
"Aku masih tidak percaya, kalau gadis keras kepala inilah yang akan ku miliki. Apa papa yakin aku dan dia bisa saling mencintai nanti?" gumam Izzan sambil menatap Zahra yang masih saja menundukkan kepalanya
Sekarang, semua keluarga Zahra dan juga papa Irfan sudah selesai membahas hal-hal mengenai perjodohan. Dan, Keluarga Zahra juga papa Irfan sudah menentukan tanggal untuk Izzan datang lagi kerumah ayah Abidzar guna melayangkan lamarannya terhadap Zahra. Tepatnya, Izzan akan melamar Zahra kurang lebih satu minggu lagi
"Haduuuhh.. bagaimana inii, nikah mudaa? ya Tuhan, Zahraa.. kenapa kamu sih yang harus dijodohkan seperti ini?" gumam Zahra dalam hati yang merasa, Fatimah lah yang seharusnya dijodohkan karena kini Fatimah sudahlah cukup matang umurnya bagi seorang wanita untuk menikah
"Apalagi aku harus bertemu dengannya setiap hari disekolah, ya ampuunn!" gumam Zahra dalam hati lagi
"Nak, Izzan.. ummi mau bilang, kalau Zahra itu tidak bisa dibentak. Meskipun dengan suara sedikit tinggi. Jadi, ummi mohon kalau Zahra melakukan kesalahan.. cukup dinasehati pelan-pelan" (Ucap ummi Marwah yang seolah-olah tau ketakutan yang dirasa oleh putrinya)
"eemm, Maaf bu. Apa boleh saya tau, apa sebab Zahra tidak bisa dibentak seperti itu?" (Tanya papa Irfan pada ummi Marwah)
"Tentu pak, jadi..." (Jawab ummi Marwah mencoba menceritakan)
***
FLASHBACK ON (Cerita dimulai)
Seorang gadis kecil tampak menunggu kedua orangtuanya untuk menjemputnya, gadis kecil itu duduk dikursi panjang depan gerbang sekolah sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya. Sudah cukup lama dia menunggu, tapi dia malah mendapati seorang wanita cantik dan berpakaian seksi seumuran ibunya yang kini ada dihadapannya
"Heii sayangg.. kamu lagi nunggu jemputan ya?" (Tanya wanita itu seraya mendudukan bokongnya dikursi)
"Hallo tante.. Iyaa, aku lagi nunggu abah dan ummi tan" (Jawab gadis kecil itu pada wanita yang bertanya pada nya)
"Zahra, sayaangg... abah dan ummi, tadi meminta tente untuk menjemputmu. Lihatlah, tante sudah disini untuk menjemputmu cantikk.. yuk pulang!" (Ucapnya pada gadis kecil itu berbohong dan langsung menggenggam tangan mungil gadis kecil itu, yang tak lain adalah Zahra)
"Tapi sejak kapan abah dan ummi punya teman seperti tante cantik ini" gumam Zahra yang masih menatap wanita cantik dan seksi dihadapannya itu, dari atas sampai bawah
"Apa yang kamu lihat sayaangg.. heemm? yuk pulang sama tante, tante tidak bisa berlama-lama disini" (Ucapnya pada Zahra yang sekarang mulai terdengar mendesak)
"Tapi tan, kata abah dan ummi.. aku harus tetap menunggu disini, walaupun abah dan ummi jemputnya telat" (Sahut Zahra dengan suara bergetar, karena dia merasa tangan mungilnya itu digenggam sangat erat)
"Ta-Tann.. bisa lepasin tangan Zahra? ini sakit banget tan" (Ucap Zahra sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman wanita itu)
"Lepaskan?! heemhh enak saja! Tadinya aku masih mengajakmu secara baik-baik. Tapi karena kamu tidak mau ikut denganku, terpaksa aku harus kasar padamu!" (Sarkas wanita itu, yang sekarang menunduk dan menyetarakan tingginya dengan tinggi Zahra)
"Dengar anak kecil! Ayahmu itu, adalah milikku! sejak dulu aku sudah mencintainya. Aku sangat mencintainya, bahkan aku rela meninggalkan dunia modelingku hanya untuk ayahmu itu. Tapi, apa yang ku dapat? haaaa?!!! ayahmu lebih memilih ibumu yang munnafik itu! Marwah si wanita yang sok suci itu. ck, ck, ck" (Lanjutnya lagi yang diakhiri dengan decakan sinis, sambil mencengkram dagu Zahra sedikit keras)
