
Kanaya terus menuntun El berjalan disampingnya. Setelah perdebatan alot kemarin, akhirnya Kanaya menyerah dan ikut Rafael keindonesia. Tidak main-main, Rafael bahkan langsung memboyong El ikut bersamanya. El yang tidak tau apa-apa hanya menurut. Karna menurutnya, dimana pun kakaknya berada, El akan selalu mengikutinya. Walau sampai lubang semut sekalipun.
Setelah perjalanan korea-indonesia yang membuat Kanaya dan El kelelahan. Rafael langsung menyuruh Stev mengantar Kanaya untuk kekediamannya untuk beristirahat.
Sedang Rafael, dia sedang ada keperluan katanya. Hingga, hanya menyuruh Stev untuk membawa Kanaya dan El kepantpousenya.
"Kakak kita dimana?" Tanya El yang sudah berada disalah satu kamar tamu kekediaman Rafael.
Kanaya yang sedang membereskan bajunya didepan lemari. Menoleh kearah El. "Kenapa? El suka disini?" Tanya Kanaya melangkah mendekat kearah El yang duduk diam diatas ranjang.
El menggeleng pelan." Enggak.El suka lumah kita aja." Jawab El pelan.
"Iya nanti kita pulang kalau kakak sudah selesai kerjanya ya." Ucap Kanaya mengelus pelan rambut El.
El mendongak menatap manik mata Kanaya. "Lama gak?"
"Hmmm?"
"Kita lama gak disini?" Tanya El memperjelas.
"Gak kok. Gak lama."
"El ngantuk." Ucap El menguap.
__ADS_1
"El bobok sini dulu aja ya. Kakak mau beresin baju dulu." Ucap Kanaya menepuk bantal diatas ranjang. Menyuruh El berbaring.
"Kakak gak akan ninggal El kan?" Tanya El sambil berbaring.
"Enggak dong. Kakak bakal nunggu El disini sampai El bangun." Jawab Kanaya mengusap sayang kepala El yang sudah berbaring diatas ranjang.
Pelan-pelan mata sayu El pun tertutup. Membuat Kanaya menarik nafas lega karnanya. Kanaya sudah berusaha lebih hangat pada El kali ini. Tidak ingin karna sikap dinginnya seperti dulu akan semakin membuat El merasa terus terluka dan terbebani.
"Kakak sayang El." Bisik Kanaya mendaratkan kecupan dikening El.
...****************...
"Tuan." Panggil Stev masuk kedalam ruangan Rafael.
"Tuan yakin akan melakukan ini?" Tanya Stev lagi.
"Maksudmu? Melakukan apa?" Tanya Rafael bingung.
"Pernikahan kontrak ini."
"Bukankah kamu yang memberikan ide ini Stev."
"Benar tuan. Tapi melihan nyonya Kanaya yang seperti itu membuat saya ragu dan kasian tuan." Aku jujur Stev.
__ADS_1
"Ragu? Kasian? Sejak kapan kamu melakukan tugas mu pakai hati Stev?" Tanya Rafael memandang lurus kearah Stev.
"Entahlah tuan. Saya hanya merasa kasian saat melihat wajah frustasi nyonya tuan."
"Jaga sikap mu Stev. Jangan seperti itu. Atau bisa saja itu malah membuat pekerjaan mu berantakan."
"Maaf tuan saya hanya-"
"Aku tidak ingin mendengar apa pun alasanmu Stev. Saat ini yang aku mau adalah sikap tegas dan keyakinanmu seperti dulu. Jangan hanya karna belas kasianmu itu malah membuatmu hancur lebur seperti hati ku dulu." Ucap Rafael dingin.
"Ya. Tuan maaf."
"Pergilah. Tinggalkan aku sendiri." Usir Rafael datar.
"Tapi tuan-"
"Sekarang Stev."
"Baik tuan. Saya permisi." Pamit Stev melangkah menjauh.
Sepeninggalannya Stev, Rafael memijid keningnya pelan. Perasaannya ikut bimbang dengan keputusannya kali ini. Bukan hanya Stev, tapi Rafael juga agak bingung sekarang. Mengingat tatapan polos El waktu itu mengingatkannya pada mata polos masa lalunya. Yang hingga detik ini masih terus menghantui Rafael.
Membuat Rafael sulit untuk tidur nyenyak dan istirahat dengan baik. Semua itu hanya karna masa lalu yang tidak pernah bisa Rafael lupakan.
__ADS_1