
Kanaya duduk disofa dengan Rafael didepannya. Setelah bangun pagi tadi, Rafael langsung memanggilnya dan mengajaknya masuk kedalam sebuah ruangan. Sepertinya perpustakaan, melihat banyaknya lemari-lari buku yang berjejer rapi diujung-ujung ruangan yang hampir memenuhi ruangan besar ini.
Kanaya yang ditatap begitu intens oleh Rafael tetap memasang tampang dinginnya. Tidak terganggu sedikit pun dengan tatapan mengintimidasi milik pria asing didepannya.
Sedang Rafael, dia begitu intens menatap wanita didepannya. Wanita yang sama sekali tidak terganggu oleh tatapan mengintimidasi miliknya.
"Selamat pagi tuan." Sapa Steve dari arah pintu. Sepertinya Steve baru datang pagi ini. Karna terlihat sekali dia baru menunjukkan batang hidungnya pada Rafael. Karna biasanya pria campuran korea-indo itu selalu menempeli Rafael kemana pun.
Kanaya hanya melirik Steve sekilas. Setelah itu, dia kembali menatap lurus kedepan. Kearah buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak lemari.
Rafael hanya mengangguk sekilas setelah itu, pandangannya jatuh pada Kanaya. "Serahkan berkas-berkas penting mu pada Steve. Dia akan mengurus surat-surat pernikahan kita. Setelah itu, kita akan terbang ke Indonesia." Ucap Rafael datar.
"Indonesia?" Ulang Kanaya tak percaya.
Rafael hanya mengangkat sebelah alisnya, memandang datar Kanaya. "Kenapa? Kamu keberatan?" Tanya Rafael santai.
"Apa kita harus pergi kesana?"
"Tentu saja. Kedua orang tua ku ada disana!!"
"Tapi, di perjanjian tidak ada jika saya harus ke indonesia!!" Seru Kanaya dengan nada tak percaya.
"Ya. Dan disitu tertulis kamu hanya perlu mengikuti semua kemauan saya."
Kanaya melirik sinis Rafael. "Saya tidak akan pergi kemana pun." Ucap Kanaya datar.
"Terserah. Tapi aku tidak membutuhkan pendapatmu. Mau atau tidak!! Kamu akan tetap ikut aku ke indonesia."
"Anda tidak bisa memaksa saya seperti itu!"
"Tentu saja bisa!! Kamu sudah menandatangani surat-surat perjanjian kita. Jika kamu tidak ingin masuk kedalam penjara. Kamu harus menuruti semua perintahku."
"Saya bukan budak anda yang bisa anda perintah se'enak nya."
__ADS_1
"Yap. Kamu memang bukan budak ku. Tapi kamu calon istriku. Jadi kamu harus menurut pada ku."
"Masa bodoh dengan semua itu. Saya tidak akan peduli!!" Teriak Kanaya marah.
"Jangan berani-beraninya kamu berteriak pada ku. Siapa kamu berani berteriak seperti itu." Ucap Rafael tajam.
"Kenapa? Anda keberatan!!" Ucap Kanaya dengan nada menantang.
"Kamu--" Ucap Rafael terdengar bahaya.
"Tuan." Potong Steve menahan Rafael yang berdiap maju.
"Tenang." Sambung Steve pelan.
"Aisssss. Urus dia Steve. Aku tidak mau tau, nanti sore, kita sudah harus terbang ke indonesia."
"Baik tuan."
"Dia hanya akan membuang-buang waktu kudisini." Ucap Rafael melangkah keluar. Meninggalkan Kanaya yang menatap dingin padanya.
"Hai kucing kecil. Apa yang kau lakukan disini." Tanya Rafael menatap penuh kearah El. "Kau sudah makan?" Sambung Rafael melangkah kearah El.
Rafael merasa aneh pada dirinya, tidak biasanya dia peduli dengan orang-orang sekitarnya. Tapi entah mengapa bocah kecil didepannya ini pengecualian untuknya. Dia merasa sedikit simpatik pada bocah kecil yang memandangnya dengan tatapan polos itu. Seakan mata polos kecil itu, memandangnya minta perlindungan yang entah mengapa mengganggu Rafael belakangan ini.
El, yang mendapat pertanyaan dari pria dewasa yang tidak dia kenal hanya memandang polos Rafael dengan tubuh terus mundur kearah pojok sandaran sofa.
Rafael yang melihat El memandangnya takut hanya terkekeh pelan. "Kau mau es crim?" Tawar Rafael yang hanya dibalas dengan kedipan lentik bulu mata El.
Rafael langsung memanggil pelayang yang kebetulan sedang berdiri tidak jauh darinya dengan kain lap ditangannya. Meminta pelayang wanita itu untuk mengambilkannya es crim coklat untuk dirinya.
Tidak lama, pelayan itu datang dengan nampan yang berisi mangkok es crim coklat diatasnya. Dengan bu Ana yang berjalan dibelakangnya.
"Tuan." Sapa bu Ana meminta perhatian dari Rafael yang memainkan gadgetnya. Duduk diatas sofa disamping El, dengan El yang duduk diam memainkan ujung sofa dengan tanganya.
__ADS_1
Rafael menoleh sekilas kearah bu Ana. Kemudian pandangannya beralih kearah pelayang yang membawa nampan.
"Apa dia sudah makan?" Tanya Rafael menunjuk El dengan dagunya.
"Belum tuan. Beliau menolak makan, katanya menunggu nyonya Kanaya untuk makan bersama." Jawab bu Ana sopan.
Rafael hanya mengangguk sekilas. "Kemarikan es crim itu." Perintah Rafael yang langsung dituruti oleh pelayan didepannya.
"Kau mau kucing kecil?" Tanya Rafael menoleh pada El dengan mangkok es crim ditangannya.
El tatap bungkam mendengar pertanyaan Rafael. Merasa gemas, Rafael menyodorkan mangkok es crim ditangannya kearah El. Yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh El.
"Kenapa? Kau tidak menyukai es crim?" Tanya Rafael heran, karna biasanya bocah kecil seusia El pasti sangat menyukai makanan manis yang bisa meleleh dimulut itu.
"Kata kakak tidak boleh menerima makanan dari orang yang tidak kita kenal." Jawab El mantap, lengkap dengan tatapan mata polosnya.
"Benarkah?" Tanya Rafael tak percaya yang langsung dibalas anggukan kepala mantap.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berkenalan dulu. Agar kita bisa menjadi teman."
"Apa itu teman?"
"Kau tidak tau teman?" Tanya Rafael, yang langsung dibalas gelengan oleh El.
"Teman itu orang yang bisa bermain bersama, dan saling berbagi."
"Tapi El tidak suka main."
"Benarkah?"
"Lalu? El suka apa?"
"Baca. El suka belajar baca."
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu, kita bisa berbagi ilmu. Aku memiliki banyak buku yang bisa kau baca!! Dengan begitu kita bisa berteman."
Dengan senyum polosnya, El mengangguk semangat. Dan menerima mangkuk es crim dari tangan Rafael. El memakan es crim coklat dari Rafael dengan lahap. Sepertinya, mulai detik ini, El akan menjadikan makanan dingin ini sebagai makanan favoritnya. Karna rasa manis dan tekstur lembut yang berasal dari es crim ini membuatnya terasa meleleh di mulut El.