Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Penentuan tanggal pernikahan.


__ADS_3

"Jadi? Kamu tidak masalah kapan pun kita menikah?" Tanya Rafael sambil duduk menatap lurus kearah Kanaya yang juga duduk didepannya.


Kanaya hanya mengangguk, tanpa menjawab atau mengeluarkan suaranya.


"Kamu juga tidak masalah, jika kita menikah satu bulan lagi?" Tanya Rafael lagi. Lagi-lagi Kanaya kembali mengangguk.


"Ok. Steve. Siapkan semua pernikahan. Jangan biarkan, mama atau papa ikut campur dalam masalah ini... Aku ingin semua berjalan lancar sesuai rencana kita."


"Baik tuan."


"Bagaimana masalah kantor cabang? Sudah kamu cek Steve?"


"Sudah tuan. Bahkan saya juga sudah menemukan penyebab dari masalah itu. Saya sudah mengirim---"


"Kakak..."


Rafael langsung menoleh begitu mendengar panggilan dari arah pintu penghubung antara taman belakang dan rumahnya.


"El."


"Ada apa El?" Rafael langsung tertegun begitu mendengar nada lembut dari Kanaya, tidak menyangka. Jika wanita minim expresi seperti Kanaya bisa berbicara selembut itu kepada adiknya.

__ADS_1


Dunia seakan berhenti berputar, saat mata tajam Rafael tidak bisa mengalihkan pandanganya dari punggung Kanaya didepannya. Semua ucapan lembut Kanaya seakan terus berputar seperti kaset rusak di kepala Rafael. Membuat Rafael berulang kali menggelengkan kepalanya pelan.


"Sebenarnya, seberat apa kehidupan calon menantu mama Raf?" Pertanyaan mamanya menyadarkan Rafael dari perbuatan bodohnya. Membuat Rafael mengerjakan mata berulang kali, dan berusaha mereda perasaan aneh dalam dirinya.


Setelah menguasai diri, Rafael kembali memperhatikan sekeliling, tapi dirinya tidak mendapati keberadaan Kanaya maupun adiknya. Apa dia sudah pergi.


"Raf?" Panggilan mamanya membuyarkan lamunan singkat Rafael.


"Hah?" Ucap Rafael bingung, karna panggilan kuat mamanya.


"Kamu kenapa sih. Aneh banget. Kamu sakit?" Tanya Rahayu menyentuh kening Rafael dengan punggung tangannya. Yang langsung ditepis oleh Rafael.


"Emang mama nanya apa tadi?"


"Ckkkk...Seberat apa sih kehidupan Kanaya sebelum bertemu denganmu?"


"Kenapa? Mama penasaran? Mau menyuruh Rafael membatalkan pernikahan ini?"


"Ya gak lah. Gila aja mama, nyuruh kamu batalin pernikahan seperti ini."


"Terus kenapa mama nanya kayak gitu?"

__ADS_1


"Liat El, yang kayak takut banget pas denger kakaknya mau nikah. Mama penasaran, sebesar apa orang tuanya melukai hati polos anak sekecil itu."


"Itu bukan urusan kita ma."


"Tentu aja itu urusan kita. Sebentar lagi, Kanaya bakalan jadi istri kamu. Dan El akan menjadi adik ipar kamu. Itu artinya, mereka bakalan jadi tanggung jawab kamu, dan akan menjadi keluarga kita juga. Kita gak bisa diam aja liat keluarga kita terus hidup dalam bayang-bayang masa lalunya. Apalagi sampai meninggalkan luka di relung hatinya."


Rafael tertegun, saat mamanya mulai membahas tentang tanggung jawab. Hatinya mulai tidak nyaman saat mamanya terus membahas keluarga dan masa lalu. Sedang dirinya belum bisa berdamai dengan mass lalu.


"Tapikan, kita gak boleh terlalu ikut campur ma. Sedang mereka gak nyaman sama kita, atau belum bisa berbagi kekita."


"Nah, karna itu. Karna mereka belum bisa. Kita harus berusaha agar mereka mau berbagi kekita."


"Ma. Kita gak bisa memaksa mereka--"


"Siapa bilang kita paksa. Mama pengen kamu bicara dari hati-kehati dengan calon istrimu."


Rafael meringis mendengar mamanya membahas perihal calon istri. Jika mamanya tau, kalau mereka hanya menikah kontrak setelah Rafael mendapatkan keturunan dari Kanaya, dan akan menceraikannya jika sudah mendapatkannya. Apa mamanya akan murka? Atau mamanya akan baik-baik saja. Dan memaafkannya.


Tiba-tiba, bayangan mamanya mengamuk dan murka memenuhi pikiran Rafael. Membuat Rafael tanpa sadar menelan ludah gugup.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2