
Kanaya duduk di sofa dengan kepala menunduk dalam. Setelah acara tangis-tangisan yang menyayat hati tadi. Kini Kanaya duduk berdampingan dengan Rafael dan juga sepasang suami istri. Yaitu Bagas dan Rahayu. Itu membuat Kanaya merasa canggung dan juga tidak nyaman.
Kanaya sama sekali tidak berani mengangkat kepala atau sekedar melirik kearah satu pasangan didepannya. KEBERANIANYA seakan hilang entah kemana. Semua itu karna kejadian tadi, dimana kedua pria itu melihat matanya yang sedikit bengkak dan bertanya ada apa. Beruntung calon mertuanya mau membantu nya, hingga bisa memberikan alasan yang masuk akal hingga membuat mereka tidak bertanya lagi.
"Jadi? Kapan kalian akan menikah?" Tanya Rahayu terdengar sedikit menuntut.
Ditatapnya kedua pasangan didepannya dengan tatapan mata menuntut, dan semua itu semakin membuat Kanaya menunduk dalam.
"Ma." Ucap Rafael dengan nada protes. Dia sendiri belum berfikir kearah sana, karna dia pikir dengan membawa calon bisa membuat mamanya tenang dan tidak banyak menuntut lagi. Tapi nyatanya semua pemikiran nya salah besar. Yang ada mamanya malah menuntutnya untuk segera menikah.
Tapi, Kenapa mamanya tidak ada basa-basi nya.
Dan, Kenapa mamanya ini terlalu to the point sekali.
Tidak tau apa, karna ucapan mamanya itu, hampir membuat Rafael serangan jantung..
Rafael belum siap jika harus menikahi Kanaya.
Mana bodi calon istrinya sangat jauh dari kata menarik.
Mana bisa membuat Rafael nafsu hanya melihatnya. Apalagi harus menyentuh, sepertinya Rafael juga tidak tertarik hanya untuk menyentuh calon istrinya.
"Kenapa? Kamu mau mengulur-ngulur waktu?" Tanya Rahayu memicingkan mata curiga. Bahkan kini tatapannya seperti sedang menguliti putra semata wayangnya itu. Membuat Rafael berusaha mencari alasan yang pas agar dapat diterima oleh mamanya.
"Rafa sedang sibuk di kantor ma..... Banyak pekerjaan yang harus Rafa selesaikan dalam waktu dekat ini. Jadi-"
"Serahkan semua kepada Steve." Potong Rahayu tegas. Yang langsung diangguki setuju oleh Bagas, suaminya.
"Tapi-"
"Mama gak mau tau...... Kamu serahkan semua pekerjaan kamu kepada Steve, atau papa kamu yang akan handle sekarang juga." Seru Rahayu tidak terbantahkan.
__ADS_1
Rafael mendesah panjang mendengar setiap kata perintah yang keluar dari bibir mamanya dan ucapan tidak terbantahkan. Kalau sudah begini, Rafael bisa apa.
"Papa setuju dengan mama mu boy. Lebih baik kalian fokus pada persiapan pernikahan kalian.... Kami tidak ingin pernikahan kalian malah terbengkalai hanya karna masalah pekerjaan..." Ucap Bagas menyetujui ucapan istrinya dan semua itu semakin membuat wajah Rafael ditekuk masam.
Ternyata papanya sama sekali tidak membantu, tapi malah ikut memojokkannya.
"Jadi? Kapan acara pernikahan kalian?" Tanya Rahayu sekali lagi.
Dengan wajah ogah-ogahhan Rafael melirik Kanaya yang hanya diam mendengarkan. Tidak terganggu sedikit pun dengan kata-kata mamanya atau papanya. Apa dia sepassrah itu. Pikir Rafael bingung.
"Rafa belum tau.... Rafa belum membahasnya dengan Kanaya.." Jawab Rafael malas.
"Apa? Kenapa bisa seperti itu? Sebenernya kalian ini beneran mau nikah gak sih." Seru Rahayu sedikit tak terima.
"Ya ma." Jawab Rafael cuek. Semakin membuat Rahayu mendesah panjang, sedangkan Bagas menggeleng kan kepala geli.
"Mau-mau, kamu itu yang jelas dong Rafa. Ini anak perempuan orang loh, masa kamu PHP in terus sih... Kalau niat mau nikahi ya cepetan nikahi, kalau enggak ya udah, jangan.."