__ADS_1
Zahra yang mendengar ibunya dijelek-jelekkan pun tak terima, dia melepaskan cengkraman tangan yang ada didagunya itu. Dan dengan cepat dia menggigit tangan wanita itu, lalu Zahra berusaha lari secepat mungkin. Tapi sayang, wanita itu sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengejar Zahra. Dan ketika mereka sudah menangkap Zahra, mereka membius Zahra
Zahra kecil yang merasakan kepalanya sangat sakit pun, berusaha mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing, dia melihat sekelilingnya. Melihat kamar yang ditempatinya sekarang itu sangatlah asing, Zahra pun menangis kencang
"Huaaaa ayaahhh.. ummi... Zahra mau pulangg, Zahra takutt disini.. hikss, hikss. Zahra gamau sama tante jahat itu, tante jahat itu tadi menghina ummi dan membuat Zahra takut hikss" (Ucap Zahra yang menangis sesenggukan)
Namun, tak lama kemudian. Datanglah wanita itu bersama dua anak buahnya
"Heii anak nakal! tangisanmu itu sudah memekakan telingaku. Hentikan tangisanmu itu! atau kauu akan ku jadikan santapan makan malam untuk harimau peliharaanku, Paham!" (Ucap wanita itu pada Zahra, yang membuat Zahra terdiam dan seluruh tubuhnya gemetar)
"Abahh, ummii.. apa Zahra selama ini nakal? kalau memang iya, Zahra minta maaf. Zahra janji ga akan nakal lagi, tapi Zahra mohon... bawa Zahra pergi dari tante jahat ini" gumam Zahra dalam hati sambil menatap wanita itu dengan tatapan sangat takut
Setelah wanita itu pergi bersama kedua anak buahnya, Zahra kembali menangis. Tetapi, karena takut akan dijadikan santapan harimau peliharaan wanita itu Zahra pun memilih membekap mulutnya sendiri dengan bantal
Sedangkan disisi lain, Tampak semua keluarga Zahra menjadi sangat panik ketika orangtua Zahra mengabari bahwa mereka tidak menemukan Zahra didepan sekolah. Ayah Abidzar dan ummi Marwah hanya melihat jepit rambut anak bungsunya yang terjatuh didekat kursi tunggu depan sekolah. Dan, dengan cepat ayah Abidzar memerintahkan anak buahnya untuk membantu mencari Zahra
Hingga salah satu anak buahnya berhasil mendapatkan rekaman CCTV yang ada ditembok samping gerbang sekolah, dia langsung menunjukkan rekaman CCTV itu pada ayah Abidzar yang sedang menelfon anak buahnya yang lain untuk terus mencari Zahra
"Tuan, ini rekaman CCTV yang saya dapatkan. CCTV ini ada ditembok samping gerbang sekolah nona Zahra" (Ucap Aslan, sambil menunjukkan rekaman CCTV itu pada ayah Abidzar)
Aslan adalah orang kepercayaan ayah Abidzar. Bahkan kerap kali jika ada yang ingin mencelakakan keluarga ayah Abidzar, maka Aslan lah yang akan langsung turun tangan untuk mengurusnya dan memperketat penjagaan pada keluarga tuannya itu
"Rupanya, kau ingin main-main denganku Sherly! kalau kau berani menyentuh putriku walau hanya sehelai rambutnya saja, aku tak akan membuat hidupmu tenang!" (Ucap ayah Abidzar dengan tatapan membunuh)
Aslan yang melihat tuannya seperti itupun bergidik ngeri, karena seorang Abidzar Lesmana akan menjadi seekor singa apabila ada yang ingin mencelakakan keluarganya
"Tu-tuan, sebaiknya kita langsung lacak saja keberadaan nona Zahra. Saya takut akan terjadi apa-apa dengan nona Zahra tuan" (Ucap Aslan dengan sangat gugup)
"Kita tunggu dalam waktu lima menit ini lan, aku yakin dia akan menelfonku" (Tukas ayah Abidzar sambil menatap kasihan pada istrinya yang menangis memeluk boneka kesayangan Zahra)
Dan tidak lama, terdengar suara telepon rumah berdering. Dengan cepat, Hafidz mengangkatnya dan memberikan telepon itu pada ayahnya
