Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Hal baru.


__ADS_3

Kanaya menatap kosong lampu tidur disampingnya. Lagi-lagi ia hanya bisa pasrah, tidak bisa menolak atau bahkan menghindar. Hidupnya sudah benar-benar hancur lebur tak tersisa.


Semua itu hanya demi adiknya, adik kecil yang menjadi lampu penerang hidupnya.


"Bisakah kita bicara?" Ucapan bernada serak dibelakang punggungnya, tidak bisa mengalihkan pandangannya. Kali ini, ia hanya berbaring memunggungi Rafael dengan selimut melilit tubuh polos mereka.


"Kanaya?"


"Bicaralah." Jawab Kanaya cepat, tanpa menoleh atau melirik Rafael.


Menghebuskan nafas kuat. Rafael berbicara hati-hati. "Apa kita perlu pindah rumah?"


"Kenapa kita harus pindah rumah?" Pertanyaan datar dari Kanaya membuat Rafael beringsut merapatkan tubuhnya kearah Kanaya. Dikecupnya pundak polos istrinya berulang-ulang.


"Disini, El nampak tidak nyaman. Kita butuh suasana baru agar ia bisa lebih rileks." Ucap Rafael memeluk Kanaya dari belakang.


Kanaya menggeliat saat suara serak Rafael menerpa lehernya. "Tidak perlu. Dia hanya butuh waktu."

__ADS_1


"Kenapa?" Kanaya mengerutkan kening bingung saat pertanyaan ambigu Rafael masuk kegendang telinganya.


"Kenapa kamu menolak pindah rumah?" Ucap Rafael memperjelas.


"Bukankah saya hanya setahun disini. Setelah saya hamil anak anda, saya akan keluar dari rumah ini. Lalu kenapa kita harus pindah." Rahang Rafael mengeras mendengar jawaban sarkas istrinya. Entah kenapa, dia merasa marah ketika Kanaya mengingatkan dengan rencana awalnya.


Menjauh dari Kanaya. "Tidurlah." Cetus Rafael datar. Tapi, matanya tidak lepas dari punggung istrinya yang tidur memunggunginya.


Mengabaikan kata-kata Rafael, Kanaya bangun dari tidurnya. Melilitkan selibut tebal pada tubuh polosnya, Kanaya meraih pakaiannya yang berserakan diatas lantai. Membuat pandangan Rafael tidak lepas memperhatikan gerak-geriknya.


"Jika anda sudah selesai. Saya akan kembali kekamar saya." Mata Rafael langsung terbelalak saat mendengar ucapan dingin istrinya.


Mengabaikan ucapan Rafael Kanaya dengan santainya melenggang pergi. Yang langsung membuat Rafael kelabakan dan langsung berdiri. "Yak....Kau tidak mendengar peringatan ku." Sembur Rafael murka.


Kanaya memalingkan wajah ketika Rafael berdiri didepannya, menghalangi langkahnya dengan tubuh polos tanpa busana.


"Minggirlah, saya mau lewat."

__ADS_1


"Apa aku harus membuatmu kelelahan dulu. Baru kau akan menurut padaku." Geram Rafael.


"Apa anda tidak memiliki rasa malu?"


"Kenapa aku harus malu? Toh kita sudah sama-sama melihat tubuh polos satu sama lain." Ucapan fulgar Rafael membuat desisan Kanaya lolos untuk pertama kalinya.


"Jadi? Apa aku perlu mengingatkan mu tentang akti-"


Kanaya langsung menginjak kaki Rafael kuat. Memotong dengan cepat ucapan mesum suaminya. "Dasar mesum."


Rafael meringis begitu kakinya diinjak kuat istrinya. Sedang sang pelaku sudah melangkah kembali keatas ranjang tanpa sedikit pun rasa bersalah. Tak urung meski wajahnya neringis sakit, sudut bibir Rafael tetap tertarik tipis keatas karna berhasil menggoda istrinya.


Uhhhh, kenapa Rafael berubah naif!!


Dengan rasa nyeri dikaki, Rafael menyusul Kanaya keatas ranjang. Ikut berbaring disamping Kanaya. "Anda tidak berpakaian lebih dulu?"


"Aku lebih suka seperti ini. Agar jika menginginkanmu aku lebih cepat-" Kanaya langsung melotot galak pada Rafael. Membuat Rafael tertawa dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Ok-ok....Aku hanya bercanda." Sambung Rafael pada akhirnya. Dan ia pun kembali bangun, dan melangkah kearah lemari untuk meraih pakaian santai yang akan dia gunakan untuk tidur. Membuat Kanaya menggeleng dan mendesah panjang, saat dengan santainya Rafael malah memilih-milih pakaian tanpa busana satupun.


Apa peria itu sudah tidak memiliki urat malu? Pertanyaan sinis itu kini bersarang dipikiran Kanaya.


__ADS_2