandanganya langsung tertuju pada bocah berumur 4 tahun yg sedang duduk sambil memangku buku didepanya.


Mendengar pintu dibuka, El langsung menoleh kearah pintu. "Kakak sudah pulang?"


"Ya." Singkat padat itulah jawaban Kanaya.


"El sudah makan?"


"Ya."


Hanya itu yang keluar dari bibir dua sejoli yang berbeda umur itu. Setelah itu, mereka kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.


El tidak bertanya kenapa kakaknya pulang lebih awal atau kenapa lebih cepat dari biasanya. Karna seakan-akan El begitu memahami kakaknya.


Dan seharusnya anak seusia El pasti sedang senang-senangnya bermain. Jika mengingat umurnya masih empat tahun. Bukan malah memangku buku dengan pandangan fokus, seakan-akan buku itu adalah mainan yang bisa membuatnya senang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2