
Rafael memandang Kanaya intens, gadis yang berdiri didepannya dengan amarah dikedua bola matanya ini tidak begitu cantik dan menarik. Lalu kenapa malah Rafael merasa begitu berhasrat ingin menyentuhnya. Apakah Rafael sudah benar-benar gila kali ini.
"Anda dengar tuan. Sekali pun pria di dunia ini hanya tinggal anda. Saya tidak akan sudi menjadi istri anda. Lebih baik saya mati saat ini juga, dari pada saya harus menjadi pemuas nafsu pria seperti anda." Teriak Kanaya murka.
Rafael yang mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Kanaya. Mengepalkan tangan kuat.
"Steve suruh anak buah mu melempar bocah kecil itu ke kandang harimau saat ini juga." Ucap Rafael dingin dan datar.
Kanaya yang mendengar ucapan Rafael langsung menoleh panik kearah pria yang berdiri dibelakangnya.
"Baik tuan." Jawab Steve mantap. Dan bersiap menghubungi anak buahnya sebelum suara Kanaya kembali terdengar.
"Tidak.....Jangan." Teriak Kanaya berjalan mendekat kearah Steve.
"Kamu kira dia akan mendengarkan mu." Sinis Rafael.
"Bawa gadis itu keluar dari sini Steve. Kalau perlu, lempar gadis itu dari atap gedung ini." Sambung Rafael tak main-main.
"Pria brengsek...Tidak punya hati... Aku bersumpah akan membunuhmu saat ini juga.... Jika sampai kau menyakiti adik ku, SIALAN.." Amuk Kanaya memukul-mukul dada bidang Steve.
Steve diam saja dengan ponsel ditangannya. Sebelum nada sambung terdengar diseberang telpon membuat tangis Kanaya seakan ingin pecah saat ini juga. "Kakak.. Tolong aku...." Teriak El menangis.
__ADS_1
"El." Panggil Kanaya ingin merebut ponsel ditangan Steve. Tapi karna tubuh jangkung Steve yang tidak sebanding dengan tubuh mungil Kanaya, membuat pria itu dengan mudah menjauhkan ponselnya dari Kanaya.
"Saya mohon jangan sakiti adik saya tuan." Mohon Kanaya dengan air mata yang mulai berlinang di pipinya.
"Memohon lah pada tuan saya nyonya. Karna semua bergantung pada keputusannya." Ucap Steve pelan.
"Jangan sentuh aku blengsek.... Kakak tolong El ka... Meleka jahat.... El takut disini..." Raung El makin histeris.
KLIK.
Steve memutuskan sambungan telponnya secara sepihak. Membuat Kanaya yang tadi berdiri didepan Steve menangis terduduk dilantai dengan air mata yang terus berlinang memenuhi pipinya.
"Tuan. Saya mohon lepaskan adik saya." Ucap Kanaya melemah.
Rafael tetap diam tidak terpengaruh dengan ucapan Kanaya. Bahkan dengan cuek Rafael mengabaikan tangisan pilu Kanaya sedari tadi.
"Baiklah. Saya bersedia menikah dengan anda tuan. Tapi saya mohon lepaskan adik saya." Sambung Kanaya gemetar.
Rafael mendongak memandang Kanaya yang terlihat menyedihkan didepannya. "Kamu kira saya masih mau menerima kamu untuk menjadi istri saya. Setelah apa yang kamu ucapkan tadi." Ucap Rafael dengan nada dingin dan menyeramkan.
Kanaya bersimpuh didepan Rafael dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. "Saya akan melakukan apapun tuan. Asal anda membebaskan adik saya saat ini juga."
__ADS_1
"Termaksud menggantikan adik kamu menjadi santapan binatang buas peliharaan saya?" Tanya Rafael bersandar di sandaran sofa dengan mengangkat sebelah kakinya dan menumpuknya di kaki yang lain.
Tanpa ragu Kanaya mengangguk. "Ya tuan. Saya mau." Jawab Kanaya mantap.
Rafael tertegun mendengar jawaban mantap Kanaya. Cukup lama Rafael memandang Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat perasaan aneh menjalar didalam hatinya. Apa ini sejenis iba.
"Bangunlah." Perintah Rafael datar dengan patuh Kanaya bangun dari duduknya. "Hapus air mata menjijikan mu itu." Sambung Rafael tak berperasaan.
"Steve suruh anak buah mu membawa anak kecil itu ke pantpouse saya, sekarang." Perintah Rafael yang langsung dilaksanakan oleh Steve dengan patuh.
"Kamu tau. Dengan apa yang barusan kamu katakan, Kamu tidak akan bisa mundur lagi?" Tanya Rafael melangkah mendekat kearah Kanaya.
Kanaya mendongak menatap manik mata Rafael, dengan mata sembab. Kanaya hanya mengangguk patuh.
"Keluarlah Steve." Perintah Rafael tegas, setelah mendengar suara pintu ditutup dari luar. Rafael langsung berjalan dan berdiri tepat didepan Kanaya. "Kamu punya riwayat penyakit?" Tanya Rafael tegas.
Kanaya menggeleng pelan sebagai jawaban. "Kamu yakin?" Tanya Rafael memastikan. "Ini tergantung seberapa hebat kamu memainkan hasrat saya. Jika kamu berhasil membuat saya menginginkan kamu. Saya akan menyelamatkan kalian berdua, tapi jika tidak, kamu akan menggantikan adik kamu sebagai santapan buas peliharaan saya." Ucap Rafael serak dengan nafas memburu. Rafael langsung menarik Kanaya mendekat kearah tubuhnya dan melalap habis bibir Kanaya yang sedari tadi menggoda dimata Rafael.
Kanaya yang belum paham dengan kondisi saat itu. Ditambah dengan wajah yang masih syok Kanaya hanya diam berdiri kaku dalam dekapan Rafael.
"Jangan hanya diam. Balas saya." Bisik Rafael intens. Dan kembali melalap habis bibir yang terasa berbeda untuk Rafael.
__ADS_1