Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Simpatik Rahayu.


__ADS_3

Rahayu melangkah masuk kearah panthouse Rafael dengan tergesa-gesa. Setelah mendengar cerita Rafael semalam, Rahayu langsung tidak sabar untuk bertemu dengan Kanaya dan El. Dua anak manusia yang hampir mirip dengan kisah hidupnya.


"Selamat datang nyonya." Sapa salah satu pelayan.


"Dimana calon menantuku?" Tanya Rahayu tak sabaran.


Sang pelayang memandang heran pada ibu majikannya, belum mengerti dengan maksud calon menantu.


"Kanaya. Wanita yang dibawa Rafael kemari." Sambung Rahayu mempertegas.


"Ah...Beliau ada di kamarnya nyonya."


"Baiklah aku akan masuk kedalam kalau begitu."


Rahayu melenggang masuk lebih dalam kekediaman putranya. Membuat para pelayang yang nampak sibuk langsung membungkuk sopan kearahnya.


Kanaya sedang asik memperhatikan El yang sedang belajar didepannya. Begitu serius.


Tapi, ketukan di pintu kamarnya membuat pandangan Kanaya terpecah. Melangkah kearah pintu, keningnya semakin banyak saat mama Rafael berdiri didepannya dengan senyum lebih menghiasi bibirnya.


"Selama pagi Kanaya." Seru Rahayu sedikit semangat.


"Selamat pagi juga ma." Jawab Kanaya pelan dan sedikit tersenyum canggung.


"Kamu lagi ngapain?" Tanya Rahayu sedikit mengintip kearah dalam kamar Kanaya, membuat Kanaya menggeser sedikit tubuhnya.


"Mama mau masuk?" Tawar Kanaya yang langsung disetujui Rahayu dengan semangat.


"Hai El." Sapa Rahayu yang melihat El sedang duduk di sofa sambil memangku buku.


El mendongak dan melihat kearah Rahayu. Dan langung tersenyum lebar saat mata coklat pekatnya melihat wanita paruh baya yang kemarin bertemu dengannya.


"El lagi apa sayang?" Sambung Rahayu duduk disamping El. Walau Rahayu tau El sedang belajar entah mengapa dia ingin agar El menjelaskan kegiatannya saat ini.


"Lagi baca...El lagi baca." Jawab El menunjuk buku didepannya.

__ADS_1


"Emang El udah pinter baca?" Tanya Rahayu hangat.


Dengan semangat El mengangguk. "Ih...Pinter Nya.." Seru Rahayu semangat.


"Siapa yang ngajari belajar El?" Sambung Rahayu lagi.


"Kakak Naya." Jawab El mantap.


"El suka baca?"


"He'eh... cuka.." Jawab El sambil mengangguk.


"Selain membaca.... El suka apa lagi?"


"Tulis... El suka nulis juga... Suka es klim sama cake." Rahayu tertawa mendengar ucapan bocah mungil didepannya.


"Kalau gitu El mau sekolah enggak?"


"Sekolah?"


"Iya sekolah." Ucap Rahayu bersamaan dengan Kanaya memanggilnya.


"Iya... Kenapa?" Tanya Rahayu memandang Kanaya.


"Bisa kita bicara sebentar."


"Sebentar ya El." Ucap Rahayu pelan dan beranjak dari duduknya.


"Kenapa?" Tanya Rahayu ketika sudah berdiri sedikit jauh dari El.


"Saya minta tolong dengan mama. Tolong jangan bahas sekolah dulu dengan El."


"Loh, memangnya kenapa Kanaya? Bukan kah bagus diusia sekecil itu El memulai pendidikan nya."


"Saya belum bisa menyekolahkan dia ma. Jadi, saya tidak ingin membuat dia sedih ketika mengingat sekolah..... Saya minta tolong dengan mama... Tolong jangan bahas sekolah dulu untuk saat ini..."

__ADS_1


Rahayu diam mendengar setiap kata yang keluar dari bibir cantiknya. "Kenapa kamu tidak mengatakannya pada Rafael? Rafael tidak mungkin membiarkan calon adik iparnya tidak sekolah.... Mama yakin.... Dia akan langsung mencarikan sekolah begitu mendengar kamu mengatakan masalah seperti ini."


"Tapi saya tidak ingin merepotkan Rafael ma... El adik saya.... Tanggung jawab saya. Biar saya yang mengurus masalah seperti ini untuk dia..."


"Sebentar lagi El juga akan menjadi adik Rafael... Dan kamu akan menjadi istrinya... Apa pun milik Rafael akan menjadi milik kamu, Kanaya... Mama yakin Rafael tidak akan merasa repot untuk itu semua.."


Kanaya hanya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut calon mertuanya. Tidak tau harus mengetakan apa, karna yang jelas pernikahan ini ada karna Kanaya harus melunasi hutang ayahnya, plus menyelamatkan adiknya agar terbebas dari Rafael.


