Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Kencan? Atau Makan siang?


__ADS_3

Rafael mengetuk-ngetukkan kakinya dilantai dengan kepala menunduk. Saat ini, Rafael bersandar disandarkan mobil, dengan kedua tangan masuk kedalam saku celananya.


Hingga suara langkah kaki seseorang mendekat kearah nya, baru kepala Rafael mendongak. Menatap siapa yang saat ini berdiri didepannya dengan wajah datar tanpa senyum.


Mengetahui jika itu adalah istrinya, senyum Rafael terbit tanpa diminta.


"Ayo masuk." Ajak Rafael membukakan pintu mobil.


"Mama dan El sedang-"


"Mereka gak akan ikut kita." Potong Rafael santai dibarengi dengan bunyi notifikasi pada ponsel Kanaya.


Sayang, kamu pulang dengan Rafael dulu ya.. Mama masih ada urusan, jadi El biar ikut dengan mama. Have Fun sayang.


Seperti itu lah isi pesan dari mama mertuanya, membuat Rafael semakin tersenyum lebar.


"Bisa kita berangkat sekarang?" Tanpa banyak bertanya akhirnya Kanaya masuk kedalam mobil.


Disepanjang perjalanan tidak ada yang membuka obrolan, bahkan keadaan mobil Rafael begitu sunyi dan tenang. Dengan Kanaya yang menatap kearah samping, memperhatikan jalanan lewat pintu kaca mobil Rafael.


Seumur hidup, ini kali pertama Rafael merasa begitu canggung didalam mobilnya sendiri. Bahkan ia bingung harus memulai pembicaraan apa mengingat istrinya begitu sulit ia tebak.


Jika kebanyakan wanita akan sangat senang satu mobil dengannya berbeda dengan istrinya. Datar, dan nampak tak nyaman berada disampingnya.


"Kamu sudah makan?" Pertanyaan Rafael hanya dijawab gelengan oleh Kanaya.


"Kamu ingin makan sesuatu?"


"Saya akan makan nanti dirumah tuan." Balas Kanaya.


Melirik Kanaya sekilas, Rafael menancap gas mobil lebih cepat dari sebelumnya. "Kita akan mencari tempat makan sebentar." Tidak ada jawaban dari Kanaya membuat Rafael semakin kesal dan juga marah tanpa tau alasannya.


Mereka tiba disebuah cafe dipinggir pantai. Pemandangan yang nampak asri dengan dataran tinggi, ditambah dengan mereka berada dilantai atas sebuah cafe membuat mereka bebas melihat sekitar pantai yang begitu bersih dan juga indah.


"Ayo." Ajak Rafael begitu Kanaya memperhatikan sekeliling, bahkan tanpa ragu Rafael menarik tangan Kanaya. Menggandengnya hingga masuk kedalam cafe melewati Sawung-sawung yang berjejer rapi dilantai dua.


Di cafe itu, mereka menyediakan dua lantai untuk para pengunjung. Lantai satu lebih terlihat modern sedang lantai dua lebih seperti pedesaan dengan duduk disebuah Sawung yang menghadap langsung kearah lautan lepas.


"Anda sering datang kesini?" Tanya Kanaya berjalan dibelakang Rafael. Tidak menolak saat Rafael terus menggandengnya.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya datang kemari sekali, saat datang meninjau proyek baru."


"Lalu kenapa anda mengajak saya kemari?"


"Aku pikir, kamu akan suka." Ucap Rafael berhenti disalah satu Sawung, diikuti Kanaya dari belakang.


"Ayo masuk." Perintah Rafael, dengan patuh Kanaya masuk lebih dulu, duduk dipojok. Yang mana ia bisa melihat seluruh pandangan pantai. Sedang Rafael duduk disampingnya.


"Kamu suka makanan kampung?" Kanaya menolah kearah Rafael, menatap kebawah dimana telunjuk Rafael mengarah kesebuah gambar hidangan makanan yang nampak asing dimatanya.


"Saya belum pernah mencobanya."


"Kalau begitu kita harus mencoba nya sekarang." Seru Rafael memanggil seorang pelayan, mengatakan apa saja yang ingin mereka pesan. Bahkan ia beberapa kali bertanya pada Kanaya tentang makanan yang ingin ia pesan.


Entah kelewat pasrah atau memang dasar Kanaya terlalu malas untuk berbasa-basi, dia hanya menggeleng dan mengatakan apa pun yang Rafael pesan akan dia makan.


"Kamu suka?" Tanya Rafael menatap wajah Kanaya terang-terangan. Tidak ada senyum disana, tapi wajah Kanaya nampak lebih bersinar dengan mata yang nampak lebih hidup.


"Disini indah."


