Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.

Pernikahan Kontrak Sang Cassanova.
Penculikan.


__ADS_3

Setelah badai pasti akan ada pelangi.


Setelah mendung pasti ada mentari.


Setelah rasa sakit pasti ada kebahagiaan.


Dan dibalik kehancuran pasti ada luka yang mendalam. Kanaya.










Ketokan pintu kamar Kanaya, membuyarkan lamunannya. Melangkah kearah pintu, dilihatnya El yang berdiri didepan pintu kamarnya dengan tatapan polosnya.


"Kenapa?" Tanya Kanaya pelan.


"Ada tamu yang nyali kakak." Ucap El sambil menunjuk beberapa pria yang berdiri tidak jauh dari Kanaya.


Disana, ada beberapa pria berpakaian sangat rapi memandang Kanaya lekat. Kanaya hanya diam dipandang lekat, tidak ada expresi di wajah Kanaya. Selain tatapan dingin dan datar dari gadis itu. Bahkan tidak ada yang tau apa yang ada di pikiran gadis cantik itu.


"El, belajar lah dikamar." Perintah Kanaya.


Hanya kata itu yang keluar dari bibir Kanaya. Tidak ada senyum menenangkan atau sekedar basa-basi pada adiknya.


El menurut, tidak ada protes atau pertanyaan yang keluar dibibir mungil bocah itu. Seakan perintah kakaknya adalah sebuah titah yang tak bisa dia bantah.


Hening, Kanaya hanya memandang pria-pria berjas itu dengan tatapan dingin, tidak ada tatapan takut atau sekedar perasaan grogi yang melandanya, karna mengingat saat hanya dia orang dewasa dirumah itu.


Melangkah mendekat. "dangsin-eun nugu-ibnikka (Siapa kalian?)" Tanya Kanaya dingin. Tidak ada senyum basa-basi atau sekedar sapaan hangat dari bibirnya, untuk tamunya.

__ADS_1


"Apa anda nona Kanaya?" Tanya Salah seorang pria berjas yang berdiri paling depan menggunakan bahasa indonesia.


"Ya." Jawab Kanaya.


Kanaya bahkan tidak bertanya bagaimana orang-orang itu bisa menggunakan bahasa yang sering dia gunakan sehari-hari dengan ayah dan ibunya. Atau bagaimana mereka bisa mengenalnya, atau bagaimana mereka tau namanya karna Kanaya sudah pasti tidak mengenal mereka.


"Perkenalkan saya Steve. Saya diperintahkan oleh atasan saya, untuk membawa anda kehadapan atasan saya sekarang juga."


"Kenapa saya harus ikut dengan kalian?" Tanya Kanaya datar.


"Saya tidak bisa menjelaskannya disini. Karna atasan saya yang akan menjelaskannya nanti kepada anda nyonya. Jadi, nyonya. Saya harap kerja sama anda untuk ikut dengan kami, sekarang."


"Cih. Percaya diri sekali kalian bahwa saya akan ikut dengan kalian."


"Kami tidak butuh jawaban anda sekarang nyonya. Tapi yang jelas, saya akan membawa anda baik secara sukarela atau secara paksa." Ucap Steve masih dengan intonasi rendah.


Kanaya mendengus mendengar jawaban Steve. "Keluarlah, saya tidak tertarik ikut dengan kalian. Memangnya siapa kalian bisa memaksa ku." Usir Kanaya dingin.


"Jangan sampai saya menggunakan kekerasan untuk membawa anda secara paksa nyonya."


"Kalian kira, kalian siapa bisa membawa ku pergi se'enaknya." Ucap Kanaya datar


"Kau bawa anak kecil itu." Perintah Steve menunjuk El yang kebetulan sedang mengintip disela-sela pintu kamarnya, kepada salah satu anak buahnya yang berdiri disisi kirinya. Yang langsung dipatuhi oleh anak buahnya.


Kanaya yang mendengar Steve menyuruh salah satu anak buahnya untuk membawa El, langsung menatapnya dingin penuh amarah pada Steve.


El yang mendengar Steve memerintah kan anak buahnya untuk membawanya. Langsung menutup pintu secara paksa. Tapi, terlambat karna tenaga anak buah Steve lebih besar darinya. Membuat El terdorong kebelakang secara paksa.