"Haii Abidzar, how are you baby? i'm so missing you"
Hai Abidzar, bagaimana kabarmu sayang? aku sangat merindukanmu (Tanya wanita yang bernama Sherly itu pada Abidzar dengan nada manjanya)
"Baik, sangat baik" (Jawab Abidzar dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Dan hal itu yang membuat Sherly marah)
__ADS_1
"Aku senang mendengarnya sayangg. Oyaa, bagaimana kabar istrimu yang sok suci itu?" (Tanya Sherly lagi dengan nada mengejek)
"Dia juga baik, bahkan saat ini istriku sedang sangat bahagia karena sebentar lagi acara ulangtahun putriku akan dimulai" (Jawab Abidzar berbohong, yang membuat Sherly semakin marah dan mengepalkan tangannya lalu mematikan sambungan telfon)
Abidzar yang mendapati Sherly mematikan sambungan telfon itupun menyeringai, dan ummi Marwah yang sedaritadi hanya mendengarkan kini bertanya
"Sayang, kenapa kau tersenyum? ada apa? apa yang kau rencanakan?" (Tanya ummi Marwah dengan cepat)
"Tenanglah sayang, aku pasti akan membawa pulang putri kita. Dan aku pastikan tidak ada goresan sedikitpun pada tubuhnya" (Jawab Abidzar dengan nada yang sangat lembut)
Sedangkan ummi Marwah hanya tersenyum kecut mendengarnya
Dilain sisi, Sherly yang sangat marah kini memecahkan apapun yang ada didekatnya. Diapun menampar anak buahnya,
Plakkk!!
"Kalian bodoh! sangat bodoh! yang kalian culik itu ternyata bukan anak Abidzar dan Marwah. Sekarang, ayoo cepat buang anak itu kejalanan dan kalian cari lagi informasi tentang putri bungsu Abidzar itu. Aku yakin, kelemahan Abidzar adalah putri bungsunya dan putrinya itu akan aku jadikan alat untuk mendapatkan Abidzar kembali" (Perintah Sherly sambil berseringai licik)
"Aku juga kenapa bisa sebodoh ini sih! kenapa aku langsung membawa anak nakal itu kemensionku ini, aahh siaall! seharusnya aku pastikan dulu apakah anak nakal itu adalah anak Abidzar atau bukan" gumam Sherly dalam hati membodohi dirinya sendiri, karena berfikir kalau dia sudah salah menculik anak
Dan, kini Sherly beserta anak buahnya sudah menurunkan Zahra dipinggir jalanan yang sangat sepi. Zahra tidak bisa memberontak sedikitpun karena tangan dan kakinya diikat, mulut serta matanya pun ditutup. Didalam hatinya, Zahra menangis sejadi-jadinya saat mendengarkan percakapan Sherly dengan anak buahnya yang mengatakan bahwa mereka akan membuang Zahra dijalanan
"Haahhh.. sayang sekali, ternyata anak nakal ini bukanlah anak Abidzar. Kalau saja dia anak Abidzar, pasti akan aku sayang bukannya dibuang" (Ucap Sherly dengan berkacak pinggang)
"Ayoo! kita tinggalkan saja dia disini. Sekarang aku ingin pergi ke Bar, rasanya lidahku ini ingin sekali dimanjakan oleh wine" (Ucapnya lagi sembari melangkahkan kakinya yang kemudian disusul oleh anak buahnya)
Tapi, baru saja melangkahkan kakinya. Terdengar suara,
"Angkat tangan, Anda kami tahan atas laporan penculikan"
Sherly dan anak buahnya membalikkan tubuhnya,
"Bastard!!! tunggu pembalasanku Abizard! aku tidak akan membiarkan kau dan keluargamu hidup bahagia" (Ucap Sherly pada Abidzar, yang ternyata Abidzar telah merencanakan penangkapannya ini)
Sherly dan anak-anak buahnya pun sudah diringkus oleh pihak berwajib, sementara Zahra kecil yang sudah berada dalam pelukan ibunya tampak masih memperlihatkan wajah sendu yang sangat trauma. Tubuhnya pun bergetar, bahkan setelah penculikan dirinya Zahra menjadi takut bertemu oranglain dan juga menjadi sering menyendiri
***
__ADS_1
FLASHBACK OFF (Cerita Berakhir)