
Rafael memperhatikan Kanaya dari atas sampai bawah. Celana levis lusuh dan jaket yang sudah kumuh membalut tubuh gadis didepanya. Membuat Rafael memandangnya aneh.
Tapi bukan itu permasalahanya, Kanaya terlihat sama sekali tidak tertarik pada Rafael membuat sebagian dalam diri Rafael tersentil. Karna selama ini, semua wanita selalu tunduk padanya dan merasa aneh jika ada satu wanita yang tidak begitu cantik dan masuk dalam daftar seksinya malah terlihat cuek dan biasa saja. Seakan itu semua melukai harga diri Rafael.
"Dimana adik saya?" Suara dingin Kanaya masuk kegendang telinga Rafael membuat Rafael berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Kanaya.
"Santai saja leadis. Kita bisa berbincang hangat sebentar. Jangan terlalu tegang." Ucap Rafael santai.
"Saya rasa, saya tidak punya urusan dsngan anda. Kembalikan adik saya." Ucap Kanaya datar.
"Ckkkkk.. Kamu tau, aku sangat menyukai gadis cantik yang sok jual mahal seperti dirimu. Tapi akan berakhir mendesah panjang dan minta namabah." Bisik Rafael ditelinga Kanaya.
"Menjijikan." Sinis Kanaya datar dengan sorot mata kebencian dan amarah yang berkoar dikedua bola matanya.
Rafael tertawa mendengar nada sinis Kanaya. Menurut Rafael gadis didepanya ini benar-benar menarik. Kanaya terlihat sekali jika tidak terpengaruh dengan pesona Rafael membuat Rafael seakan tertantang ingin menaklukannya."Tenang baby. Aku tidak akan menyakitimu." Bisik Rafael mengelus pipi Kanaya dengan jari tanganya.
Kanaya langsung menepis tangan Rafael yang berada dipipinya. Sorot mata Kanaya menatap tajam Rafael dengan wajah memerah padam karna amarah. "Singkirkan tangan kotor anda dari wajah saya. Dan jangan pernah anda berani-berani menyentuh saya dengan tangan kotor anda."
"Jadilah gadis penurut sayang. Kalau kamu tidak ingin terjadi sesuatu dengan adik kecil mu." Ucap Rafael santai dengan kedua tangan dimasukan kedalam saku celananya.
"Anda mengancam saya?" Sinis Kanaya.
"Apa menurutmu begitu cantik." Rafael terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Merasa aneh karna dirinya bahkan memiliki kadar kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi gadis aneh didepannya.
Ini bahkan kali pertama Rafael bisa bersikap santai dan gemas dalam bersamaan dalam menaklukkan wanita yang sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
"Saya bisa saja melaporkan anda kepihak berwajib, karna pencukikan anak dibawah umur." Ancam Kanaya dingin.
"Benarkah. Lalu bagaimana jika ternyata aku memiliki bukti hasil adopsi adik kamu. Apa pihak berwajib akan tetap manangkap ku, atau malah sebaliknya. Memasukan mu kedalam dinginnya jeruji besi karna pencemaran nama baik." Jawab Rafael enteng.
Kanaya mengepalkan tangannya erat, menahan diri untuk tidak berteriak marah dengan pria kejam didepannya. "Apa sebenarnya mau anda. Saya tidak punya urusan dengan anda. Kenapa anda menculik adik saya!!"
"Tenanglah. Santai saja, kamu memang tidak punya masalah dengan ku. Tapi ayah mu lah yang memiliki masalah dengan ku." Ucap Rafael santai dengan wajah menatap lurus kearah bola mata Kanaya.
__ADS_1
Rafael bisa melihat jika ada begitu banyak amarah yang berkobar didalam mata hitam pekat itu. Disitu, Rafael bisa melihat pantulan bayangan dirinya didalam bola mata Kanaya. Membuat Rafael merasa perasaan aneh dalam dirinya.
"Cih...Jika anda punya urusan dengan dia. Lalu kenapa anda menyeret saya dan adik saya masuk kedalam masalah kalian." Teriak Kanaya hilang kesabaran.
Adiknya tidak bersalah lalu kenapa harus adik kecilnya yang menanggung masalah yang dibuat ayahnya.
"Yap kamu benar. Tapi sayangnya ayahmu yang brengsek itu, menjadikan adik mu sebagai jaminan hutangnya. Dan kamu tau, dia bahkan tidak mau repot-repot mengembalikan semua uang ku. Yang artinya adikmu akan menjadi menu utama untuk ku."
"Apa anda tidak memiliki hati. Adik saya bahkan tidak tau apapun. Kenapa dia yang menjadi korban."
"Tanyakan semua itu pada ayah mu. Karna aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milik ku."
"Berapa hutang yang harus saya bayar."
"Waoww. Benarkah.. kamu bersedia membayarnya." Ucap Rafael sedikit meremehkan, yang hanya dibalas dengan tatapan datar oleh Kanaya. "Baiklah. Aku rasa, kamu cukup serius. Stev beritau gadis cantik ini, berapa nominal yang harus dia bayar saat ini." Sambung Rafael melangkah kearah sofa tepat sebelah kiri dinding ruangannya.
"3,5 M. Nyonya." Jawab Stev mantap.