Membuka pintu secara kasar, anak buah itu langsung menggendong El yang terduduk didekat pintu dengan paksa.


"Lepas...Lepaskan aku..." Teriak El dari gendongan anak buah Steve, bahkan tubuhnya juga bergerak-gerak dengan kuat. Membuat anak buah Steve sedikit kewalahan.


"Lepas kan adik ku." Teriak Kanaya dingin dan bergerak maju kearah adiknya.


Steve tidak tinggal diam, langsung menyuruh anak buah yang ada dibelakangnya maju, dan menahan Kanaya.


Kedua tangan Kanaya di tahan oleh dua anak buah Steve. Membuat Kanaya terus meronta dan berusaha melepaskan diri dari pria-pria tidak dikenalnya.


"Kakak tolong aku.." Teriak El hampir menangis. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca, dengan wajah memerah menahan tangis.


Kanaya yang melihat adiknya hampir menangis membuat amarahnya memunjah. "LEPAS KAN ADIK KU. APA KAU TULI. LEPASKAN DIA...DIA TIDAK TAU APA-APA.." Teriak Kanaya marah.

__ADS_1


Seakan benar-benar tuli. Steve malah mendekat kearah El dan menyuntikan sesuatu pada tubuh mungil El.


"Kakak Naya...Tolong....Tidak lepaskan aku...Kakak tolong aku...Hiks....Kakak..." Teriak El sambil menangis. Dia takut, dan menyesal karena mengabaikan perintah kakaknya tadi.


"Lepas kan adik ku. Aku akan ikut dengan kalian...Kalian dengar... Jadi lepaskan adik ku sekarang..." Ucap Kanaya dengan perasaan kalut.


"Apa yang kau lakukan, jangan sentuh adik ku..."Teriak Kanaya saat melihat Steve menyuntikan sesuatu pada adiknya, El.


"Ka..aa--"Ucap El terputus, sebelum akhirnya El tak sadar kan diri.


El pingsan tak sadarkan diri dalam gendongan anak buah Steve.


Tubuh Kanaya sampai gemetar melihat adiknya yang tak sadar kan diri di dalam pelukan pria asing. Antara marah, benci, muak semua mejadi satu dalam diri Kanaya. Bagaimana mungkin seorang pria dewasa tega menyakiti anak yang masih dibawah umur.


Adiknya tidak tau apa-apa lalu kenapa mereka tega menyakiti adiknya.


"JAUH KAN TANGAN-TANGAN KOTOR KALIAN DARI TUBUH ADIK KU BRENGSEK..."Teriak Kanaya menggelegar diseisi rumah itu.


"Dia bukan lagi adik anda nyonya. Karna dia sudah menjadi tahanan kami sekarang. Ayah anda sudah menjual adik anda pada atasan kami. Jadi, anda tidak berhak lagi atas adik anda." Jelas Steve dengan nada tegas.


Kanaya yang mendengar penjelasan Steve tubuhnya langsung mati rasa. Ayahnya. Lagi!!!


Mau sebesar apa lagi ayahnya, akan memberikan mereka luka, penderitaan dan rasa sakit, tidak cukup kah dulu mereka membuangnya begitu pun adiknya.


Lalu kenapa seakan belum puas, mereka malah menjual adiknya. Kenapa bukan Kanaya saja yang mereka jual. Kenapa??


"PEMBOHONG. KAU KIRA AKU AKAN PERCAYA." Teriak Kanaya. "Lepaskan aku breksek, lepas.." Ucap Kanaya meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


"Bawa anak ini kedalam mobil." Ucap Steve pada anak buahnya yang menggendong El.


"Tidak jangan. Aku mohon jangan bawa adik ku. Kalian bisa membawa ku, Tolong jangan libatkan adik ku.." Tangis Kanaya pecah mendengar orang asing akan membawa adiknya.


Hanya El yang dia punya sekarang, bagaimana mungkin mereka tega memisahkan dia dengan adik kecilnya.


El tidak akan baik-baik saja tanpa dirinya. El kecilnya yang malang. Bagaimana mungkin dia bisa hidup tanpa adiknya.


"Aku mohon..Jangan bawa adik ku-" Ucap Kanaya. Setelah itu semua gelap.


Salah satu pengawal memukul tengkuk Kanaya, membuat Kanaya tak sadar kan diri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2