"Terimakasih ma... Tapi, saya masih belum terbiasa untuk melibatkan orang lain dalam hidup saya..."


"Orang lain? Kanaya dengar..... Mama tidak tau bagimana kehidupan kamu selama ini.... Tapi, asal kamu tau.... Jika seorang wanita sudah menikah dengan seorang pria... Dan mereka menjadi sepasang suami istri... Mereka bukan lagi orang lain atau pun orang asing... Mereka adalah dua hati yang harus saling melindungi. Dan mereka menjadi keluarga, teman, sahabat sekaligus orang paling dekat dengan kita... Dan keluarga itu tidak akan pernah tinggal diam untuk masalah keluarga yang lain... Tidak ada istilah orang lain dalam masalah suami istri Kanaya..." Tutur Rahayu lembut. Kanaya semakin diam mendengar setiap deret kata yang keluar dari wanita paruh baya didepannya. Semua kata yang terasa ingin keluar dari mulutnya terasa berhenti diujung lidahnya. Seakan Kanaya hanya bisa diam kembali menelan pahit kata-kata itu.


"Mulai sekarang, mama minta tolong pada mu nak... Jangan menganggap orang lain pada keluarga mama... Pada putra mama... Apa lagi mama.... Anggap mama seperti ibu mu, walau mama tidak melahirkan mu... Tapi mama ingin kamu juga menganggap mama seperti ibu kandungmu... Karna sebentar lagi kamu akan menikah dengan putra mama... Otomatis kamu juga akan menjadi putri mama..."


Kanaya tersentak mendengar semua ucapan Rahayu. Bahkan matanya kini berkaca-kaca memandang Rahayu. Memandang penuh sesal. Bagaimana perasaan Rahayu nanti jika sampai mengetahui apa yang telah dia lakukan padanya. Bencikah Rahayu nanti padanya, karna telah memainkan perasaan Rahayu dan keluarga.


Ibu? Bisakah Kanaya menganggap Rahayu seperti ibunya. Bisakah?


Rahayu yang melihat mata Kanaya yang berkaca-kaca berjalan mendekat. Dirungkuhnya tubuh ramping wanita muda didepannya. Dengan perasaan tak menentu.


Tangis Kanaya langsung pecah-sepecah-pecahnya saat Rahayu mulai memeluknya erat. Perasaan bersalah dan luka yang berusaha dia tutup-tutupi selama ini, kini kembali menganga.


Kanaya sudah seperti seorang anak yang menangis pada pelukan ibunya kini. Mengadu setiap rasa yang dia rasakan melalui tangisannya. Melalui pelukan Rahayu, Kanaya tidak bisa lagi berpura-pura tegar. Dipelukan Rahayu, Kanaya tidak bisa lagi membendung rasa sakit, luka, penderitaan dan rasa kecewa yang di simpan selama ini.


Mendengar tangisan memilukan Kanaya dipelukannya, membuat Rahayu juga ikut menangis tergugu. Tidak tau sebesar apa luka yang dirasakan calon menantunya, tidak tau seberapa berat kehidupan calon menantunya dulu sebelum bertemu dengannya. Dengan putranya.


"Tidak apa-apa nak... Menangislah.... Keluarkan semua rasa yang ada dalam hati mu saat ini.... Menangislah sekuat mu.... Keluarkan semuanya...." Ucap Rahayu memeluk Kanaya semakin erat. Diusapnya punggung Kanaya dengan pelan.


Mendengar ucapan Rahayu Kanaya menangis semakin kuat. Tangisnya terdengar begitu pilu dan menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Membuat siapa pun yang mendengarnya pasti merasa kasihan dan simpati.


El yang duduk di sofa dan tidak tau apa-apa, langsung berlari kearah Kanaya yang menangis kuat didalam pelukan Rahayu. Tubuh kecilnya langsung menubruk dua wanita yang berbeda usia yang kini sedang berpelukan sambil manangis.


Dan pada akhirnya, Kanaya kalah hanya dalam pelukan seorang wanita paruh baya yang baru dia kenal. Hanya karna pelukan, perasaan dingin tak tersentuh Kanaya seakan tidak bisa membentenginya untuk tetap berpura-pura tegar dan baik-baik saja.


Hanya karna kata ibu. Yang tersemat di setiap kata Rahayu, mampu meruntuhkan hati dingin Kanaya. Hanya dalam kurun waktu lebih dari dua puluh empat jam, Rahayu mampu menyelami perasaan dingin Kanaya. Dan membuat wanita cantik itu menangis seperti seorang anak yang ingin mengadu pada ibunya.

__ADS_1


Menangis, mengadukan seberat apa perasaan sakit yang selama ini dia tahan seorang diri. Perasaan kecewa yang selama ini dia rasakan seorang diri.


Dan juga, perasaan terluka ketika seharusnya seorang anak memiliki seorang keluarga, terutama ibu yang bisa memberikan pelukan padanya malah dengan kejam meninggalkannya, membuangnya.


__ADS_2