Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Kecanduan Rafael.


__ADS_3

Malam itu, seakan menjadi malam yang panjang bagi Rafael. Jika biasanya ia akan merasa jenuh dan bosan dengan aktifitas ranjangnya, hingga hanya cukup sekali permainan maka ia akan merasa jengah. Berbeda dengan malam ini, ia nampak begitu menikmati dan begitu mendamba Kanaya. Berbeda sekali dengan niat awalnya yang akan menaklukan Kanaya dan membuat Kanaya mendambakan belaiannya. Yang ada malah Rafael tidak bisa berhenti seakan malah tubuh Kanaya mengandung obat terlarang, yang membuat orang kecanduan dan tidak bisa berhenti.


Milik istrinya itu. Terasa berbeda dengan yang lain. Seakan ia adalah pria yang baru pertama kali merasakan bercinta. Dan pertama kali menjamah seoarng wanita.


Jika, Kayana hanya diam saat Rafael terus mengabsen seluruh tubuh rampingnya. Berbeda dengan Rafael yang seperti orang kesetanan, karna rasa wanita yang berbeda yang baru dia dapatkan. Bibir istrinya terasa begitu kenyal dan manis, bahkan Rafael tidak dapat mendefenisikan bagaimaa rasa malam pertamanya semalam. Begitu nikmat dan luar biasa. Hingga tanpa sadar, Rafael terus mengulanginya hingga berkali-kali mengabaikan protesan Kanaya yang memintanya berhenti. Rafael sudah seperti pria cabul yang haus akan belaian, padahal baru kemarin malam ia tidur dengan wanita pilihan Stev. Tapi malam ini, ia seperti sudah berbulan-bulan puasa. Ia bahkan berulang kali mendesah dan mencapai puncaknya, berulang kali juga meracau betapa nikmat tubuh istrinya.


Rafael terus memandangi wajah polos Kanaya yang sedang tertidur pulas, padahal ini sudah pukul dua belas siang. Tapi belum ada tanda-tanda Kanaya bangun dari tidurnya, maklum semalam pukul lima pagi baru Rafael mengijinkan Kanaya istirhat. Dan berakhir, pasti hari ini tubuh Kanaya terasa remuk redan, berbeda dengan Rafael yang nampak segar bugar dan fres.


Mendengar dengkuran halus Kanaya. Membuat Rafael berulang kali menarik sudut bibirnya, hari ini moodnya benar-benar bagus sepertinya. Hanya melihat Kanaya tidur disampingnya tanpa busana sehelai benang pun membuat Rafael merasa bangga. Bangga karna bisa menjamah tubuh Kanaya. Uhhh, kenapa Rafael berubah senaif ini.


Dengan senyum masih menghiasi bibirnya, Rafael beranjak bangun dan memakai pakaiannya. Perutnya terasa lapar saat ini, ia butuh makan sebelum memulai aktifitasnya. Melirik Kanaya sekali lagi, Rafael membenarkan letak selimutnya dan setelah itu melanggang pergi.


Pertama kali menginjakkan kakinya diruang makan, hal pertama kali Rafael lihat adalah El yang sedang makan dengan bibir melengkuh kebawah.


"Hai El." Sapa Rafael menepuk pelan kepala El, yang langsung ditepis dengan kasar oleh El.

__ADS_1


"Jangan sentuh-sentuh." Ketus El menepis tangan Rafael.


Rafael terkekeh pelan, tidak terganggu dengan nada ketus El. Malah dengan santainya ia duduk disamping El. "Sarapan tuan." Ucap seorang pelayang yang langsung diangguki oleh Rafael.


"Kakak Naya mana?" Tanya El menatap Rafael.


"Kenapa? El mau sesuatu? Balik tanya Rafael. El menggeleng.


"Kakak Naya mana?" Ulang El mengulang pertanyaan yang sama.


"Masih tidur." Jawab Rafael sambil menyuapkan sesendok makanan kemulutnya.


"Kamar kakak Rafa."


Mata El memvesar saat mendengar jawaban Rafael. "Kenapa kakak Naya tidul disana?"

__ADS_1


"Iya dong, kak Naya kan istrinya kak Rafa masak gak boleh tidur dikamar kak Rafa." Saut Rafael tersenyum jail. Melihat wajah cemberut El, dan tatapan kesalnya membuat Rafael merasa lucu.


Mendengar jawaban Rafael membuat El tiba-tiba turun dari kursinya. "Mau kemana?" Tanya Rafael menahan lengan El.


"Mau bangunin kakak Naya, kakak Naya gak boleh tidul dikamal kak Lafa." Ucap El melepas pegangan Rafael.


"Jangan Kak Naya masih tidur."


"Ih, lepas enggak." Seru El kuat.


"Janji dulu sama kak Rafa. Jangan bangunin kak Naya."


"Enggak mau."


"Ya udah kalau gitu, kak Rafa gak bakal lepasin El." Jawab Rafael enteng.

__ADS_1


Dengan kesal dan tatapan marah, El langsung menggigit tangan Rafael dilengannya membuat Rafael berteriak histeris karna kesakitan.


"Sukulin." Ledek El, setelah itu ia pun berlari pergi. Meninggalkan Rafael yang menatap kesal El dan mengusap tangannya bekas gigitan El.


__ADS_2