Rafael tersenyum mengejek mendengar ucapan Kanaya. "Kenapa?" Tanya Rafael "Kamu tidak sanggup membayarnya." Sambung Rafael mencemo'oh.
"Beri saya waktu. Saya janji akan membayarnya." Janji Kanaya mandang Rafael.
"Berapa lama? Satu tahun? Lima tahun? Atau seumur hidup!!" Sindir Rafael mengejek.
"Seberapa lama pun. Saya tidak peduli, meski seumur hidup pun. Saya janji, saya akan mengembalikan uang itu."
"Kamu kira saya mau menunggu selama itu. Jangan bodoh nona. Saya masih memiliki banyak waktu untuk hal-hal yang lebih berguna.." Ucap Rafael santai sambil melipat kedua tanganya didada dan bersandar disandaran sofa memandang remeh Kanaya. "Atau begini saja. Saya punya cara lain untuk anda bisa membayarnya hanya dalam waktu singkat." Sambung Rafael.
Kanaya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari pria asing didepannya. Sama sekali tidak tertarik untuk memotong atau menyelanya.
Rafael bangkit dari duduknya dan kembali melangkah mendekat. "Dengan cara." Ucap Rafael tersenyum misterius.
"Menjadi istri saya." Sambung Rafael setelah berdiri pas didepan Kanaya.
__ADS_1
"BRENGSEK..." Teriak Kanaya kuat. Bahkan tanganya sudah melayang kearah pipi Rafael dengan kuat. Melampiaskan amarahnya yang sedari tadi dia tahan. Stev yang berdiri tidak jauh dari Rafael dan Kanaya pun kaget, langsung melangkah mendekat. Sebelum tangan Rafael mengisaratkan untuk Stev tetap diam ditempat.
"Anda kira siapa anda. Berani menawarkan hal menjijikan seperti itu kepada saya." Sambung Kanaya marah.
"Kamu keberatan?" Tanya Rafael mengusap ujung bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah karna tamparan Kanaya dipipinya.
Wanita ini memiliki tenaga yang kuat ternyata. Aku sudah tidak sabar ingin melihat dia mendesah dibawah kuasa ku. Batin Rafael.
"Baiklah hanya ada dua pilihan disini. Kamu bersedia menikah denganku atau..." Ucap Rafael santai sambil bersedekap didepan Kanaya.
"Adik kecilmu akan menjadi santapan binatang peliharaanku." Sambung Rafael tak berperasaan.
"Dasar iblis tak punya hati." Raung Kanaya kembali mangangkat tangannya bersiap melayangkan bogeman mentah kearah Rafael tapi terlambat, karna reflek Rafael lebih cepat dari perkiraan Kanaya.
Menarik tangan Kanaya mendekat dan memutarnya. Rafael berhasil mengunci Kanaya dengan tubuh besarnya.
Kanaya berusaha memberontak. Saat sebelah tanganya ditekuk dibelakang punggungnya oleh sebelah tangan Rafael dan tangan besar Rafael sebelah lagi berada diantara perut dan pinggangnya. Menarik tubuh Kanaya menempel pada tubuh besar Rafael. Membuat ruang gerak Kanaya terbatas dan sulit untuk menjauh.
"Lepaskan saya." Ucap Kanaya dingin.
"Apa kamu tidak bisa tenang nona. Kesabaran saya sangat terbatas jika anda ingin tau." Bisik Rafael ditelinga Kanaya.
"Dan akan sangat mudah bagi saya untuk meleyapkan mu dan adik manismu itu hanya dalam kurun waktu singkat jika saya menginginkanya. Jadi, bersikaplah menjadi gadis penurut jika tidak ingin melihat adik kecilmu, menjadi santapan buas peliharaan ku." Sambung Rafael dengan suara serak.
Merasakan tubuhnya bersentuhan langsung dengan tubuh ramping Kanaya membuat singa buas dalam diri Rafael terasa bangkit.
Menjauhkan tubuh Kanaya dari tubuhnya. Rafael memalingkan wajah kearah lain untuk meredakan gejolak dalam dirinya yang mulai meronta-ronta ingin dilampiaskan. Oh. Bahkan ini masih terlalu pagi untuk melakukan aktifitas ranjang. Dan kenapa Rafael mejadi semesum ini hari ini, hanya karna menyentuh tubuh gadia yang tidak dikenalnya.
Dan lebih tidak masuk akalnya lagi, gadis itu bahkan menolak mentah-mentah pesonanya.
Haruskah Rafael melenyapkan gadis yang sudah melukai harga dirinya ini. Tapi Rafael sangat penasaran dengan rasa bibir ranum gadis ini, dan bagaimana rasanya menikmati tubuh rampingnya. Mendengar desahan gadis yang selalu menatap dingin kearahnya, sepertinya sepadan dengan waktu yang dia buang percuma untuk hari ini.
Haruskah Rafael memperkosanya disini. Oh sial, bahkan seumur hidup Rafael tidak pernah memaksa wanita untuk menyerahkan tubuhnya, apa lagi sampai memperkosanya. Bisa benar-benar hancur reputasinya jika sampai anak buahnya mengetahui. Apalagi teman-teman brengseknya, bisa-bisa mereka langsung memanggil Rafael sipecundang. Karna selama ini semua para wanita yang tidur dengannya. Tidak pernah dia paksa, bahkan mereka dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepada Rafael.
__ADS_1