"Aku senang jika kamu suka, kita harus sering-sering kesini kalau begitu."


"Bukan kah kamu menyukainya?"


"Lalu, kenapa anda ingin membawa saya sering kemari?" Balas Kanaya menatap kedua mata Rafael.


Seakan dunia berhenti berputar, sorot mata Kanaya yang nampak sayu bertatap langsung dengan sorot mata tajam milik Rafael. Membuat Rafael seakan terhipnotis oleh sorot mata itu.


Tanpa sadar, tangan Rafael terangkat ke wajah Kanaya. Meraih beberapa rambut Kanaya yang terbang karna diterpa angin sampai menutupi wajahnya. Meminggir kan nya kebelakang telinga, hingga ia bisa bebas menatap wajah Kanaya.


"Aku tidak tau apa yang aku lakukan saat ini, hanya saja... Aku ingin tau, isi di dalam otak cantik mu ini." Ucap Rafael.


"Itu bukan hal yang penting." Tepis Kanaya kembali menatap kearah pantai.


"Kamu yakin?" Rafael menarik dagu Kanaya, memintanya untuk kembali menatap kearah nya.


"Anda terlihat berlebihan jika seperti ini, bukan kah kita menikah hanya diatas kertas.. Jadi, anda tidak perlu melakukan hal sejauh ini." Rahang Rafael mengeras mendengar ucapan Kanaya.


Hingga ia merasa sesuatu berhasil menamparnya, ada sebagian egonya yang tersentil dengan kata-kata istrinya.

__ADS_1


Ketika mereka sedang saling menatap, dengan tatapan mata yang nampak berbeda. Bertepatan dengan itu datang seorang pelayan yang mengantarkan makanan. Membuat mereka memalingkan muka dengan pikiran dan perasaan yang berbeda.


Tanpa mengatakan apa pun, Rafael mendekatkan makanan Kanaya tepat didepan nya. Tanpa berbicara dia memulai kegiatan nya sebelum makan. Mencuci tangan karna mereka memesan makanan pedesaan jadi mereka tidak mendapatkan sendok.


"Ini--" Tanya Kanaya menatap Rafael yang makan menggunakan tangan.


"Kenapa? Kamu belum pernah makan seperti ini kan?"


"Tapi, makan tanpa sendok?"


Bibir Rafael berkedut mendengar ucapan bingung Kanaya. Jika tadi ia merasa kesal dan marah karna ucapan istrinya, entah kenapa semua itu terasa menguar entah kemana.


"Kenapa?"


"Apa aku bisa meminta sendok?" Tanya Kanaya.


"Disini tidak diijinkan memakai sendok, dan juga sangat aneh jika kamu memakan makanan itu menggunakan sendok." Ucap Rafael santai, dengan semangat ia menyuapkan makanan ke mulut nya.


"Tapi, saya tidak bisa makan menggunakan tangan." Gumaman lirih Kanaya masih bisa didengar.


"Kenapa?" Tanya Rafael pura-pura tidak mengerti.


Dengan ragu, Kanaya menunjukan tanganya. Akhirnya Rafael terkekeh melihat kuku-kuku jari Kanaya nampak panjang lengkap dengan cat kuku cantik di jarinya. Rafael tidak menyangka jika istri nya yang terlihat dingin dan misterius memiliki kuku jari tangan yang berwarna-warni seperti itu.


Tanpa berfikir dua kali, Rafael mengambil piring Kanaya meletakkan nya didepannya. "Aaaa." Ucap Rafael ketika tangannya berada didepan bibir Kanaya.


"Tuan, ini---"


"Ayo buka mulut mu." Potong Rafael cepat.


"Tapi---"


"Kita tidak mungkin kan membungkus makanan kamu sekarang?" Ucapan Rafael berhasil membuat Kanaya mengerjab. "Atau kamu ingin meninggalkan makanan ini tanpa disentuh sedikit pun?" Mendengar ucapan Rafael yang terdengar tidak bersahabat. Akhir nya Kanaya memajukan kepalanya, menerima suapan Rafael dengan wajah sedikit memerah.


"Saya belum pernah makan menggunakan tangan, dan papa tidak pernah mengatakan jika makanan Indonesia ada yang tidak boleh menggunakan sendok." Cerita Kanaya tanpa diminta.


Rafael hanya mengangguk mendengar cerita Kanaya, bahkan ia terlihat menahan senyum saat dengan polos Kanaya terus menerima suapannya. Alhasil mereka makan melalui satu tangan yang sama, dengan menu makanan dan piring yang sama.


Dan untuk pertama kalinya Rafael menyuapi seorang wanita dari tanganya langsung. Sedang Kanaya makan dari suapan seorang pria pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2