
"Uufff Izzan, aakhh" (Pekik Zahra untuk yang kesekian kalinya sembari meremas kedua sisi sprei kasurnya)
Lalu, Izzan pun menyetarakan tubuhnya dengan tubuh Zahra. Dia mulai melakukan penyatuan, hingga kamar yang mewah nan elegant itu menjadi saksi penyatuan Cinta sepasang suami istri itu. Suara-suara parau, manja, dan juga lenguhan menggema diseluruh penjuru kamar. Bahkan, suara kicauan burung-burung pun kini semakin bersahutan seakan mereka ikut bahagia dan senang karena pagi ini adalah pagi yang Indah untuk keduanya. Pagi yang Indah, untuk memulai semuanya dari nol serta untuk membangun bahtera rumahtangga yang sangat harmonis antara keduanya
☘☘☘
Tidak terasa, waktu kini menunjukkan pukul 12.00 siang. Dan tentu saja, Izzan dan juga Zahra masih tengah tertidur pulas dengan posisi saling memeluk setelah kegiatan panjang mereka sebagai suami istri
Karena merasakan nyeri yang teramat pada bagian intinya, Zahra pun mengerjapkan matanya dengan pelan. Dia menyengir kesakitan sembari berusaha bangkit untuk membersihkan tubuhnya. Perlahan, Zahra pun bangkit dan dengan langkah tertatih dia menuju kearah kamar mandi. Tapi baru saja dia mengambil beberapa langkah, tubuhnya sudah ditarik kedalam gendongan ala bridal style oleh suaminya. Hal itu tentu saja membuat Zahra kaget,
"Se-sejak kapan kamu bangun?" (Tanya Zahra menatap Izzan kebingungan)
"Sebenarnya aku sudah bangun lebih dulu tadi, tapi aku memilih tidak membangunkanmu. Karena aku tau pasti kamu sangat lelah, dan aku tadi melihatmu seperti kesakitan" (Jawab Izzan dengan nada yang lembut)
Kemudian, setelah sampai dikamar mandi Izzan langsung meletakkan tubuh Zahra dalam bathup. Sedangkan dia membersihkan tubuhnya dibawah guyuran shower dan membelakangi Zahra tentunya, karena dia tidak ingin membangunkan juniornya lagi hanya karena melihat tubuh polos istrinya
"Zan" (Panggil Zahra)
"Heemm" (Jawab Izzan singkat)
"Apa itu benar, soal wanita yang memberikan tubuhnya untukmu secara cuma-cuma?" (Tanya Zahra dengan nada yang posesif)
Mendengar perkataan Zahra itu, Izzan tampak menyerengitkan dahinya
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal hal itu? heemm?" (Ucap izzan berbalik tanya tanpa menoleh sedikit pun kearah Zahra)
"Aku hanya ingin tau saja" (Jawab Zahra bernada dingin)
"Heemm, baiklah aku jawab" (Ucap Izzan sambil berkacak pinggang)
__ADS_1
"Memang benar, mereka memberikan tubuhnya cuma-cuma untukku. Tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuh mereka, bahkan kalau mereka tidak memakai pakaian sekalipun" (Lanjut Izzan lagi yang kini sudah mendekat kearah Zahra)
"Apa kamu percaya padaku, sayang?" (Tanya Izzan sembari mengusap Puncak kepala istrinya, lalu mengecupnya dengan lembut)
"Heemm, aku percaya" (Jawab Zahra singkat, membuat Izzan heran)
"Really?" (Tanya Izzan)
"Iyaa sungguh.. aku percaya padamu" (Jawab Zahra dengan mantap sambil menatap Izzan dengan tatapan hangat)
Mendapati Zahra yang demikian itu, tentu saja membuat Izzan bahagia. Karena usahanya selama ini untuk mengambil hati dan Cinta Zahra adalah hal yang cukup sulit. Langsung saja Izzan menghujani ciuman diseluruh wajah istrinya itu, dan tanpa sadar apa yang dia lakukan itu sudah membangunkan juniornya kembali
