Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Pertemuan Awal.


__ADS_3

Kanaya menggeliat dari tidurnya. Memandang sekeliling, keningnya mengkerut heran ketika mendapati dirinya tertidur di ruang tengah rumahnya. Bukannya dikamar.


Berusaha bangun, kepalanya langsung berdenyut nyeri dan sedikit berputar karna bangun dengan tiba-tiba. Membuat Kanaya sedikit meringis dan memegangi kepalanya.


Begitu Kanaya merasa nyeri di kepalanya sedikit reda, ingatannya langsung berputar pada kejadian yang menimpanya semalam.


Membuat Kanaya langsung berusaha bangun dan berlari kearah kamar adiknya, mengabaikan rasa nyeri yang kembali hadir di kepalanya karna bangun mendadak. Kosong. Kamar itu nampak kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Tidak ada adiknya dikamar itu.


Pikiran Kanaya pun langsung lari ke kejadian semalam ketika pria-pria berjas datang kerumahnya dan membawa adiknya.


Dengan panik, Kanaya langsung berlari ke kamarnya, mengambil asal mantel dan dompet.


Dia berencana melapor pada polisi atas kejadian semalam dan penculikan adiknya.


Tapi, sebelum Kanaya melangkah keluar, pandanganya jatuh kearah kertas yang tergeletak diatas meja ruang tengahnya. Membuat kaki jenjangnya tidak ragu melangkah mendekat.


Jika anda menginginkan adik anda selamat, datanglah ke alamat yang tertulis dibawah ini. Anda bisa datang sendiri, tanpa orang lain.


Disana anda bisa bertemu dengan Tuan Rafael Alexander Abitama.


Seperti itu lah bunyi isi surat yang berada di meja. Dengan perasaan kalut dan khawatir, Kanaya langsung kembali kedalam rumah. Dia butuh mandi agar pikiran dan perasaannya sedikit tenang saat bertemu dengan orang yang telah menculik adiknya.

__ADS_1


...----------------...


Selesai mandi dan bersiap-siap, Kanaya langsung melesat pergi ke alamat yang tertera disurat misterius itu. Dia bahkan membawa surat itu ikut serta dengannya. Berjaga-jaga, jika dibutuhkan nanti.


Tatapan Kanaya nampak kosong, dan datar, tapi tidak ada yang tau, jika saat ini Kanaya merasa cemas dan khawatir. Khawatir pada adiknya.


Adik kecilnya sekarang tidak tau ada dimana dan dengan siapa. Adiknya yang malang. Pasti saat ini El sedang menangis ketakutan, Kanaya tidak berani membayangkan bagaimana jadinya jika El terus menangis dan ketakutan.


Sudah pasti orang-orang berjas itu akan menyakitinya, atau bahkan tega menyiksanya. Semoga tuhan masih berbaik hati untuk melindungi adik kecilnya.


Pikiran-pikiran buruk mulai datang di otak cantik Kanaya. Membuat Kanaya berulang kali meremas tanganya kuat, mencoba meredakan rasa cemas dalam dirinya.


Bukan lagi rahasia umum, jika di negeri ginseng ini banyak orang yang memandang orang lain hanya lewat sebelah mata. Apa lagi jika kita tidak bisa mengikuti perkembangan jaman. Mereka seakan memandang Kanaya seperti manusia alien yang tiba-tiba datang ke bumi ini untuk membuat onar dan masalah. Bukan kah itu ke dengaranya sangat kejam.


Tapi Kanaya bisa apa. Selain diam dan bersikap masa bodoh, dia tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang-orang yang berfikir buruk tentangnya bukan. Atau merubah pandangan mereka kepadanya.


Setelah memakan perjalanan hampir tiga jam menggunakan kereta bawah tanah. Akhirnya Kanaya sampai ditempat tujuannya.


Gedung tinggi dengan banyaknya orang-orang berlalu-lalang keluar masuk gedung. Membuat Kanaya merasa bertambah aneh sekarang.


Orang-orang itu terus memperhatikan penampilan Kanaya, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seakan menilai penampilan Kanaya layak atau tidak layaknya saat ini. Dan, semua itu tak luput dari lirikan sinis Kanaya.

__ADS_1


Apa salahnya jika seorang gadis memakai mantel yang sudah ketinggalan jaman atau kuno, dengan celana jins yang warnanya sudah pudar. Kenapa seakan mereka baru pertama kali menemuka seseorang yang berpakaian seperti Kanaya ini.


Kanaya terus melangkah masuk kedalam gedung, mengabaikan pandangan cemooh disekelilingnya. Tapi, belum juga masuk lebih dalam kearah gedung. Seorang sekuriti yang berdiri tidak jauh darinya langsung mencegatnya dan memberondong beberapa pertanyaan pada Kanaya. Membuat Kanaya semakin tidak nyaman.


Masih dengan tatapan datar dan sorot mata tajam dan dingin. Kanaya hanya meladeni beberapa pertanyaan sekuriti dengan datar.


Tapi, tidak berapa lama sekuriti mendapat telpon entah dari siapa. Dengan sikap berbeda seratus delapan puluh derajat, sekuriti itu langsung mempersilahkan Kanaya masuk dengan pandangan yang sedikit berbeda, dan tutur kata yang sedikit sopan.


Kanaya tidak ambil pusing dengan itu. Apa lagi saat seorang pria tinggi yang berdiri dilobi, langsung membungkuk sopan dan mengatakan akan mengantar Kanaya pada tuanya. Pria yang sama yang semalam datang kerumahnya.


Kanaya tidak bertanya lagi, dia hanya diam dan berjalan mengikuti langkah pria tegap itu.


Semua terasa sunyi, saat dua anak manusia berbeda jenis terus melangkah kedalam gedung tanpa ada satu pun kata obrolan yang keluar dari mulut mereka.


Hanya suara langkah kaki yang bergesekan dengan lantai yang terdengar. Bahkan banyaknya pasang mata yang mulai mencuri-curi pandang kearah mereka, tidak membuat mereka risih atau terganggu.


Kanaya tiba di dalam ruangan mewah entah milik siapa. Tapi yang jelas saat ini orang yang sedang duduk diatas kursi dibalik meja didepan Kanaya, menjadi sasaran tatapan dingin Kanaya. Dia kah pria yang bernama Rafael Alexander Abimanyu.


Tidak ada yang aneh dari pria itu, seperti perkiraan Kanaya. Dia pasti pria kaya dengan wajah sombong dan terlihat mengerikan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2