
Beberapa menit berlalu, tak lama setelah itu terdengar suara mobil yang baru saja datang parkir di depan rumah. Ternyata itu adalah kak Unka,kakak sepupunya dan suami kakak sepupunya, mas Ega yang baru saja pulang kerja. Setelah itu datanglah Jekta dan Sohan, sepupunya mereka, sekarang duduk di kelas 3 SMA. Jekta dan Sohan ikut bergabung untuk bersantai di teras bersama Raido dan Zeran. Mereka juga berbagi kiko dengan yang sedang mereka nikmati dengan Raido dan Zeran. Mereka berempat pun bersantai sambil berbincang-bincang.
"Minggu depan udah ujian lagi.." Keluh nya Zeran. Raido pun melanjutkan "Perasaan baru kemaren aja kemaren masuk, dah ujian akhir semester pertama aja..". Bulan Oktober tanggal 10 ini mereka akan mengadakan ujian akhir semester pertama. Pada bulan November sekitar mendekati akhir bulan November, sekolah nya Raido akan mengadakan classmetting selama beberapa minggu ke depannya. Tak lama Jekta berkata "Kalian, trio ini, benar-benar belajar nya, nilai kalian bertiga anjlok, jangan salahin gue pokoknya". "Napa gue jadi di bawa-bawa juga?" Tanya Sohan yang tak terima. "Diam" Sahut dingin Jekta. Sohan pun hanya terdiam pasrah. Mereka bertiga paling sudah takut jika abang sepupu mereka itu atau lebih sering mereka panggil mas Jekta sudah berbicara dengan nada dingin dan datar. "Terutama lu, Zeran, waktu main lu kalo ujian dikurangi, nilai lu pernah anjlok sebelumnya" Lanjut Jekta. "Iya ya, kali ini pasti tinggi kok! Ntar pasti masuk 3 ranking besar kok! Ntar juga pasti masuk ranking umum juga!" Ucap Zeran. Jekta membalasnya dengan tersenyum tipis sebentar setelah itu disantap nya kopi yang sudah disediakan dari adik sepupu perempuan mereka berempat.
"Heheh! Semangat yang bagus, Zeran" Ujar Sohan. Zeran pun tersenyum lebar. "Oh, ya, ngomong-ngomong, si Zeran sekarang kelas berapa sih?" Tanya Sohan. "Kelas 1 SMP" Jawab Raido. Disisi lain, Zeran sedang menatap abang nya karna tak berkomentar soalnya tadi. Sang abang yang menyadari adiknya sedang menatapnya pun akhirnya berkata "Gua dukung semangat dan niat lu, tapi ingat, jangan terlalu membuat ekspetasi dan mimpi yang begitu tinggi, kalau jatuh ntar bisa sakit" Ujar Raido sambil meletakkan segelas kopinya yang baru saja selesai ia santap. Zeran menjadi banyak pikiran nya setelah mendengar perkataan yang langsung terucapkan dari abang nya sendiri. Tak lama Raido melanjutkan "Tapi jangan menyerah dulu. Kalau misalnya gak dapat, atau kalah, bisa dicoba lagi kan??".
"Selagi masih bisa mencoba, kenapa harus menyerah, iya, kan?" Lanjut lagi dari Raido. Itu pun akhirnya membuat Zeran bersemangat lagi dan tak jadi menjadi ragu dan cemas. Ia memang mengangumi sesosok abang kandung nya yang selalu memberinya semangat dan motivasi untuk mengejar impian dan mimpi nya. Utu membuat Zeran begitu menyayangi abang nya, Raido.
Tak lama setelah itu, datanglah Kak Unka yang menghampiri mereka Jekta, Sohan, Raido dan Zeran yang sedang bersantai di teras. "Ei, kalian mau ikut nonton horor gak?" Tanya Kak Unka. Mereka berempat saling tatap. "Nonton horor dimana?" Tanya Sohan. Kak Unka pun menjawab "Di Bioskop, mau?".
__ADS_1
"SEKARANG?!"
"Tentu, jadi mau atau enggak??"
Akhirnya mereka putuskan untuk ikut menonton juga. Sebelum itu...
"Hm? Kenapa?"
"Aku boleh ngajak sahabat ku? Si Refta ama adiknya?"
__ADS_1
"Boleh dong, masa enggak, justru kalo ramai nanti makin seru!"
"Ok kak! Kalau gitu ku jemput dia dulu ya!"
"Ya, Kakak bakal siap-siap dulu sama yang lain"
"Wogeh!"
Raido pun pergi menjemput Refta dan adiknya Refta, Runsa ke rumah nya mereka.
__ADS_1