"Cckk.. huffttt.. Siall!" (Decak Izzan kesal sambil menggaruk kepalanya dengan kasar)
"Ada apaa?" (Tanya Zahra keheranan)
"Astaga.. kenapa kamu mesum sekali sih! kamu tauuu? ini saja aku merasakan sakit yang luar biasa" (Ucap Zahra dengan jujur, yang membuat Izzan panik)
"Benarkah? dimana sayang yang sakit? cepat katakan" (Tanya Izzan sembari berhambur mengecek seluruh tubuh istrinya)
"Yang ini loh!" (Jawab Zahra bernada ketus, sambil menunjuk bagian intinya. Sementara Izzan yang melihatnya langsung tersenyum puas)
Cuppp
Mata Zahra terbelalak, karena dia mendapati kecupan dari suaminya pada bagian intinya. Dan hal itu pula yang membuat pipi chubbynya merona
"Ayo, aku bantu pakai handuk" (Ucap Izzan yang dengan sigap membantu Zahra berdiri dan melilitkan handuk ketubuh Zahra)
Lalu, Izzan menggendong kembali tubuh Zahra keluar kamar mandi. Kemudian, dengan pelan dia meletakkan tubuh Zahra diatas ranjang
__ADS_1
"Eemmppp ssstt" (Zahra meringis kesakitan sambil memegang bagian intinya)
"Apakah ini sangat sakit sayang?" (Tanya Izzan dengan nada khawatirnya)
Zahra hanya mengangguk pelan. Sementara Izzan langsung berjalan kearah nakas besar yang ada diujung kamar,
"Sepertinya kemarin aku beli salep, dimana yaa" gumam Izzan dalam hati sembari terus mencari obat salep untuk istrinya. Dan setelah mendapat apa yang dia cari, Izzan segera berjalan cepat kearah Zahra
Lalu, dia meminta Zahra untuk membuka lebar kedua pahanya karena dia ingin melihat luka pada bagian inti Zahra itu
"Buka pahamu sayang, aku ingin lihat seberapa parahnya lukamu itu" (Titah Izzan yang langsung saja membuat Zahra merona malu)
"Heeyy.. sekarang, kamu itu adalah istriku sayang. Lagipula, aku sudah melihat keseluruhan tubuhmu kan? heemm? jadi ayoo aku ingin lihat lukanya" (Titah Izzan lagi, membuat Zahra mau tidak mau menurutinya)
"Huuastagaa!! i-ini ke-kenapa bisa bengkak begini sih" (Pekik Izzan keheranan ketika melihat luka pada bagian inti Zahra)
"Salahkan saja rudal pukguksong mu itu, kenapa bisa begitu besar dan panjang!" (Sahut Zahra dengan ketus sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada)
"Puuffftt.. Bhahahahaha, apa katamu? rudal pukguksong? Hahahaha, sayangg... sayaangg. Tapi kamu suka kan? heemm?" (Izzan tertawa lepas karena ucapan Zahra, dan dilanjutnya menggoda sang istri sambil menaik turunkan kedua alisnya)
"Isshh, dasar mesumm!" (Sarkas Zahra yang membuat Izzan kembali menggodanya)
"Memang benar sihh aku mesumm.. tapi aku mesumnya hanya dengan istriku ini saja" (Ucap Izzan jujur sambari menoel pipi Zahra, yang membuat Zahra kembali merona)
"Sudah sudah. Kalau kita begini teruuss, kapan kita pulang kerumah? ayoo siap-siap" (Ucap Zahra mengingatkan)
"Baiklah, baiklah.. oyaa kerumah abah saja dulu ya sayang. Soalnya aku rindu keponakan-keponakanku yang nakal itu" (Ucap Izzan sembari tersenyum kecil mengingat betapa menggemaskannya keponakan-keponakan istrinya itu)
Zahra yang mendengar ajakan Izzan untuk lebih dulu pulang kerumahnya pun tersenyum, dia juga sudah merindukan keluarganya dan keponakan-kepokannnya
__ADS_1