"Iya mama... Kita ada rencana nikah kok, cuman belum nemu waktu yang pas aja."
"Ma. Kami baru memulai hubungan ini....... Jadi wajar, jika kami belum membahas kejenjang yang lebih serius..... Kami juga masih terlalu muda ma....."
"Menikah tidak perlu menunda-nunda waktu. Apa lagi alasannya hanya karna belum saling mengenal..... Seiring berjalannya waktu, mama yakin, kalian akan belajar mengenal karakter satu sama lain..... Jadi mau menunggu apa lagi.... Jika memang kalian bisa menikah diwaktu dekat.. Kenapa kalian harus menundanya....." Ucap Rahayu menasehati.
"Lagi pula. Mama tidak suka jika kalian tinggal satu rumah tanpa ikatan yang resmi." Sambung Rahayu cuek.
"Apa yang mama takutkan disini..... kami bukan tinggal berdua... Banyak pelayan disini... Kami tidak mungkin berbuat macam-macam." Kecuali jika Rafa khilaf ma, mungkin hanya satu macam yang akan Rafa lakukan pada calon menantu mama. Sambung Rafa dalam hati.
Rahayu menatap tajam kearah Rafael. "Kamu kira, mama bodoh. Tidak tau akal bulus mu.... Sejak kapan anak mama berubah menjadi anak baik... Kami diam saja dengan perbuatan mu selama ini diluar sana, bukan berarti kami tidak tau.... Tapi kami hanya pura-pura tidak mengerti dan tidak mau ikut campur urusan mu... Jadi jangan pura-pura menjadi anak yang baik dan penurut didepan mama.." Ucap Rahayu marah sambil menatap tajam Rafael.
"Dan lagi.... Jangan pernah panggil aku mama jika mama...... Tidak bisa menikahkan kalian dalam waktu dekat ini.." Sambung Rahayu sinis.
__ADS_1
"Ma--"
"Mama gak mau tau....Tentukan tanggal pernikahan kalian saat ini juga, atau kami yang akan menentukan tanggal pernikahan kalian... Mama tidak masalah nikahkan kalian satu minggu lagi..." Seru Rahayu penuh ancaman.
"Mana bisa secepat itu.." Protes Rafael.
"Siapa bilang tidak bisa?"
"Pernikahan itu butuh proses.... Dan persiapan yang matang mama.. Persiapan pernikahan itu tidak bisa dilakukan dengan cepat, dan dengan terburu-buru..."
"Tentu saja mama bisa melakukan itu semua.... Apa yang tidak bisa mama lakukan hanya untuk masalah persiapan pernikahan seperti ini...... Lagi pula mama punya banyak kenalan untuk semua persiapan pernikahan." Ucap Rahayu santai.
"Tapi, Rafa ingin yang terbaik untuk persiapan pernikahan Rafa ma."
"Kamu meragukan kemampuan mama?"
"Tidak.... Bukan begitu... Hanya saja,"
"Lalu?"
"Rafa hanya ingin... Dihari pernikahan kami ini... Kami bisa melakukannya dengan hati-hati agar persiapan pernikahan kami tidak mengecewakan... Ini adalah penikahan kami yang pertama dan terakhir ma... Jadi biarkan kami nempersiapkannya dengan serius dan matang..."
"Baiklah.... Mama beri kalian waktu satu bulan."
"SATU BULAN? Ma itu-----"
"Apa? Kamu mau bilang itu terlalu cepet?" Seru Rahayu galak.
"Satu bulan atau satu tahun sama saja.... Bukan kalian yang mengurus pernikahannya, tapi orang lain.... Kalian hanya perlu memilih dan menentukan pilihan... Bukan kalian yang sibuk mengurusnya apalagi sampai lelah mempersiapkannya.... Lalu, apa lagi yang dipusingkan soal itu semua...." Sambung Rahayu mengomel.
"Tapi kan... Itu terlalu cepat mama...." Ucap Rafael memelas.
__ADS_1
"Gak... Mama cuman kasih kalian batas waktu satu bulan... Kalau sekali lagi kamu protes, mama akan majukan pernikahan kalian menjadi minggu depan." Ucap Rahayu enteng.
"Ckkkkk....." Rafael hanya berdecak panjang mendengar ucapan mamanya. Jika mamanya sudah mengatakan semua itu, selain pasrah dan menurut Rafael bisa apa.